Jalal
Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

Baberapa hari yang lalu, saya, karena sebuah keperluan, penasaran betul dengan satu bagan yang sangat bermanfaat untuk menganalisa pemangku kepentingan: Power-Interest Grid.  Saking popularnya bagan ini, selama lebih dari sepuluh tahun memanfaatkannya saya bahkan tak pernah memikirkan dari mana asalnya.

Karenanya saya kemudian mencari tahu apa sumber publikasi ilmiah yang dirujuk kalau kita mau menggunakannya.  Pencarian itu membuahkan hasil yang tak saya sangka-sangka.  Saya pikir dalam waktu beberapa menit akan selesai, namun ternyata tak semudah yang dibayangkan.  Tahu apa yang saya peroleh?

Saya menemuka bahwa orang yang terus-menerus dirujuk sebagai sumber ide Power-Interest Grid adalah Aubrey Mendelow.  Tak begitu sering terdengar di dalam pembicaraan tentang teori pemangku kepentingan?  Mungkin lantaran sebagian besar tulisannya, atau minat ilmiahnya, memang terkait dengan sistem informasi.  Dan, terakhir saya temukan tulisannya di tahun 1993.

Saya kemudian menemukan bahwa Mendelow menulis tentang pemangku kepentingan tanpa mendefinisikannya dengan jelas, tapi memberikan petunjuk sangat menarik soal apa yang dia pikirkan.  “…Societal outputs desired from the organization can only be those sectors of society who come into contact with it.”  Jadi, berbeda dengan kebanyakan tulisan tentang pemangku kepentingan yang biasa saya baca, dia melihat dari sudut pandang pemangku kepentingan, bukan dari sudut pandang organisasinya.

Sukses atau tidaknya sebuah organisasi, menurut Mendelow, karenanya akan ditentukan oleh apa yang dirasakan dan dikatakan oleh para pemangku kepentingan itu terhadap organisasi tersebut.  “Stakeholders are thus the claimants or organizational effectiveness—it is they who are the judges of organizational effectiveness.”

Dia menyatakan hal itu di artikel yang berjudul Setting Corporate Goals and Measuring Organizational Effectiveness—A Practical Approach yang terbit di jurnal terkemuka, Long Range Planning, Vol. 16 No. 1, 1983.

What? Tahun 1983?  Berarti satu tahun sebelum buku Edward Freeman yang mengguncang dunia itu?”  Begitulah apa yang ada di benak saya pertama kali.  Saya tahu bahwa istilah pemangku kepentingan itu sudah ada jauh sebelum Freeman membukukannya, namun saya tak menyangka bahwa ada orang lain yang mendahului Freeman memasukkannya ke dalam konsep manajemen.  Mendelow merumuskan tentang posisi penting pemangku kepentingan terhadap perusahaan, tetapi dari sudut pandang pemangku kepentingan.

Walaupun beberapa tulisan merujuk pada Mendelow (1983) sebagai sumber Power-Interest Grid, alias artikel tersebut, pada kenyataannya tak ada grid yang sangat popular itu di artikel tersebut.  Lebih tepat lagi: tak ada bagan apapun di artikel itu.  Selain tulisan dalam bebtuk paragraf, yang ada hanya 3 daftar.

“Jadi di mana itu Power-Interest Grid dong?” Begitu yang saya pikirkan. Banyak juga artikel yang mengutip Mendelow (1991).  Judul artikelnya, Environmental Scanning—The Impact of the Stakeholder Concept.  Saya bersikeras untuk mencari artikel dengan judul dan tahun tersebut, tapi tak juga menemukanya.

Kalau kita cari makalah hanya dengan judul tersebut, dengan mengabaikan tahun terbit yang dikutip banyak orang, yang akan ditemukan adalah tulisan Mendelow di tahun 1981!  Itu adalah makalah ilmiah yang jadi bagian International Conference on Information Systems (ICIS) 1981 Proceedings.  Tepatnya makalah nomor 20 di prosiding itu.

Saya menemukan makalah itu dan bisa mengaksesnya.  Lalu, adakah grid legendaris itu?  Tidak juga.  “Lah? Koq nggak ada juga?”  Begitu pikir saya lagi.  Tetapi di makalah itu ada 1 bagan dan 2 matriks—kemajuan dibandingkan makalah tahun 1983 itu.  Matriks yang dia bikin di situ namanya Power Dynamism MatrixPower-nya dibagi menjadi lemah dan kuat, dan Dynamism-nya jadi statis dan dinamis (lihat Gambar 1).

Gambar 1. Power Dynamism Matrix (Mendelow, 1981)

Uedan bener!” Begitu saya terlonjak menyadari pentingnya, dan sangat majunya pemikiran Mendelow ketika itu.  Sampai sekarang kebanyakan perusahaan, bahkan standar yang diciptakan untuk memetakan, menganggap pemangku kepentingan itu relatif statis, tetapi Mandelow malah bikin matriks yang mungkin jadi dasar dynamic stakeholding.

Dalam satu kuartal belakangan ini, ada 2 organisasi yang sedang sangat getol mengungkapkan perlunya perusahaan mengadopsi dynamic materiality.  Kalau materialitas isu itu dinamis, berarti pemangku kepentingan perusahaan gonta-ganti kan? Ada pemangku kepentingan yang tiba-tiba menjadi relevan, dan ada pula pemangku kepentingan yang kehilangan relevansinya di mata perusahaan.  Apakah itu yang dimaksud dengan dynamic stakeholding?

