Oleh : Agung ComDev
(Senior Consultant Social Investment Indonesia)

Sahabat CSR, cinta sejati bukanlah soal kata-kata tetapi bagaimana dengan sungguh-sungguh mengerti dan memahami pihak yang dicintainya.
“Mengerti” bermakna mengetahui apa yang terjadi, apa kelebihannya, apa masalahnya dan apa kebutuhannya.
Untuk mengerti maka harus banyak mendengar bukan berbicara, banyak bertanya bukan menjust. Seni mendengar begitu penting agar penggalian fakta benar-benar mendalam.
“Memahami” adalah bentuk lanjutan dari mengerti. Ini berkenaan dengan basis sikap yang akan diambil. Dalam hal memahami maka ada yang disebut pendekatan menang – menang (win win solution). Dan disinilah empati menjadi basis sikap yang dikedepankan.
Sahabat CSR, dalam konteks CSR maka pemetaan sosial (social mapping) yang dilakukan dengan profesional adalah wujud awal cinta sejati perusahaan pada masyarakat dan wilayah terdampak.
Profesional menurut saya adalah suatu pekerjaan : (1) dilakukan dengan basis keahlian dan kemampuan, (2) dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan etos kerja yang tinggi, (3) prosesnya dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.
Pemetaan sosial yang profesional diharapkan perusahaan akan dapat “mengerti” dan “memahami” masayarakat dan wilayah terdampak.
Untuk mengerti setidaknya dalam pemetaan sosial harus mendalami : (1) Isu strategis yang berkembang di masyarakat terkait keberadaan perusahan, (2) Para pemangku kepentingan di masyarakat baik terkait hubungan antar mereka maupun sikap dan kepentingan mereka, (3) Permasalahan dan kebutuhan masyarakat, (4) Potensi atau aset yang dimiliki masyarakat baik aset alam, aset finansial, aset sosial, aset kelembagaan, aset manusia dan aset fisik, (5) Aspek kerentanan dan kelompok rentan di masyarakat.
Dari 5 tahap “mengerti” di atas maka dilanjutkan dengan tahap “memahami’. Bagi pecinta sejati maka memahami adalah sebuah seni untuk berempati.
Empati suatu perusahaan pada masyarakat terdampak adalah menganalisa dengan mendalam 5 bahan dasar “mengerti” di atas dalam sebuah analisa mendalam dengan memperhatikan semua faktor.
Salah satu pisau analisis yang dapat digunakan dan cukup tajam adalah Sustainable Livelihood Approach (SLA).
Keunggulan SLA dibanding pisau analisis yang lain adalah pada aspek penggabungan antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Disamping juga memiliki tingkat adaptasi yang cukup baik.
Tahap mengerti dan memahami dalam social mapping ini adalah bekal penting dalam perencanaan program CSR.
Suatu bekal menuju cinta sejati yang sesungguhnya sehingga perusahaan betul-betul dapat mesra dan romantis dengan masyarakat. Romantis bukan dalam polesan citra tetapi sesungguhnya berada pada harmoni cinta karena dampak positif yang tercipta.

Semoga bermanfaat