Memetakan Perusahaan Sosial

>>Memetakan Perusahaan Sosial

Memetakan Perusahaan Sosial

By |2018-04-22T13:33:38+00:00April 22nd, 2018|Articles|0 Comments

Oleh Jalal dan Wahyu Aris Darmono
Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia dan
Komisaris – Perusahaan Sosial WISESA

Dalam berbagai acara terkait dengan gerakan perusahaan sosial di Indonesia, kami kerap mendapatkan pertanyaan tentang penelitian apa yang penting dilakukan agar Indonesia kondisi mutakhir bisnis sosial, perusahaan sosial, dan kewirausahaan sosial bisa diketahui dengan gamblang. Kami berkeyakinan bahwa agenda penelitian sebagaimana yang dilakukan oleh projek International Comparative Social Enterprise Models (ICSEM) perlu dilakukan di Indonesia, dan bisa menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut.

Social Enterprise Journal, publikasi berkala paling terkemuka dalam bidang ini, mempublikasikan artikel karya Jacques Defourny dan Marthe Nyssens pada Vol. 13/4 2017 yang terbit akhir tahun lalu. Artikel tersebut, berjudul Mapping Social Enterprise Models: Some Evidence from the “ICSEM” Project, menjelaskan apa yang dilakukan oleh projek tersebut.

Tahap pertama penelitian itu berkonsentrasi pada kontribusi masing-masing negara yang ikut serta dalam penelitian skala global itu. Tentu saja, kalau kemudian kita hendak memetakan perkembangan di Indonesia, maka pada tahap awal yang perlu dipetakan adalah di tingkat provinsi. Kami menduga bahwa Jakarta dan sekitarnya adalah wilayah dengan densitas perusahaan sosial terbanyak. Namun, sesungguhnya di daerah juga memiliki kasus-kasus yang tidak sedikit dan tak kalah menarik. Sampai sekarang tak banyak diekspose, karena banyak di antara pelaku dan pemangku kepentingannya yang sadar bahwa yang dilakukan adalah bisnis sosial.

Ada tiga isu besar yang perlu ditangkap pada tahap ini. Pertama adalah memahami konsep-konsep dan konteksnya. Kalau di negara-negara paling maju saja konsep perusahaan sosial belum betul-betul selesai didefinisikan, tidak mengherankan kalau kita akan mendapati ragam interpretasi yang sangat banyak di Indonesia. Jelas, istilah perusahaan sosial—atau yang lebih popular malah istilah bahasa Inggrisnya, social enterprise—telah digunakan di negeri ini. Kewirausahaan sosial juga kerap terdengar. Tetapi, apakah artinya sama atau cukup dekat? Apakah ada perbedaan penafsiran di antara akademisi, pemerintah, masyarakat sipil, dan pelakunya? Bagaimana mereka menjelaskan akar-akar sosial budaya dari konsep-konsep itu?

Kedua adalah memetakan model-model perusahaan sosial. Ada banyak data yang perlu dikumpulkan untuk bisa membuat peta model perusahaan sosial yang eksis di Indonesia. Apa saja ruang aktivitas perusahaan-perusahaan sosial di berbagai provinsi? Apa misi sosial yang mereka nyatakan? Siapa saja kelompok sasaran yang menjadi penerima manfaat bisnis sosial mereka? Apa saja bentuk-bentuk dukungan dari pemerintah, swasta, dan organisasi masyarakat sipil yang mereka terima? Bagaimana model tata kelola, model bisnis, dan model operasi mereka? Siapa saja yang mereka anggap sebagai pemangku kepentingan, serta seluas apa ekosistemnya?

Di dalam projek ICSEM ada cukup banyak literatur yang bisa dirujuk untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sayangnya, untuk Indonesia literaturnya masih sangat terbatas. Dua yang bisa disebut khusus yaitu publikasi Boston Consulting Group berjudul The Art of Sustainable Giving (2015), dan terbitan AVPN bertajuk Social Investment Landscape in Asia (2017). Tetapi, keduanya memang bersifat umum di level negara, bukan provinsi.

Ketiga adalah untuk melihat trajektori kelembagaan dari model-model utama perusahaan sosial yang ditemukan. Di sini yang menjadi pertanyaan utama adalah apa saja kerangka legal yang dipergunakan oleh perusahaan sosial (perusahaan komersial, yayasan, perkumpulan, koperasi, lainnya)? Kebijakan publik serta program apa yang menjadi rujukan perusahaan sosial, mana yang bermanfaat dan mana yang menghambat? Dari mana sumber pendanaan perusahaan sosial diperoleh? Apa saja alat-alat, misalnya akreditasi, yang dipergunakan? Adakah perkumpulan perusahaan sosial dan bagaimana persyaratan keanggotaannya?

Hanya apabila pertanyaan-pertanyaan itu sudah dikumpulkan jawabannya di tingkat provinsi saja maka pengembangan teori—yang disandarkan pada fakta di lapangan—serta pencarian data tambahan, pengolahan data, serta analisis komprensif di tingkat nasional bisa dilakukan. Kami berpikir bahwa sudah saatnya pemetaan perusahaan sosial di Indonesia perlu dilakukan. Apa yang sudah kami tuliskan di kolom dua mingguan ini sejak tahun 2015 sesungguhnya menunjukkan perkembangan pesat dari bisnis sosial di Indonesia. Sungguh sayang kalau kita tak melakukan kajian komprehensif atasnya.

Tulisan ini, Dimuat juga di Koran Kontan pada tanggal 19 April 2018, atau dapat diakses di:

https://epaper.kontan.co.id/news/525375/Memetakan-Perusahaan-Sosial#

About the Author:

Social Investment Indonesia (SII) merupakan perusahaan konsultan yang mempunyai dedikasi untuk mengembangkan dan menyebarkan peran penting & strategis serta manfaat investasi sosial, baik bagi perusahaan maupun pemangku kepentingannya. Melalui pendekatan yang kami miliki dan telah teruji secara empiris, kami memiliki keyakinan bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan pemangku kepentingannya

Leave a Reply

Join Our Newsletter Today On The Writers Social Investment

Stay updated with all latest updates,upcoming events & much more.
Subscribe
SUBSCRIBE NOW
close-link
%d bloggers like this: