← Seluruh

Menavigasi Badai ESG: Krisis sebagai Momentum Transformasi Perusahaan

[debug_author_post]

Daftar Isi

Bogor — SOCIALINVESTMENT.ID — Di tengah meningkatnya tekanan publik terhadap transparansi dan akuntabilitas perusahaan, Social Investment Indonesia (SII) kembali menyelenggarakan Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) Seri ke-93 pada Jumat, 27 Februari 2026 secara daring. Forum diskusi dua mingguan ini mengangkat tema “Navigasi ESG di Tengah Badai: Mengubah Krisis Menjadi Momentum Transformasi Perusahaan.” Kegiatan tersebut dipandu oleh Pegi Arnolia dan diikuti oleh para praktisi, akademisi, serta pemerhati keberlanjutan dari berbagai sektor.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu Arya Dwi Paramita, Corporate Secretary PT Pertamina; Elvia R. Shauki, Ph.D., akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang sekaligus merupakan anggota Dewan Standar Keberlanjutan Ikatan Akuntan Indonesia; serta Jalal, Chairperson Advisory Board Social Investment Indonesia (SII), yang memberikan ulasan buku Strategic Reputation Management karya Amanda Coleman.

Dalam paparannya, Arya Dwi Paramita menyoroti bahwa pengelolaan reputasi ESG di era digital menuntut pendekatan komunikasi yang lebih dinamis. Menurutnya, reputasi perusahaan tidak lagi cukup dibangun melalui laporan keberlanjutan formal semata, tetapi harus diperkuat melalui informasi yang kredibel, keterlibatan aktif dengan publik, dan tindakan nyata yang konsisten. Ia juga menekankan pentingnya kecepatan respons dalam situasi krisis, karena keterlambatan beberapa jam saja dapat memperbesar eskalasi isu di media sosial. Dalam kondisi tersebut, perusahaan harus menghindari sikap defensif atau penyangkalan, dan lebih menekankan transparansi, pengakuan masalah, serta komitmen perbaikan.

Sementara itu, Elvia R. Shauki, Ph.D. menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi kondisi “perfect storm”, yaitu kombinasi tekanan geopolitik, krisis iklim, dan tantangan tata kelola. Dalam konteks ini, ESG tidak lagi dapat diperlakukan sebagai sekadar citra atau kosmetik (looking good), melainkan harus menjadi praktik nyata yang menciptakan dampak (doing good). Ia menekankan pentingnya pendekatan double materiality, yaitu memahami dampak aktivitas perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat sekaligus menilai bagaimana faktor eksternal memengaruhi kinerja finansial perusahaan. Implementasi standar pelaporan seperti IFRS S1 dan S2 dinilai akan memperkuat transparansi dan akuntabilitas perusahaan di Indonesia.

Pada sesi penutup, Jalal mengulas buku Strategic Reputation Management yang menekankan bahwa reputasi organisasi dibangun melalui kombinasi perilaku, kinerja, komunikasi, dan otentisitas. Ia mengingatkan bahwa reputasi tidak dapat direkayasa melalui kampanye komunikasi semata, melainkan harus lahir dari konsistensi tindakan dan integritas organisasi. Jalal juga menyoroti berbagai bentuk praktik “washing”, seperti greenwashing, yang berpotensi merusak kepercayaan publik jika komunikasi keberlanjutan tidak didukung oleh tindakan nyata.

Diskusi SIRD ke-93 ini menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian global, ESG bukan sekadar kewajiban pelaporan, melainkan strategi penting untuk menjaga kepercayaan publik dan keberlanjutan bisnis jangka panjang. Para peserta juga diajak melihat krisis sebagai peluang pembelajaran untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi, serta membangun hubungan yang lebih kredibel dengan para pemangku kepentingan. Dengan pendekatan tersebut, tekanan publik dan dinamika global justru dapat menjadi katalisator bagi transformasi perusahaan menuju praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. [PAI]