Strategi Keberlanjutan Bisnis Sosial – Bagian Keempat

Oleh:
Jalal – Pimpinan Dewan Penasihat Social Investment Indonesia

Tulisan terdahulu menguraikan bagaiamana Hahn (2021) menguraikan empat bentuk hibriditas terkait keberlanjutan bisnis, dengan menyilangkan antara dimensi integrasi dan otonomi. Dari dua dimensi keberlanjutan itu, Hahn memerkenalkan adanya hibriditas seremonial (integrasi lemah dan otonomi rendah), hibriditas kontingen (integrasi kuat dan otonomi rendah), hibriditas periferal (integrasi lemah dan otonomi tinggi), dan hibriditas penuh (integrasi kuat dan otonomi tinggi).

Pada hibriditas seremonial perusahaan hanya mau mengelola kesan sebagai bisnis yang berkelanjutan padahal mereka hanya melakukan pengejaran keuntungan ekonomi semata. Perusahaan yang memanfaatkan hibriditas kontingen hanya mengelola isu lingkungan dan sosial sejauh mereka selaras dengan tujuan ekonomi dari bisnis. Pada hibriditas periferal perusahaan mengejar inisiatif keberlanjutan sebagai inisiatif pinggiran, sementara bisnis intinya tidak demikian. Dan, pada hibriditas penuh perusahaan benar-benar mengintegrasikan bisnisnya dengan keberlanjutan.

Apabila dipandang dari sudut pandang komunikasi, ketiga bentuk hibriditas pertama tentu akan dinyatakan sebagai bentuk greenwashing belaka. Perusahaan tidak benar-benar berkelanjutan, namun berusaha mencitrakan diri sebagai perusahaan berkelanjutan. Namun, sesungguhnya bisa juga dilihat bahwa apa yang terjadi pada perusahaan-perusahaan itu, mungkin, adalah mereka sedang belajar dan berjuang untuk memahami dan menemukan jalannya mencapai keberlanjutan yang hakiki.

Kalau prasangka baik itu dipergunakan, pertanyaannya kemudian adalah bagaimana perusahaan-perusahaan—baik perusahaan sosial maupun komersial—yang ada di ketiga bentuk hibriditas itu bisa menjadi benar-benar berkelanjutan?

Jawaban pertama tentu terkait dengan pemahaman soal apa itu keberlanjutan. Para pakar telah menyarankan banyak pengertian tentang keberlanjutan perusahaan, namun salah satu titik temunya adalah do no harm. Jadi, perusahaan-perusahaan yang ingin menjadi benar-benar berkelanjutan haruslah mengetahui seluruh dampak negatif yang mereka miliki, lalu sekuat mungkin menghindarinya. Apabila masih ada dampak negatif tersebut, maka minimisasi, restorasi dan kompensasi harus dilakukan. Penegakan hierarkhi mitigasi dampak negatif ini adalah keniscayaan bagi perusahaan yang ingin berkelanjutan.

Jawaban berikutnya terkait dengan apa yang sekarang sedang sangat kerap dibincangkan, yaitu purpose atau tujuan mulia perusahaan. Bagi perusahaan sosial, purpose seharusnya bukanlah hal yang asing. Para wirausahawan sosial memang mendirikan bisnisnya dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah ekonomi, sosial dan lingkungan yang dihadapi kelompok sasarannya. Ini sejalan dengan pengertian purpose, yaitu jawaban atas pertanyaan bagaimana dunia menjadi lebih baik karena keberadaan dan operasi perusahaan. Kalau kini banyak perusahaan komersial yang progresif merumuskan purpose-nya dengan formal, perusahaan sosial perlu juga melakukan hal yang sama.

Jawaban ketiga adalah terkait dengan penemuan model-model bisnis yang benar-benar berkelanjutan dan menguntungkan. Profesor Rebecca Henderson dari Harvard Business School menyatakan bahwa untuk menjadi berkelanjutan, perusahaan bisa memerolehnya dengan salah satu atau lebih model bisnis yang dibuat dengan inovasi keberlanjutan: peningkatan efisiensi yang menurunkan biaya; penemuan ceruk pasar yang memungkinkan pembayaran harga produk yang lebih tinggi (sustainability premium); perluasan pasar yang mengandalkan konsumen muda yang semakin sadar pada keberlanjutan; dan penciptaan bisnis baru yang benar-benar menegakkan keberlanjutan pada level tertinggi.

Jawaban keempat dan terakhir adalah perlunya kesadaran untuk terus-menerus memastikan keseimbangan antara kinerja lingkungan dan sosial dengan kinerja ekonomi perusahaan. Bagaimanapun, perusahaan sosial memanfaatkan mekanisme pasar untuk memecahkan beragam masalah yang dihadapi masyarakat, bukan melalui mekanisme lainnya. Ini meniscayakan keuntungan sebagai hal yang esensial, selain merupakan salah satu pertanda keberhasilan pemecahan masalah yang dinyatakan sebagai purpose perusahaan sosial. Mekanisme untuk menyeimbangkan ini di antaranya adalah dengan memiliki para komisaris dan direksi yang memiliki fungsi checks and balances apabila salah satu kinerja terlihat lebih kuat dan mengorbankan kinerja yang lain.

Demikianlah, agar menjadi benar-benar berkelanjutan, perusahaan sosial perlu untuk memastikan tidak membawa mudarat dalam operasinya, merumuskan tujuan mulia yang akan memandu seluruh keputusannya, menemukan model bisnis yang tepat untuk menjadi berkelanjutan dan menguntungkan, dan memastikan keseimbangan dinamis antara keberlanjutan dan keuntungan itu terus terjaga.

–##–

Artikel ini direpost dari: https://epaper.kontan.co.id/news/720555/Strategi-Keberlanjutan-Bisnis-Sosial-4

2021-04-07T16:25:37+07:00

About the Author:

Social Investment Indonesia (SII) merupakan perusahaan konsultan yang mempunyai dedikasi untuk mengembangkan dan menyebarkan peran penting & strategis serta manfaat investasi sosial, baik bagi perusahaan maupun pemangku kepentingannya. Melalui pendekatan yang kami miliki dan telah teruji secara empiris, kami memiliki keyakinan bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan pemangku kepentingannya

Tinggalkan Balasan

Go to Top