Alak, 23 Mei 2025 – Remaja di Kelurahan Alak dengan antusias mengikuti Workshop Edukasi Risiko Pernikahan Dini yang diselenggarakan oleh Yayasan Social Investment Indonesia (YSII). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pencegahan Stunting Terintegrasi Berbasis Komunitas, sebuah inisiatif kolaboratif dari PT Pelabuhan Indonesia (Persero), serta kerja sama dengan Forum Genre Indonesia NTT sebagai fasilitator dan Kader Posyandu sebagai pendamping.
Latar Belakang dan Tujuan
Berdasarkan data e-PPGBM Juni 2024, prevalensi stunting di Kelurahan Alak mencapai 7,14%, dengan 8% orang tua balita stunting menikah di bawah usia 21 tahun. Pernikahan dini berkontribusi signifikan terhadap risiko stunting, anemia, dan gangguan kesehatan reproduksi. Workshop ini bertujuan untuk:
-
Meningkatkan pemahaman remaja tentang dampak pernikahan dini terhadap kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
-
Memberikan edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan kekerasan seksual.
-
Memperkuat peran remaja dalam perencanaan masa depan yang berkelanjutan.

Materi Workshop dan Diskusi
Dalam workshop tersebut, poin penting yang ditekankan adalah serangkaian risiko dan dampak yang bersifat multidimensional yang ditimbulkan dari pernikahan dini. Dampak ini secara signifikan memengaruhi kesehatan fisik, mental, pendidikan, serta kondisi sosial dan ekonomi remaja. Lebih lanjut, disampaikan bahwa bayi yang dilahirkan dari ibu yang masih sangat muda berisiko tinggi mengalami stunting, sebuah kondisi yang dapat menghambat tumbuh kembang optimal anak.

Permasalahan pernikahan dini juga ditegaskan bukan hanya masalah pribadi atau keluarga, melainkan tantangan kesehatan masyarakat dan pembangunan sosial yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan ini memiliki implikasi yang luas dan memerlukan perhatian dari berbagai pihak untuk penanganannya.
Workshop ini juga menggarisbawahi pentingnya pencegahan pernikahan dini yang memerlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif. Artinya perlu melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan strategi yang efektif untuk memastikan remaja dapat terhindar dari dampak-dampak negatif pernikahan di usia muda.
Peserta juga terlibat dalam FGD interaktif dan permainan role-play untuk memetakan “zona aman” dalam interaksi sosial.
Kolaborasi dan Harapan
Selain membahas risiko pernikahan dini, dalam workshop juga disampaikan materi tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan kejahatan seksual pada remaja. Materi edukasi yang disampaikan harapannya menjadi fondasi penting bagi remaja di Kelurahan Alak untuk menjalani kehidupan yang sehat, aman, dan bertanggung jawab.

Kegiatan ini menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan komunitas dalam pencegahan pernikahan dini. Dr. Hasto Wardoyo (Kepala BKKBN) menegaskan, “30-35% kasus stunting berasal dari ibu yang menikah di usia muda.”
[LS, RC]




