Serba-serbi Idulfitri 1439 H
Jalal
Setiap kali Idulfitri datang, saya punya banyak kesan yg khas. Mungkin ketika kecil Idulfitri itu urusannya hanyalah pakaian baru dan perlombaan mengumpulkan ‘duit Lebaran’ dari para kerabat. Untuk yang terakhir ini, rasanya bangga pol bila bisa menjadi pengumpul uang terbanyak.
Setelah masa-masa itu lewat, Idulfitri (ternyata) punya banyak kesan yang menonjol untuk direnungi setiap kali ia datang. Tahun ini, yang terpikir pertama kali adalah Idulfitri pertama tanpa kedua orangtua. Ibu saya berpulang lebih dari dua tahun silam, dan ayah saya meninggal beberapa bulan lalu. Idulfitri saya menjadi penuh kenangan dan doa kepada ibu-ayah.
Karenanya, kali ini saya menghabiskan waktu di rumah ibu mertua di Cinere, Depok. Kerabat dari almahum(ah) ibu-ayah saya tinggal di luar Jakarta dan luar Indonesia, dan kami tak punya tradisi mengunjungi mereka. Biasanya, merekalah yang datang ke rumah orangtua saya di Bogor. Tahun ini, untuk kali pertama tradisi itu tak dijalani, sehingga urusan saya sepenuhnya dengan keluarga istri.
Mungkin lantaran sedari kecil saya tinggal jauh dari kerabat, dan merekapun tinggal terpencar, maka kumpul-kumpul dalam jumlah besar tak pernah jadi prioritas kami. Sebaliknya, di keluarga istri saya, yang sedari mula banyak tinggal di seputaran Jakarta, kumpul-kumpul jadi semacam keharusan, bukan hanya ketika Idulfitri, tapi juga di sejumlah peristiwa lainnya.
Dan ibu mertua saya adalah salah satu pusat dari kumpul-kumpul itu. Maka, tiap Idulfitri rumahnya disesaki kerabat selama setidaknya dua hari. Tahun ini, rumah seluas 170an meter persegi ini betul-betul penuh sesak. Entah mengapa, rasanya jauh lebih sesak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pada puncaknya, di hari kedua Lebaran, antara pukul 11-18, sejumlah besar tamu berdiri. Mereka datang silih berganti, dan tak membuat berkurang kesesakan sama sekali. Jumlah kursi jelas terbatas, lebih banyak yang duduk melantai, tapi itupun sudah sulit dilakukan untuk mereka yang datang belakangan. Di luar pintu, sepatu dan sandal sudah tak terlihat tertib lagi. Persis tumpukan sandal di masjid-masjid kampung ketika salat Jumat atau tarawih di minggu pertama. Saya sendiri bergurau bahwa jumlahnya bisa menyaingi gabungan koleksi sepatu Imelda Marcos dan Rosmah Mansor, istri mantan PM Malaysia yang baru saja dijungkalkan oleh Mahathir.
Dengan orang sebanyak itu, obrolan gayeng pun terjadi. Di kalangan kerabat lelaki, obrolan paling menonjol adalah soal politik Indonesia. Lantaran keluarga istri berasal dari Sumatera Barat, banyak di antara mereka yang merasa Muhammadiyah, lalu sebagian besarnya merasa PAN adalah saluran politik yang sepantasnya, sehingga selama bertahun-tahun pembelaan atas apapun sikap politik PAN dan sekutunya kerap saya dengar.
Tahun ini, tidak lagi. Banyak di antara mereka yang tak setuju dengan sikap politik PAN dan sekutunya. Mereka utamanya muak kepada Amien Rais, yang menurut mereka merugikan PAN dan menyeret PAN ke jurang kehancuran. “Setiap dia buka mulut, ratusan atau ribuan orang kabur ninggalin PAN.” Begitu kata salah seorang dari mereka.
Yang mereka khawatirkan dan mereka tolak adalah politisasi agama yang akan makin membelah Indonesia. Mereka bicara soal Koalisi Keummatan dan Poros Mekkah (yang dilawankan dengan ‘Poros Beijing’) yang bakal meningkatkan skala ketegangan dari Jakarta ke seluruh Indonesia. Memang ada di antara kerabat yang mendukung politisasi agama, termasuk lewat pelabelan kafir, karena merasa itu adalah bagian dari ajaran agama. “Masak sih nggak boleh bilang kafir, kan di Qur’an suratnya juga ada?” Begitu kata salah seorang sepupu ibu mertua. Tapi dia cuma sendirian, yang lain menolaknya, dengan argumentasi agama maupun politik yang jauh lebih berwawasan.
