Tak Sekadar Memberi Ikan

>>Tak Sekadar Memberi Ikan

Tak Sekadar Memberi Ikan

By |2018-02-23T10:57:12+00:00February 23rd, 2018|Articles|0 Comments

Oleh Jalal

Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

Di antara para pemikir raksasa di bidang bisnis sosial, Bill Drayton adalah salah satu yang paling menonjol. Ia adalah pendiri Ashoka, organisasi yang mungkin paling banyak jasanya dalam memerkenalkan ide bisnis sosial kepada dunia. Dalam hal ini, jasanya bisa disejajarkan dengan Muhammad Yunus, sang pendiri Grameen Bank.

Drayton pernah menyatakan bahwa para pebisnis sosial itu tak akan berhenti di sekadar memberi ikan atau mengajari mengail ikan, melainkan akan berusaha tak kenal lelah sampai seluruh industri perikanan berubah. Ini tentu saja adalah perumpamaan yang melanjutkan diskusi pemberdayaan masyarakat yang tadinya terkenal dengan pernyataan “Jangan berikan ikan, tapi berikanlah pancing.”

Perumpamaan pemberdayaan masyarakat yang kami kutip terakhir itu dahulu mungkin dipandang cukup. Apabila kita memberi ‘ikan’ kepada masyarakat, tentu masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya sementara. Kalau kita berikan ‘kail’ maka masyarakat diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya dalam jangka panjang. Tentu saja, ada kebenaran dalam pernyataan itu. Tapi bukan seluruh kebenaran.

Dalam puluhan tahun sejarah pemberdayaan masyarakat, kita tahu bahwa ‘ikan’ diberikan lewat donasi. Demikian pula ‘kail’. Tetapi apakah mereka yang diberi ‘kail’ secara otomatis bakal sejahtera? Tidak. Banyak sekali kasus yang mengajarkan bahwa ‘kail’ bisa tak bermanfaat sama sekali ketika mereka tak punya keterampilan untuk memanfaatkannya. Kita kerap menyaksikan alat produksi teronggok begitu saja setelah diberikan. Atau, dijual untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

Oleh karenanya, Drayton kemudian maju selangkah dengan menyatakan pentingnya mengajari ‘mengail ikan’. Peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat sangatlah dibutuhkan di dalam pemberdayaan masyarakat. Masyarakat akan sangat terbantu apabila mereka memang bisa memanfaatkan alat produksi dengan teknik-teknik yang tepat. Jadi, peningkatan kapasitas—bukan sekadar donasi—juga adalah hal yang tak kalah penting.

Bayangkan sekelompok kecil nelayan yang sudah memiliki kail serta perahu yang baik, plus keterampilan memancing yang mumpuni kemudian harus berhadapan dengan pengusaha perikanan yang besar, dengan armada yang bertonase raksasa dan alat tangkap yang mengambil semua ikan yang ada di tempat-tempat para nelayan itu. Apakah mungkin nelayan itu bisa menjadi sejahtera? Tidak.

Menyadari persoalan ini, maka pemberdayaan masyarakat juga kerap harus melakukan tindakan yang lebih jauh. Advokasi dan penegakan kebijakan perlindungan atas kelompok-kelompok rentan (vulnerable groups) yang dibantu harus juga dilakukan. Mereka tak bisa dibiarkan berbenturan dengan kekuatan-kekuatan besar yang merugikan mereka. Selain itu, upaya untuk menjinakkan kekuatan-kekuatan besar itu perlu dilakukan. Lebih jauh lagi ide-ide seperti creating shared value serta inclusive business yang membuat hubungan mutualistik antara masyarakat dengan perusahaan besar harus makin dominan.

Transformasi untuk membuat bisnis menjadi menguntungkan masyarakat, terutama kelompok-kelompok rentan itu, itulah yang dimaksudkan oleh Drayton. Dan Drayton tidak sekadar bicara soal satu demi satu perusahaan, melainkan seluruh perusahaan yang ada di dunia ini perlu diubah hingga mereka bisa membawa dampak positif peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Ini adalah ambisi dari bisnis sosial. Mereka tak sekadar menyelesaikan masalah lewat bisnisnya, melainkan juga memberi contoh bagaimana bisnis seharusnya dilakukan, dan mendorong perubahan seluruh dunia bisnis.

Di Indonesia, sudah ada beberapa perusahaan komersial yang mulai memikirkan bagaimana mereka bisa mendukung bisnis sosial. Beberapa minggu lampau, kami melihat kerjasama PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP), perusahaan migas dari Thailand, dengan Dompet Dhuafa untuk menginisiasi bisnis sosial di Sulawesi Barat.

Di tingkat regional, DBS, bank asal Singapura, lewat kerjasama dengan National University of Singapore, malahan sudah bertahun-tahun mendukung lebih dari 100 bisnis sosial di seluruh Asia, termasuk Indonesia. Kalau semakin banyak perusahaan komersial melakukan apa yang mereka lakukan, seharusnya dalam kurun waktu relatif dekat kita bisa menyaksikan transformasi ‘industri perikanan’ sebagaimana yang dicita-citakan Drayton.

Tulisan ini ditulis bersama dengan Zainal Abidin, dan telah terbit di harian KONTAN pada tangga 22 Februari 2018.

About the Author:

Social Investment Indonesia (SII) merupakan perusahaan konsultan yang mempunyai dedikasi untuk mengembangkan dan menyebarkan peran penting & strategis serta manfaat investasi sosial, baik bagi perusahaan maupun pemangku kepentingannya. Melalui pendekatan yang kami miliki dan telah teruji secara empiris, kami memiliki keyakinan bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan pemangku kepentingannya

Leave a Reply

%d bloggers like this: