oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

Pada tanggal 13 September 1970, sebuah artikel yang berjudul dahsyat: The Social Responsibility of Business is to Increase Its Profits muncul di majalah The New York Times. Siapapun yang ingin membaca artikel klasik itu, dengan mudah akan menemukannya, termasuk di sini: http://umich.edu/~thecore/doc/Friedman.pdf

Pengarangnya adalah ekonom terkenal, Milton Friedman, yang 6 tahun kemudian bakal menjadi penerima Hadiah Nobel bidang ekonomi. Di artikel itu, Friedman mengingatkan bahwa memanfaatkan sumberdaya finansial perusahaan untuk kepentingan di luar kepentingan meningkatkan keuntungan bagi pemilik modal itu tidaklah bertanggung jawab sosial.

Pada versi yang lebih keras, di buku Capitalism and Freedom yang dia publikasikan di tahun 1962, dia bahkan bilang bahwa para eksekutif perusahaan itu tidak punya “…responsibility other than to make as much money for their stockholders as possible.” Ide maksimisasi keuntungan sebagai tujuan bisnis memang datang dari formulasi pemikiran Friedman ini, yang lalu diturunkan menjadi salah satu aliran tata kelola perusahaan.

Walau Friedman bilang bahwa perusahaan itu harus mematuhi hukum, dan sampai batas-batas tertentu, juga menegakkan etika bisnis, para pengikutnya agaknya kerap melupakan batas-batas itu. Seperti dalam pepatah, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” pengikut Friedman kerap hanya mengingat soal maksimisasi profit itu. Banyak eksekutif yang kemudian terperosok ke dalam pelanggaran hukum dan etika. Bahkan, memengaruhi, membeli, hingga membuat rumusan hukum yang menguntungkan mereka sendiri bukannya jarang terjadi di dunia bisnis.

Setelah lima puluh tahun, agaknya dunia (bisnis) berubah banyak. Setidaknya dalam pemikiran. Ketika saya periksa tulisan-tulisan yang khusus dibuat untuk memeringati 50 tahun artikel Friedman itu, yang bersifat apologetik sangatlah jarang. Saya tak menemukan artikel yang lebih ekstrem daripada posisi Friedman, macam teriakan Gordon Gecko. “Greed is good!” Di antara artikel-artikel yang seluruhnya menggambarkan perubahan sikap di dunia bisnis itu, saya menemukan lima artikel yang paling informatif dan membuat kita berefleksi. Saya urutkan artikel ini berdasarkan nama pengarangnya:

Mike Borruso, et al., From There to Here: 50 Years of Thinking on The Social Responsibility of Businesshttps://www.mckinsey.com/featured-insights/corporate-purpose/from-there-to-here-50-years-of-thinking-on-the-social-responsibility-of-business#

Peter Coy, Revisiting Milton Friedman’s Critique of Stakeholderismhttps://www.bloomberg.com/news/articles/2020-09-11/milton-friedman-s-attacked-stakeholder-capitalism-before-it-was-popular

Alex Edmans, What Stakeholder Capitalism Can Learn From Milton Friedmanhttps://promarket.org/2020/09/10/what-stakeholder-capitalism-can-learn-from-milton-friedman/

Colin Mayer, et al., 50 Years Later, Milton Friedman’s Shareholder Doctrine is Deadhttps://fortune.com/2020/09/13/milton-friedman-anniversary-business-purpose/

Martin Whittaker, Capitalism Needs an Upgradehttps://www.businessinsider.com/just-capital-martin-whittaker-milton-friedman-total-stakeholder-return-capitalism-2020-9?r=US&IR=T

Pemikiran Friedman memang semakin usang, tergerus zaman, tetapi pertanyaannya tentang apa itu tanggung jawab sosial perusahaan masih sangat relevan. Kalau kemudian saya ditanya, jadi apa sebetulnya tanggung jawab sosial perusahaan itu, jawaban saya, dengan mengikuti gaya Friedman dan meminjam pemikiran para raksasa keberlanjutan dan tanggung jawab sosial perusahaan yang saya ikuti pemikirannya, mungkin rumusan normatifnya begini: “The social responsibility of business is to create profits for its shareholders only through business models and practices that maintains, restores and regenerates value for its stakeholders, people at large, and the planet.”

Bagaimana menurut Anda?

 

Depok, 14 September 2020