Bogor — SOCIALINVESTMENT.ID – Social Investment Indonesia (SII) kembali menyelenggarakan pelatihan Sustainable Livelihood Impact Assessment (SLIA) Batch #5 yang dilaksanakan secara daring pada 1–2 April 2026. Kegiatan ini difasilitasi oleh Ponco Nugroho dan diikuti oleh 10 peserta yang merupakan Community Development Officer (CDO) dari berbagai perusahaan. Para peserta berasal dari beragam wilayah, yakni Kalimantan Tengah, Jawa Timur (Pasuruan dan Tuban), serta Jakarta Utara, mencerminkan luasnya praktik pengembangan masyarakat di berbagai konteks geografis Indonesia.
Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas praktisi dalam memahami dan menerapkan metode pengukuran dampak program secara lebih sistematis, terstruktur, dan berbasis pendekatan Sustainable Livelihoods. Dalam konteks program sosial perusahaan, pengukuran dampak menjadi aspek krusial untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-benar memberikan perubahan yang bermakna bagi masyarakat, tidak hanya pada level output, tetapi juga outcome dan impact jangka panjang .
Selama dua hari pelaksanaan, peserta mendapatkan pembekalan konsep-konsep fundamental seperti pentingnya pengukuran dampak, penyusunan Theory of Change, serta penggunaan kerangka logis program yang mencakup input, proses, output, outcome, hingga impact. Pendekatan ini membantu peserta memahami alur perubahan yang diharapkan dari suatu program sekaligus mengidentifikasi indikator yang relevan pada setiap tahapan.
Selain itu, pelatihan juga memperkenalkan pendekatan pentagonal assets dalam kerangka Sustainable Livelihoods, yang mencakup lima modal utama: natural, human, financial, social, dan physical capital. Pendekatan ini memberikan perspektif komprehensif dalam menilai perubahan kesejahteraan masyarakat, dengan menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari peningkatan ekonomi semata, tetapi juga dari penguatan kapasitas individu, jaringan sosial, serta akses terhadap sumber daya.
Metode pembelajaran dirancang interaktif melalui diskusi, refleksi, dan studi kasus yang relevan dengan praktik lapangan. Para peserta secara aktif berbagi pengalaman implementasi program di wilayah masing-masing, termasuk tantangan dalam pengumpulan data, keterbatasan sumber daya, hingga kompleksitas dalam mengukur dampak jangka panjang.
Antusiasme peserta terlihat dari intensitas diskusi yang berlangsung selama pelatihan. Fasilitator juga memberikan berbagai contoh praktis untuk membantu peserta menghubungkan konsep dengan realitas kerja sebagai CDO di lapangan.
Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta mampu meningkatkan kualitas perencanaan, implementasi, serta evaluasi program pengembangan masyarakat. Dengan demikian, investasi sosial yang dilakukan perusahaan tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata, terukur, dan berkelanjutan bagi masyarakat serta para pemangku kepentingan. [PAI]


