← Seluruh

CSR dan Kesalahpahaman terhadapnya yang Perlu Diluruskan Bagian 2

[debug_author_post]

Daftar Isi

CSR dan Kesalahpahaman terhadapnya yang Perlu Diluruskan : yang Bukan-Bukan dalam CSR - Bagian 2

2 April 2023

CSR bukan cara untuk melakukan value extraction apalagi menutupi value destruction.

Manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan itulah yang sebetulnya merupakan makna dari value.  Perusahaan yang membawa manfaat kepada seluruh pemangku kepentingan itu disebut melakukan value creation.  Alternatifnya, perusahaan hanya melakukan value extraction, bahkan value destruction.  Pembedaan ini diajukan oleh Mariana Mazzucato.

CSR bukan mengabdi pada kepentingan pemilik modal, atau sebagian pemangku kepentingan saja.

Bila perusahaan hanya mendapatkan keuntungan lewat cara-cara yang meningkatkan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan, maka perusahaan itu menerapkan apa yang disebut—di antaranya oleh Edward Freeman dan Klaus Schwab—sebagai kapitalisme pemangku kepentingan.  Perusahaan yang demikian tidak akan mengorbankan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan keuntungan bagi pemilik modalnya.  Namun demikian, perbedaan besaran manfaat dan trade-off dalam jangka pendek pasti terjadi.

CSR bukan mengabdi pada kepentingan pemilik modal, atau sebagian pemangku kepentingan saja.

Bila perusahaan hanya mendapatkan keuntungan lewat cara-cara yang meningkatkan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan, maka perusahaan itu menerapkan apa yang disebut—di antaranya oleh Edward Freeman dan Klaus Schwab—sebagai kapitalisme pemangku kepentingan.  Perusahaan yang demikian tidak akan mengorbankan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan keuntungan bagi pemilik modalnya.  Namun demikian, perbedaan besaran manfaat dan trade-off dalam jangka pendek pasti terjadi.

CSR bukan berarti menerima saja tujuan perusahaan, melainkan memerbaikinya bila perlu.

Alex Edmans mengubungkan antara profitabilitas dengan tujuan mulia (purpose) perusahaan, lewat penjelasan pieconomics.  Purpose, menurut Edmans, adalah jawaban atas pertanyaan bagaimana dunia menjadi lebih baik dengan kehadiran dan operasi perusahaan.  Untuk bisa mencapainya, perusahaan perlu mengetahui apa saja masalah yang dihadapi oleh masyarakat, di antara masalah itu apa yang bisa dipecahkan oleh kompetensi inti perusahaan, dan bagaimana perusahaan bisa memobilisasi dukungan pemangku kepentingan untuk mencapai purpose itu.  Sikap yang sama dinyatakan oleh Colin Mayer.

CSR bukan sekadar mengelola dampak secara pasif atau defensif.

Apa yang diajukan oleh Edmans itu membuat perusahaan berubah dari sekadar pengelolaan dampak secara defensif, menjadi sengaja memecahkan masalah atau ofensif.  Pemecahan masalah yang tepat, dengan model bisnis yang tepat, adalah sumber keuntungan perusahaan dalam jangka panjang.  Namun, keuntungan seperti itu hanya bisa dicapai bila perusahaan bersungguh-sungguh mengupayakan pencapaian purpose-nya.  Hal ini misalnya dikemukakan oleh Hubert Joly dan Ranjay Gulati. 

Ditulis Oleh

Unduh Disini

Bagikan Ini