← Seluruh

SIRD Seri 94: Mendorong Strategi Dekarbonisasi yang Kredibel, Inklusif, dan Berbasis Dampak

[debug_author_post]

Daftar Isi

Bogor — SOCIALINVESTMENT.ID — Social Investment Indonesia (SII) kembali menyelenggarakan Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) seri ke-94 dengan mengangkat tema “Beyond Carbon Footprint: Menyeimbangkan Angka dan Dampak Menuju Strategi Dekarbonisasi yang Kredibel.” Kegiatan ini berlangsung di tengah suasana Ramadan (13/03/2026) yang dipandu oleh Pegi Arnolia, serta menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan pemimpin pemikiran keberlanjutan.

Dalam pengantarnya, disampaikan bahwa di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan tuntutan regulasi global, pendekatan pengelolaan emisi tidak lagi cukup berfokus pada angka pengurangan semata. Diperlukan strategi dekarbonisasi yang kredibel, transparan, dan mempertimbangkan dimensi sosial, terutama agar tidak membebani kelompok rentan dan pelaku usaha kecil dalam rantai pasok.

Narasumber pertama, Dicky Edwin Hindarto, dari Yayasan Mitra HIjau, menekankan pentingnya literasi karbon sebagai fondasi utama dalam pengelolaan emisi gas rumah kaca (GRK). Ia menjelaskan bahwa perusahaan perlu memahami secara komprehensif klasifikasi emisi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 sebagai dasar dalam menyusun strategi yang terukur dan efektif. Menurutnya, tanpa inventarisasi dan perhitungan emisi yang akurat, upaya dekarbonisasi berisiko tidak tepat sasaran. Selain itu, ia menegaskan bahwa prioritas strategi harus dimulai dari upaya menghindari emisi, diikuti dengan pengurangan, substitusi energi, penyerapan, dan terakhir offset karbon.

Selanjutnya, Tria Mutiari Meilan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) memaparkan praktik implementasi dekarbonisasi di sektor transportasi. PT KAI telah melakukan inventarisasi emisi, menetapkan baseline, serta menyusun roadmap penurunan emisi hingga target net zero emission. Strategi yang dijalankan mencakup peningkatan elektrifikasi, efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya, serta program penanaman pohon. Selain itu, PT KAI juga mendorong transparansi melalui penyediaan informasi jejak karbon kepada pelanggan, sebagai bagian dari edukasi dan penguatan kesadaran publik.

Pada sesi penutup, Jalal, Chairperson Advisory Board SII, menyampaikan resensi buku A Concise Business Guide to Climate Change. Ia menegaskan bahwa isu perubahan iklim harus dipandang tidak hanya sebagai risiko, tetapi juga sebagai peluang strategis bagi dunia usaha. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan strategi, tata kelola, kepemimpinan, serta sistem pengukuran emisi secara menyeluruh justru berpotensi meningkatkan efisiensi dan daya saing. Ia juga menekankan pentingnya prinsip just transition agar proses dekarbonisasi berjalan adil dan inklusif.

Diskusi SIRD Seri 94 ini menegaskan bahwa keberhasilan dekarbonisasi memerlukan kombinasi antara kapasitas teknis, komitmen kepemimpinan, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Forum ini diharapkan terus menjadi ruang pembelajaran dan pertukaran pengetahuan untuk memperkuat praktik investasi sosial dan keberlanjutan di Indonesia. [PAI]