← Seluruh

Jurnal Canting Vol. 1 No. 2 Resmi Terbit, Soroti Tata Kelola, Wakaf Produktif hingga CSV

[debug_author_post]

Daftar Isi

Jakarta — CANTING.SOCIALINVESTMENT.ID – Di tengah meningkatnya tekanan standar ESG dan tuntutan akuntabilitas publik, investasi sosial di Indonesia dinilai belum sepenuhnya bertransformasi dari pendekatan karitatif menuju strategi pembangunan yang terukur dan berbasis tata kelola. Pesan tegas ini menjadi benang merah terbitnya Jurnal Canting Volume 1 Nomor 2 Tahun 2026, yang dapat diakses melalui canting.socialinvestment.id.

Edisi terbaru jurnal investasi sosial ini mengangkat isu krusial: penguatan tata kelola, inovasi pembiayaan sosial, serta kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Tema tersebut dinilai relevan di tengah meningkatnya praktik pelaporan keberlanjutan korporasi yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan dampak sosial yang terukur.

“Investasi sosial tidak cukup dipahami sebagai aktivitas CSR atau filantropi. Ia harus diposisikan sebagai strategi pembangunan yang menuntut transparansi, manajemen risiko, model bisnis berdampak, dan integrasi standar keberlanjutan global,” ujar Dr. Ivanovich Agusta, Editor in Chief Jurnal Canting.

Dari Wakaf Produktif hingga Creating Shared Value

Salah satu artikel utama membedah tata kelola dan kepatuhan syariah dalam wakaf produktif. Kajian ini menyoroti pentingnya transparansi, penguatan regulasi, dan mitigasi risiko agar wakaf mampu menjadi instrumen ekonomi umat yang berkelanjutan, bukan sekadar simbol filantropi keagamaan.

Artikel lain menawarkan model pembiayaan konservasi berbasis agensi kultural—pendekatan yang menempatkan komunitas sebagai aktor utama dalam menjaga sumber daya alam. Pesan yang mengemuka: konservasi gagal ketika mengabaikan struktur sosial lokal.

Tak kalah penting, kajian tentang Creating Shared Value (CSV) pada sektor peternakan menunjukkan bahwa perusahaan dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak melalui kemitraan yang adil dan berkelanjutan. Model ini dipandang sebagai alternatif konkret dari praktik CSR yang bersifat jangka pendek.

Edisi ini juga memuat laporan Indonesia Social Investment Forum 2025 yang menegaskan urgensi sinergi antara negara, pasar, dan masyarakat sipil dalam membangun ekosistem investasi sosial yang kredibel dan berdampak sistemik.

Apakah ESG di Indonesia Sudah Substantif?

Terbitnya jurnal ini sekaligus menjadi refleksi kritis bagi sektor korporasi dan pembuat kebijakan. Di tengah maraknya adopsi ESG dan sustainability reporting, pertanyaan mendasar muncul:

  • Apakah praktik investasi sosial perusahaan sudah berbasis dampak (impact-based)?

  • Apakah tata kelola pembiayaan sosial sudah memenuhi prinsip akuntabilitas dan transparansi?

  • Ataukah masih berhenti pada kepatuhan administratif dan pencitraan?

Jurnal Canting menempatkan diri sebagai platform peer-reviewed dan transdisipliner yang mendorong pergeseran paradigma—dari charity-driven menjadi governance-driven dan impact-measured.

Dengan meningkatnya tuntutan global terhadap standar keberlanjutan dan pembiayaan berkelanjutan, diskursus investasi sosial di Indonesia dinilai perlu naik kelas: lebih terukur, lebih kolaboratif, dan lebih berorientasi transformasi struktural.

Jurnal Canting Volume 1 Nomor 2 Tahun 2026 dapat diakses secara terbuka melalui canting.socialinvestment.id.