>>Kontribusi Lingkungan Terus Memburuk

Kontribusi Lingkungan Terus Memburuk

By |2019-01-23T18:07:47+07:00January 25th, 2019|Articles|0 Comments

Keanekaragaman hayati dan kontribusi lingkungan terhadap kesejahteraan umat manusia terus merosot pada level yang berbahaya. Tak ada jalan lain selain kembali meneguhkan komitmen untuk melindungi dan memulihkan lingkungan.

Ancaman serius ini tercantum dalam empat laporan yang disetujui oleh Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), yang beranggotakan 129 negara, dalam sidangnya di Medellín, Kolombia, baru-baru ini.

Empat laporan yang disetujui oleh IPBES ini disusun oleh 550 ahli dan lebih dari 100 negara. Tim penyusun menyimpulkan dalam laporannya, merosotnya kontribusi alam terhadap kesejahteraan umat manusia mengancam kesejahteraan masyarakat, mata pencaharian, keamanan pangan dan kualitas hidup penduduk di seluruh penjuru dunia.

Laporan yang disusun selama tiga tahun ini menganalisis situasi di benua Amerika, Asia dan Pasifik, Afrika, Eropa dan Asia Tengah, terkecuali di wilayah kutub dan wilayah samudera.

Khusus untuk wilayah Asia Pasifik, keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang dilaporkan mencapai 7,6% dalam periode 1990 hingga 2010, menyumbang kesejahteraan bagi lebih dari 4,5 miliar jiwa yang ada di wilayah ini.

Namun pertumbuhan ekonomi tinggi juga berdampak pada menurunnya kondisi keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan. “Keanekaragaman hayati di wilayah ini terus terancam oleh intensifikasi pertanian, sampah, polusi, cuaca ekstrem dan kenaikan air laut,” ujar Dr. Madhav Karki (Nepal) dan Dr. Sonali Senaratna Sellamuttu (Sri Lanka) yang memimpin pertemuan IPBES.

Walau kondisi keanekaragaman hayati secara keseluruhan menurun, laporan IPBES juga mencatat sejumlah keberhasilan diantaranya adalah meningkatnya luas kawasan konservasi. Dalam 25 tahun terakhir, luas wilayah konservasi laut di Asia Pasifik meningkat hingga 14% sementara wilayah konservasi darat naik 0,3%. Tutupan hutan naik 2,5%, dengan kenaikan tertinggi terjadi di wilayah Asia Timur Laut (22,9%) dan Asia Selatan (5,8%).

Kondisi terumbu karang – yang memiliki fungsi penting secara ekologi, budaya dan ekonomi – terus menurun terutama di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Laporan ini memperkirakan, lebih dari 90% terumbu karang akan menderita kerusakan parah pada 2050, bahkan dalam skenario perubahan iklim yang konservatif.

Wilayah hutan, pegunungan, sumber air tawar, lahan basah dan wilayah pesisir adalah ekosistem yang paling rentan kerusakan di Asia-Pasifik. Selain masalah polusi, limbah atau sampah yang tak terkendali, munculnya spesies asing invasif juga memicu perubahan ekosistem dan kerusakan keanekaragaman hayati.

Semua kondisi di atas menurut laporan IPBES mengacaukan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs).

“Pencapaian Target Pembangunan Berkelanjutan, Rencana Strategis Keanekaragaman Hayati 2011-2020, Target Keanekaragaman Hayati Aichi, dan Kesepakatan Paris/Perjanjian Paris semua bergantung pada kesehatan dan vitalitas alam kita dengan semua keragaman dan kompleksitasnya,” ujar Dr. Anne Larigauderie, Sekretaris Eksekutif IPBES, “Upaya melindungi dan mempromosikan keanekaragaman hayati sama pentingnya dengan upaya mencapai target-target tersebut.”

Yang tidak boleh dilupakan, ekosistem yang lestari dan kaya juga mampu melindungi masyarakat dari bencana dan cuaca ekstrem. “Alam bagaikan ‘asuransi’ bagi dunia yang melindungi masyarakat terhadap bencana yang tidak bisa ditebak. Gunakan alam secara berkelanjutan, mereka akan memberikan solusi terhadap masalah-masalah besar umat manusia,” ujar Dr. Anne. Sudahkah kini terbuka pemikiran Anda?

 

Sumber: https://www.hijauku.com/2019/01/11/keanekaragaman-hayati-dan-kontribusi-lingkungan-terus-merosot/

About the Author:

Social Investment Indonesia (SII) merupakan perusahaan konsultan yang mempunyai dedikasi untuk mengembangkan dan menyebarkan peran penting & strategis serta manfaat investasi sosial, baik bagi perusahaan maupun pemangku kepentingannya. Melalui pendekatan yang kami miliki dan telah teruji secara empiris, kami memiliki keyakinan bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan pemangku kepentingannya

Leave a Reply

%d bloggers like this: