Oleh:
Wahyu Aris Darmono dan Jalal

Istilah investasi sosial kini makin kerap ditemukan. Perusahaan-perusahaan progresif mungkin yang paling banyak membicarakannya sebagai paradigma dalam melakukan pengembangan masyarakat. Kalau pengembangan masyarakat berarti upaya sistematis untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian kelompok masyarakat rentan; investasi sosial adalah paradigma bahwa dalam melakukan pengembangan masyarakat, perusahaan haruslah melakukannya sebagai investasi, bukan sebagai donasi.

Sebagai investasi, tentu saja, harus diupayakan keuntungan bagi investornya, yaitu perusahaan yang melakukan pengembangan masyarakat. Investe, atau sasaran investasi, tentu saja harus mendapatkan keuntungan berupa peningkatan kesejahteraan dan kemandirian itu. Sementara, keuntungan buat investornya bisa berupa keuntungan operasional, reputasional, dan finansial.

Keuntungan operasional paling jelas adalah dukungan masyarakat bagi operasi perusahaan, atau yang biasa dikenal sebagai social license to operate. Keuntungan reputasionalnya adalah dikenal sebagai perusahaan yang memiliki perilaku, kinerja, dan komunikasi yang baik. Keuntungan finansialnya bisa berupa keuntungan dari perdagangan produk dan peningkatan nilai saham.

Untuk keperluan itu, paradigma investasi sosial menekankan perlunya pengukuran dampak sebagai pembuktian bahwa memang benar baik investor maupun investe mendapatkan keuntungan sebagaimana yang direncanakan. Lantaran bisa menjawab kebutuhan ini dengan sangat memuaskan, maka analisis social return on investment (SROI) menjadi sangat menonjol.

Sama dengan ROI yang sudah jauh lebih lama eksis, SROI juga memberikan gambaran tentang berapa return dari setiap rupiah atau dolar yang diinvestasikan di dalam pengembangan masyarakat. Mereka yang mendapatkan manfaat langsung dan tidak langsung, direncanakan maupun tidak, dari pengembangan masyarakat diminta untuk menilai manfaat yang mereka rasakan, dan manfaat tersebut dimonetisasi untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang berapa besar perkembangan nilai investasi tersebut dalam kurun waktu tertentu.

Kalau di satu sisi perhitungan atas seluruh manfaat sangat penting untuk dilakukan agar bisa benar-benar mengungkapkan gambaran yang komprehensif, di sisi lain sangat penting untuk menghindari klaim yang berlebihan. Oleh karena itu, SROI menekankan soal hanya menghitung manfaat yang material buat para pemangku kepentingan, dan memerkirakan deadweight atau proporsi hasil yang sebetulnya mungkin saja terwujud tanpa intervensi projek pengembangan masyarakat itu.

Walau secara metodologis masih luas ruang perbaikannya, SROI kini benar-benar menjadi alat ukur dampak yang paling popular dan sangat disukai perusahaan. Tentu saja, dengan sifatnya yang kuantitatif bahkan moneter, perusahaan mudah memahaminya. Dan karena itu pula popularitas SROI tidak terbatas pada penggunaannya dalam mengevaluasi dampak pengembangan masyarakat oleh perusahaan.

Banyak di antara perusahaan sosial kini menggunakan SROI untuk merencanakan bisnisnya, terutama untuk menguji model bisnis sosial mana yang paling mendatangkan manfaat bagi kelompok sasaran, pemangku kepentingan lain, serta perusahaan sendiri. Dengan begitu, SROI yang tadinya dominan sifat evaluatifnya, kemudian juga menjadi projektif. Kalau bisnis sosial bisanya memasukkan projeksi SROI di dalam rencana bisnisnya untuk disajikan kepada para impact investor—yaitu investor yang tidak sekadar mencari keuntungan, melainkan juga ingin memastikan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan yang positif dari investasinya—bisnis komersial memanfaatkan sifat projektif SROI untuk menimbang pilihan projek-projek pengembangan masyarakatnya.

Perkembangan mutakhir pemanfaatan SROI memang sudah mencapai sektor finansial. Para investor yang sadar atas keberlanjutan yang selama ini menimbang faktor-faktor environment, social and governance (ESG), yang membeli di pasar saham yang menerapkan socially responsible investment (SRI), menjadi sangat terbantu dengan SROI. Dengan semakin kencangnya perubahan menuju keuangan berkelanjutan, sangatlah jelas bahwa SROI akan menjadi pendekatan yang makin popular di masa mendatang.

Di Indonesia, sudah cukup banyak perusahaan yang memanfaatkan SROI untuk menilai dampak pengembangan masyarakat atau projek tanggung jawab sosial lainnya. Diprojeksikan penggunaan ini akan semakin meluas di kalangan perusahaan. Yang juga perlu diupayakan dengan sungguh-sungguh adalah penggunaannya oleh perusahaan-perusahaan sosial dan para investor di Tanah Air.

Artkel ini diterbitkan di Kontan hari ini

Agenda pelatihan SROI terdekat:

https://socialinvestment.id/events/social-return-on-investment-sroi-training-batch7/