Obrolan politik tampak mendominasi kalangan dewasa. Yang remaja asyik dengan topik-topik lain. Mereka bertanya soal film kepada saya. Mereka tahu saya penonton kategori ‘parah’, dan semuanya ingin menonton The Incredibles 2. Mereka bicara soal berbagai produk, tentang perjalanan wisata, dan berbagi informasi tentang makanan enak.
Dari soal makanan, kami juga berbincang soal pemborosan makanan hingga menjadi sampah. Ada beberapa di antara sepupu dan keponakan istri yang tahu bahwa saya bergerak di bidang keberlanjutan dan kerap bicara soal konsumsi berkelanjutan, jadi kami pun membincangkan soal itu. Mereka kaget ketika saya bilang Indonesia adalah negara nomor dua paling banyak membuang makanan setelah Arab Saudi. Begitulah menurut laporan The Economist yang bertajuk Fixing Food di tahun 2016. Saya meneruskan, “Kalau Islam mengajarkan bahwa kemubaziran itu akrab dengan setan, banyak Muslim Arab dan Indonesia yang kayaknya temenan sama setan.” Saya pun berpesan agar membeli dan mengambil makanan secukupnya, dan selalu menghabiskan makanan yang sudah dibeli atau diambil.
Pembicaraan dengan anak-anak muda juga beralih ke urusan lain di mana kita juga adalah ‘juara’ dua di tingkat global: sampah plastik. Mereka semua sadar soal besarnya sampah plastik dan sifat plastik yang tak terurai lama sekali di alam. Tapi mereka kesulitan untuk benar-benar menghilangkannya dari kehidupan.
Saya bilang bahwa tak bisa menghilangkannya bukan berarti tak bisa menurunkan konsumsinya. Upaya-upaya pengurangan yang mudah ada banyak yang bisa dipilih (tak pakai sedotan plastik dan membawa kantong belanja sendiri adalah contoh paling menonjol), dan kalau ada sampahnya, kita perlu memilahnya dan menyetorkan kepada yang secara khusus mengumpulkannya. Ketika menyatakan itu mata saya tertumbuk pada gelas-gelas plastik yang kami pergunakan. Hati saya teriris, lantaran selama beberapa hari gagal mendapatkan gelas kertas, sementara mustahil kami menyajikan sepenuhnya dengan gelas-gelas kaca (dan sekarang saya terkenang pada Nia Daniaty, pelantun tembang itu).
Kalau obrolan politik (apalagi soal Amien Rais dan PAN) tak menarik bagi anak muda, sementara isu lingkungan tak dilirik oleh mereka yang dewasa dan tua, jurang antar-generasi itu dijembatani oleh sepak bola. Piala Dunia 2018 bikin semua orang tertarik. Begitu ada yang memulai membicarakan itu, bahkan bocah-bocah yang tadinya sibuk dengan gawai atau berlarian (di tengah jubelan orang!) tiba-tiba menunjukkan minat.
Lalu mulailah para ‘analis’ bicara. Tak tanggung-tanggung, pembelaan terhadap negara tertentu ditarik mundur hingga dekade 1960an. Tentu, itu hanya bisa diceritakan para om dan tante. Dendam kesumat dari dekade 1970, 1980 dan 1990 pun diungkit. Tapi semuanya diakhiri dengan dan tenggelam dalam gelak tawa.
Entah berapa jam kami habiskan untuk membincangkan pembelaan atas negeri-negeri lain itu. Fanatisme terlihat, dendam diingat, tapi hanya lidah yang bersilat. Di antara yang bertentangan, juga para penonton peristiwa silat lidah itu hanya ada kegembiraan belaka.
Saya lalu tercenung. Mengapa kita tak bisa memandang partai atau presiden pilihan kita sebagaimana kita memilih negeri/klub atau pemain sepakbola idola kita? Mengapa kita tega menghujat dan memfitnah saudara-saudara sendiri untuk urusan politik yang sesungguhnya datang tak lebih kerap daripada pertandingan antar-klub dan antar-negara yang kita bela? Apakah sedemikian sakitnya kalau partai atau presiden pilihan kita kalah, sehingga media sosial kita perlu dipenuhi dengan ujaran kebencian sepanjang waktu?
Entahlah, itu semua cuma pertanyaan sekelebatan yang muncul setelah saya teringat pada obrolan-obrolan mengasyikkan itu. Tulisan ini sendiri dibuat lantaran saya susah tidur setelah Jerman, negeri yang saya bela, digasak Meksiko 0-1 pada pertandingan pertamanya. Ketika tulisan ini hampir selesai, Brasil, favorit juara tahun ini, ditahan imbang 1-1 oleh Swiss. Yang terakhir ini agak bikin saya senang. Mungkin setelah salat subuh nanti saya bisa tidur lebih nyenyak.
Depok, dini hari 18 Juni 2018


