Agar Bisnis Sosial Tak Tersesat

>>Agar Bisnis Sosial Tak Tersesat

Agar Bisnis Sosial Tak Tersesat

By |2018-09-07T14:31:55+00:00July 26th, 2018|Articles|0 Comments

Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

 

Alan Kay adalah pendiri dari Social Audit Network, sebuah lembaga terkemuka di dalam pengukuran kinerja sosial yang berbasis di Inggris. Dia baru saja pensiun dari jabatannya di organisasi yang dia bidani itu. Lalu, dia menuliskan refleksinya yang bertajuk Reflections On Social Enterprise: Has it Lost its Way? Tulisan yang terbit di Probono Australia edisi 4 Juli 2018 itu langsung menarik banyak perhatian.

Tentu saja apa yang dinyatakan oleh Kay itu membetot kesadaran banyak orang, lantaran selama 30 tahun terakhir dunia filantropi, pengukuran kinerja sosial, dan bisnis sosial banyak sekali berhutang kepada dia. Kalau dia bertanya, “Has it lost its way?” tentang bisnis sosial, tentu banyak yang khawatir.

Apa yang dia tuliskan sesungguhnya adalah kekhawatiran yang sangat masuk akal. Kay melihat bahwa banyak perusahaan sosial yang mungkin tersesat, tak lagi berjalan sesuai dengan arah yang diinginkan dan disepakati oleh para pendiri gerakan ini. Dia tak bilang bahwa bisnis sosial kini telah tersesat, melainkan menjelaskan apa saja hal-hal yang membuatnya khawatir.

Pertama, soal kejelasan definisi. Walaupun telah banyak upaya untuk menjelaskan bisnis sosial dan membedakannya dengan bisnis komersial dan sektor lainnya, tetapi definisi yang benar-benar diterima secara universal belum lagi disepakati hingga sekarang. Apa dampaknya? Ada dua yang tak baik, menurut Kay.

Di satu sisi banyak perusahaan komersial yang sekarang mengaku sebagai bisnis sosial, terutama untuk tujuan pemasaran. Konsumen yang jatuh hati pada bisnis sosial kemudian melakukan preferensi pembelian ke perusahaan-perusahaan seperti itu. Padahal sebagian besar atau seluruh keuntungannya masuk ke kantung investor, bukan direinvestasikan untuk memecahkan masalah-masalah ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihadapi masyarakat. Di sisi lain, kini ada tekanan agar organisasi karitatif untuk selalu menghasilkan keuntungan, yang sesungguhnya tidak sesuai dengan cara beroperasi yang direncanakannya.

Kedua, bisnis sosial kini semakin banyak melayani kepentingan individu, bukan lagi kelompok masyarakat. Yang Kay amati, sekarang definisi penerima manfaat dari bisnis sosial sudah sangat individualistik, sehingga bisnis sosial turut menghilangkan keguyuban di masyarakat. Masyarakat yang menjadi atomistik lantaran Kapitalisme malahan didorong untuk terus terpecah, berkurang kolektivitasnya, lantaran perusahaan-perusahaan sosial juga tak memertahankan cara beroperasi yang menguatkan kolektivitas.

Kalau dahulu, misalnya, kredit mikro diberikan secara tanggung renteng agar kekompakan masyarakat terus tumbuh, sekarang banyak perusahaan sosial yang tak lagi melihat hal tersebut penting, sehingga memberikannya langsung kepada individu atau rumah tangga. Mutualitas, kerja resiprokal, dan saling menjaga di antara kelompok-kelompok rentan memang belum benar-benar habis, namun perusahaan sosial sekalipun kurang melihatnya sebagai hal yang penting.

Ketiga, bisnis sosial berada dalam bahaya kehilangan tujuannya. Ada beberapa hal yang membuat Kay mengkhawatirkan hal ini. Dia melihat bahwa lantaran kuatnya pendekatan Neoliberalisme, bisnis sosial juga kerap diharapkan melakukan apropriasi. Yang paling jelas adalah anggapan bahwa ukuran yang besar dianggap sebagai kebaikan dan pertanda efisiensi. Padahal, banyak kasus yang menunjukkan bahwa berbagai masalah lokal jauh lebih baik diselesaikan oleh organisasi-organisasi kecil.

Penekanan yang berlebihan kepada manajemen juga kerap menimbukan masalah. Memang ada banyak manfaat dari manajemen yang baik, namun itu bisa mengalihkan perhatian terhadap tujuan menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat. Perubahan sosial positif kerap menjadi perhatian sekunder dibandingkan ketertiban manajemen. Yang terakhir, Kay juga melihat bahwa penekanan pada teknologi inovatif, padahal ketepatgunaan itu lebih penting. Kalau jenis teknologi mendikte perusahaan sosial, sangat mungkin konsentrasi pada tujuan bisa terpecah.

Di Indonesia, di mana bisnis sosial adalah fenomena yang relatif baru, berbagai hal di atas juga sudah tampak. Ada baiknya kalau kekhawatiran Kay itu disimak dengan serius, lalu jalan keluarnya segera ditemukan oleh para pegiat bisnis sosial di Tanah Air.

About the Author:

Social Investment Indonesia (SII) merupakan perusahaan konsultan yang mempunyai dedikasi untuk mengembangkan dan menyebarkan peran penting & strategis serta manfaat investasi sosial, baik bagi perusahaan maupun pemangku kepentingannya. Melalui pendekatan yang kami miliki dan telah teruji secara empiris, kami memiliki keyakinan bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan pemangku kepentingannya

Leave a Reply

Join Our Newsletter Today On The Writers Social Investment

Stay updated with all latest updates,upcoming events & much more.
Subscribe
SUBSCRIBE NOW
close-link
%d bloggers like this: