Bogor – Di balik angka-angka statistik dan laporan keuangan investasi sosial, selalu ada cerita tentang kehidupan manusia yang berubah. Namun, sejauh mana sebuah program benar-benar menciptakan perubahan nyata yang dapat dipertanggungjawabkan di lapangan? Pertanyaan fundamental inilah yang menjadi ruh utama dalam Pelatihan Social Return on Investment (SROI) Batch 39 yang diselenggarakan oleh Social Investment Indonesia di Swiss-Belhotel Bogor, 11 hingga 13 Agustus 2026.

Sebanyak 20 peserta dari 15 lembaga terkemuka di Indonesia tidak sekadar duduk mendengarkan teori di dalam kelas. Selama tiga hari, mereka menjadikan lima program pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan dari berbagai pelosok Nusantara sebagai laboratorium hidup pengukuran dampak. Langkah ini membawa proses pembelajaran langsung berhadapan dengan dinamika serta kompleksitas yang kerap ditemui organisasi di lapangan.

Keragaman studi kasus yang dibedah memperlihatkan betapa luasnya spektrum intervensi sosial yang tengah berjalan di Indonesia. Di Kalimantan Utara, peserta mengurai program Diversifikasi Singkong untuk Penguatan Ekonomi Dayak Agabag di Desa Melasu Baru dan Tetaban, yang menjadi cermin transformasi ekonomi berbasis komoditas lokal. Sementara itu di Sumatra Barat, Pengembangan Geosite Gua Kelelawar Padayo di Kelurahan Indarung, Kota Padang, membuka wawasan tentang bagaimana potensi kawasan dapat dioptimalkan untuk menghasilkan nilai sosial, ekonomi, sekaligus kelestarian lingkungan.
Tak kalah menarik, peserta juga membedah dinamika kemandirian kelompok masyarakat melalui kasus KUBE Rajut BATOLA di Desa Sungai Pitung, Kalimantan Selatan, serta program Pelatihan Satpam untuk Pemuda Kelurahan Batu Gadang di Padang. Kasus pelatihan satpam ini secara spesifik menunjukkan bagaimana peningkatan keterampilan vokasional mampu diubah menjadi mata rantai perubahan, mulai dari kenaikan kompetensi, peluang kerja, hingga peningkatan status ekonomi keluarga. Perspektif berbeda hadir dari pembedahan Arboretum Hutan UI di Depok, yang menantang peserta untuk mengidentifikasi dan merasionalkan nilai perubahan dari program konservasi berbasis lingkungan.

Dipandu langsung oleh Purnomo, Senior Advisor Social Investment Indonesia sekaligus Associate of Social Value International, para peserta diajak mengurai setiap program secara metodologis. Mereka memulainya dari pemetaan pemangku kepentingan dan penyusunan Theory of Change, melacak indikator perubahan, melakukan valuasi keuangan, hingga akhirnya merumuskan rasio SROI.
Purnomo menegaskan bahwa esensi dari metode ini melampaui kalkulasi teknis semata. Menurutnya, SROI bukan sekadar alat untuk menghasilkan angka rasio demi kebutuhan laporan tahunan atau pencitraan korporasi, melainkan sebuah proses untuk mendengarkan suara penerima manfaat dan memahami cerita perubahan di balik angka tersebut. Ketika sebuah lembaga mengetahui nilai dampak sosial yang dihasilkan dari setiap rupiah yang diinvestasikan, mereka memiliki dasar yang kokoh untuk membuat keputusan strategis yang lebih beretika, akuntabel, dan berdampak jangka panjang.

Pendekatan praktis yang menyentuh realitas lapangan ini memberikan pengalaman transformatif bagi para peserta. Salah seorang perwakilan peserta mengungkapkan bahwa selama ini organisasi kerap kesulitan membuktikan apakah intervensi sosial yang dilakukan benar-benar mengubah kehidupan masyarakat atau sekadar menjadi kegiatan karitatif. Pengalaman membedah kasus nyata dalam pelatihan ini memberikan metodologi ilmiah sekaligus cara pandang baru untuk merancang program yang jauh lebih efektif dan bernilai tinggi bagi masyarakat di masa depan.
Di tengah makin menguatnya tuntutan transparansi dan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), kemampuan mengukur dampak sosial kini menjadi kebutuhan krusial. Keberhasilan Pelatihan SROI Batch 39 ini membuktikan bahwa pengukuran dampak bukan lagi sekadar pelengkap administratif, melainkan fondasi utama bagi perusahaan, lembaga swadaya, dan pemerintah dalam menegakkan akuntabilitas serta memastikan setiap investasi sosial benar-benar menghadirkan keadilan dan kebaikan yang berkelanjutan.


