Bogor — SOCIALINVESTMENT.ID – Pada Jumat, 24 April 2026, Social Investment Indonesia kembali menyelenggarakan forum dua mingguan Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) seri ke-96. Mengangkat tema global Hari Bumi, “Our Power, Our Planet: Menggalang Kekuatan Kolektif untuk Ketahanan Iklim dan Masa Depan Bumi”, forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan aksi bagi berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat kontribusi nyata dalam menghadapi krisis iklim.
Diskusi yang berlangsung secara daring ini dipandu oleh Pegi Arnolia dan menghadirkan empat narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi: Diah Surja (WWF Indonesia), Ning Parlan (Interfaith Rainforest Initiative Indonesia), Hendrik Karman (PT Pertamina Persero), serta Jalal (Social Investment Indonesia).
Dari “Doing Good” ke Transformasi Sistem
Dalam pemaparan pembuka, Diah Surja dari WWF Indonesia menyoroti paradoks yang masih terjadi dalam praktik investasi sosial saat ini. Di tengah meningkatnya komitmen dan dana yang digelontorkan, degradasi ekosistem justru terus berlangsung.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan pada kurangnya niat baik, melainkan pada desain sistem yang belum tepat. Banyak program masih berjalan secara terfragmentasi dan belum menyasar akar persoalan struktural seperti tata kelola lahan, insentif ekonomi, hingga model bisnis yang eksploitatif.
Menurutnya, investasi sosial perlu bertransformasi dari sekadar doing good menjadi changing the system, dengan menjadikan pendekatan berbasis lanskap, penguatan peran komunitas sebagai aktor ekonomi, serta integrasi ke dalam model bisnis sebagai kunci perubahan.
Kekuatan Moral dan Peran Agama dalam Krisis Iklim
Perspektif berbeda disampaikan oleh Ning Parlan dari Interfaith Rainforest Initiative, yang menekankan bahwa krisis iklim pada dasarnya juga merupakan krisis moral.
Ia menggarisbawahi bahwa meskipun riset dan kebijakan terus berkembang, perubahan signifikan belum terjadi karena akar masalahnya terletak pada perilaku manusia, termasuk keserakahan dalam mengelola sumber daya alam.
Dengan lebih dari 80% populasi dunia berafiliasi dengan agama, Ning melihat potensi besar gerakan berbasis nilai dan lintas iman untuk mendorong perubahan perilaku kolektif. Ia menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban tambahan, melainkan bagian integral dari praktik keberagamaan itu sendiri.
Pesan kuat yang disampaikan adalah bahwa hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam tidak dapat dipisahkan—dan keberlanjutan hanya dapat tercapai jika ketiganya berjalan seimbang.
Transisi Energi: Menjaga Ketahanan sekaligus Keberlanjutan
Dari perspektif korporasi, Hendrik Karman dari PT Pertamina (Persero) memaparkan strategi perusahaan dalam menghadapi tantangan transisi energi.
Ia menjelaskan bahwa Pertamina mengusung pendekatan dual growth strategy, yaitu tetap menjaga peran energi fosil untuk ketahanan energi nasional, sambil secara bertahap mengembangkan portofolio energi rendah karbon.
Berbagai inisiatif telah dilakukan, mulai dari pengembangan biofuel (B40 menuju B50), bioetanol, hingga sustainable aviation fuel, serta investasi pada energi terbarukan seperti geothermal dan hidrogen hijau.
Menurutnya, transisi energi tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga dukungan kebijakan, insentif ekonomi, dan investasi yang besar agar dapat berjalan secara berkelanjutan.
Harapan Global dan Pentingnya Kolaborasi
Menutup sesi, Jalal dari Social Investment Indonesia menghadirkan refleksi melalui resensi buku The New Global Possible.
Ia menyoroti bahwa dunia sebenarnya tidak kekurangan solusi maupun target dalam menghadapi krisis iklim. Tantangan terbesar justru terletak pada kesenjangan implementasi—bagaimana berbagai pihak dapat bekerja bersama secara efektif untuk mewujudkan perubahan nyata.
Mengambil pelajaran dari rekonstruksi Aceh pasca-tsunami, Jalal menegaskan bahwa perubahan besar sangat mungkin terjadi ketika ada orkestrasi kolaborasi lintas sektor, didukung kepemimpinan moral dan pemanfaatan pengetahuan lokal.
Menuju Aksi Kolektif untuk Masa Depan Bumi
SIRD #96 menegaskan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan sistem ekonomi, nilai moral, dan pola kolaborasi antaraktor.
Dari perubahan desain investasi sosial, penguatan nilai berbasis agama, transformasi sektor energi, hingga pentingnya orkestrasi global, seluruh narasumber sepakat bahwa solusi tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
Mengusung semangat Our Power, Our Planet, forum ini menjadi pengingat bahwa masa depan bumi sangat bergantung pada kemampuan kita untuk menggabungkan kekuatan—lintas sektor, lintas nilai, dan lintas kepentingan—dalam satu arah perubahan yang sama.
Social Investment Indonesia melalui SIRD akan terus menjadi ruang kolaboratif untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan aksi nyata demi mendorong investasi sosial yang lebih berdampak dan berkelanjutan. [PAI]
📥 Download Materi SIRD #96