Tampaknya tidak cuma begitu.  Bagaimanapun pemangku kepentingan itu juga punya kemandirian pada dirinya sendiri, sehingga dinamikanya di mata perusahaan tak selalu terkait dengan dinamika materialitas.  Apalagi, Mendelow menuliskannya dari sudut pandang pemangku kepentingan.

Mendelow bilang dinamika pemangku kepentingan terkait dengan respons mereka atas perubahan lingkungan, di mana perusahaan hanyalah salah satu di antara penyebab perubahan itu.  Mendelow juga menekankan bahwa respons pemangku kepentingan itu harus dilihat dalam satu nexus: uncertaintycomplexitydynamism.  “Duar!” Begitu suara yang ada di kepala saya saking kagumnya. Di tahun 1981 Mandelow sudah mengumumkan kompleksitas pemangku kepentingan.

Ini jelas keren pol konsekuensinya! Bayangkan sebuah peta pemangku kepentingan yang mengakui bahwa dunia yang dihadapinya itu tak pasti, kompleks dan dinamis—yang kemudian disilangkan dengan isu yang juga memiliki sifat yang sama.  Dynamic stakeholding dan dynamic materialism.  Ini jelas jauh mewakili realitas dibandingkan peta pemangku kepentingan dan isu yang sekarang kita lihat banyak dibuat oleh (para konsultan yang membantu) perusahaan.

Saya sendiri berpikir cuma kolaborasi antara orang dan mesin Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yang dilatih untuk melakukan pengambilan dan analisis big data yang bisa melalukannya.  Agaknya bakal segera datang di masa para manajer pembinaan hubungan dengan pemangku kepentingan (stakeholder engagement manager) bakal seperti number crunchers dalam analisis yang mereka lakukan, sekaligus menjadi diplomat ulung ketika bertemu pemangku kepentingan.

“OK itu mungkin keren, tapi terus Power-Interest Grid ada di mana dong?”  Begitu teguran atas lamunan saya.  Sebuah bab dalam buku, sebuah blog, dan beberapa artikel jurnal yang saya baca bilang bahwa Mendelow (1991) itu judul makalahnya sama persis dengan apa yang dipresentasikan 10 tahun sebelumnya, tetapi kali ini diberi embel-embel Proceedings from the Second International Conference of Information System.  Itu adalah konferensi kedua, yang terpaut 10 tahun waktunya dengan yang pertama.  Konon ada di halaman 407-418.

Tetapi tentu saya harus mencantumkan ‘konon’ lantaran saya tak bisa mendapatkan makalah yang dirujuk itu.  Upaya saya mentok, tampaknya tak ada cara untuk menemukan makalah itu dan betul-betul yakin bahwa Mendelow (1991) memang sumber yang harus dirujuk.  Lalu saya menemukan satu petunjuk penting dari makalah yang ditulis Stefan Olander dan Anne Landin yang terbit di International Journal of Project Management, No 23 tahun 2005.

Makalah yang judulnya Evaluation Stakeholder Influence in the Implementation of Construction Projects itu menulis “Johnson and Scholes [10], simplified and adapted Mandelow’s [9] model and changed the axes of dynamism to instead measure interest, and thus formulated power/interest matrix….”  Akhirnya saya tahu bahwa Power-Interest Grid itu bukan bikinan Mendelow, melainkan bikinan Johnson dan Scholes yang dimuat dalam buku mereka, Exploring Corporate Strategy, yang terbit di tahun 1999.  Dan, nama yang dipergunakannya adalah Power/Interest Matrix. Begitu yang dinyatakan Olander dan Landin (2005).

Gambar 2. Power/Interest Matrix (Johnson, Scholes dan Whittington, 2008)

Tapi saya tak juga bisa memeriksa buku itu, lantaran tak memilikinya.  Saya punya edisi kedelapan buku itu, terbit tahun 2008 (dengan satu tambahan penulis: Whittington); 3 edisi lebih baru dibandingkan versi tahun 1999.  Buku itu pertama kali terbit tahun 1983. Nah, di buku edisi 2008 itu, Power/Interest Matix nongol di halaman 156, dan diakui sebagai modifikasi atas Mendelow (1991).

Demikian, akhirnya bisa ketemu juga, setelah mencarinya selama hampir satu jam.  Dengan hasil ini, kalau mau merujuk pada Power/Interest Matrix, menurut hemat saya, lebih baik menyatakannya bersumber dari Johnson and Scholes (1999), atau kalau buat saya sendiri yang tak bisa menemukan sumber pertama, mungkin lebih baik menyebutnya Johnson, Scholes, and Whittington (2008), seperti pada Gambar 2 di atas.

Tetapi di luar rasa puas karena sudah menemukan apa yang saya cari, saya benar-benar penasaran dengan warisan pemikiran brilian Mendelow (1981) itu.  Power Dynamism Matrix itu seharusnya dipergunakan lebih kerap sebagai alat analisis pemangku kepentingan, dan dikawinkan dengan dynamic materiality sebagai alat analisis isu yang sekarang sedang giat dikembangkan.  Seperti yang saya telah nyatakan, perkawinan keduanya akan bisa membuat kita paham pada dinamika (plus kompleksitas dan ketidakpastian) pemangku kepentingan dan isu-isu yang diusungnya di dunia nyata.

Kalau nanti saya sudah memiliki kesempatan melakukan petualangan intelektual untuk menggabungkan keduanya, pasti hasilnya akan saya ceritakan.  Semoga tidak terlampau lama lagi.