Oleh:
Purnomo – Senior Advisor
Iqri Sulizar Hidriansjah – GM Digitalization & IT Services Project
Social Investment Indonesia
Bagi manajemen program, baik di korporasi, organisasi nirlaba, maupun instansi pemerintah, penilaian dampak kerap menjadi kegiatan yang terpisah dari aktivitas program itu sendiri. Akibatnya, begitu tiba waktunya mengukur, tim harus mulai dari nol: menggali data yang semestinya sudah terekam sejak program berjalan, merekap ribuan kuesioner penerima manfaat satu demi satu ke lembar kerja, lalu berdebat panjang dengan auditor soal asumsi proksi finansial yang dipakai. Prosesnya bisa menyita tiga bulan penuh. Begitu laporan akhirnya terbit, program yang dievaluasi sudah melangkah ke fase berikutnya, dan angka yang disajikan lebih mirip catatan sejarah ketimbang alat pengambilan keputusan. Bandingkan dengan tubuh manusia. Tangan tertarik dari air panas dalam sepersekian detik, bukan tiga bulan kemudian setelah laporan medis terbit, sebab ada sistem saraf yang menghantarkan sinyal seketika dari kulit ke otak. Pengukuran Social Return on Investment (SROI) yang masih bertumpu pada kalkulasi manual bekerja persis seperti tubuh tanpa sistem saraf itu: ia tetap mencatat luka, hanya saja selalu terlambat menyadarinya. Tulisan ini mengajak melihat transformasi digital SROI bukan sebagai soal kecepatan administratif semata, melainkan syarat mutlak agar organisasi benar-benar mampu merasakan dampak kerjanya sendiri, dan bertindak selagi jendela waktu untuk bertindak itu masih terbuka.
Ketika Angka Datang Terlambat untuk Berguna
Dua dekade terakhir, wacana tanggung jawab sosial perusahaan bergeser jauh: dari sekadar daftar kegiatan, berapa pelatihan digelar, berapa sumur dibangun, menuju tuntutan yang lebih tajam, yakni bukti bahwa kegiatan itu sungguh mengubah kehidupan penerima manfaat. Investor, regulator, dan donor kini ingin tahu nilai riil yang tercipta dari setiap rupiah yang dialokasikan, dan SROI menjadi salah satu instrumen paling dipercaya untuk menjawabnya, sebab mampu menerjemahkan dampak sosial ke bahasa yang dipahami dunia usaha, yaitu rasio finansial¹.
Namun kepopuleran SROI berbanding terbalik dengan kepraktisannya. Model manual yang bertumpu pada spreadsheet dan wawancara yang direkap satu per satu membuat laporan basi begitu terbit: menoleh ke belakang, mahal diverifikasi, dan rentan bias. Di Indonesia bebannya lebih konkret lagi. Satu perusahaan tambang bisa membina puluhan kelompok usaha dari pedalaman Kalimantan sampai pesisir Sulawesi, dengan petugas dan formulir berbeda-beda di tiap lokasi, sehingga data yang disatukan menjelang tenggat tahunan jarang benar-benar mencerminkan apa yang terjadi sepanjang tahun berjalan.
Di sinilah letak kekeliruan yang sering muncul ketika orang membicarakan digitalisasi SROI, seolah persoalannya adalah aplikasi dan perangkat lunak semata. Inti persoalannya jauh lebih mendasar: bagaimana menghadirkan data yang baik, akurat, dan sahih, sehingga bisa dipantau, dianalisis, dan disajikan kepada pemangku kepentingan untuk memaksimalkan perubahan yang ingin dicapai. Teknologi hanyalah wahana. Klaim dampak yang tak tertelusuri, begitu ditelisik auditor atau publik, bisa runtuh seketika dan menyeret nama baik organisasi bersamanya, sebentuk risiko yang di ranah lingkungan sudah lama dikenal sebagai greenwashing dan kini punya padanan di ranah sosial.
Prinsip-8: Ukuran yang Menuntut Tindakan
Selama bertahun-tahun kerangka Social Value International bertumpu pada tujuh prinsip yang menuntun bagaimana angka SROI dihitung dengan benar. Namun pada 2021, ditambahkan prinsip kedelapan: Be Responsive, bersikap sigap merespons². Penambahan ini mengoreksi kelemahan yang lama menghantui praktik SROI: organisasi menghitung nilai sosial dengan susah payah, menerbitkan laporannya, lalu tidak berbuat apa-apa dengan temuan itu.
Prinsip-8 didefinisikan sebagai upaya mengoptimalkan dampak kesejahteraan seluruh pemangku kepentingan yang terpengaruh secara material, melalui pengambilan keputusan yang tepat waktu dan ditopang akuntansi serta pelaporan yang memadai³. Social Value Indonesia menegaskan inti prinsip ini sebagai menerjemahkan pengukuran dampak menjadi keputusan nyata: melipatgandakan yang terbukti memaksimalkan perubahan positif, sekaligus menghentikan yang terbukti negatif, secepat mungkin⁴. Kata kuncinya tepat waktu. Organisasi yang laporan SROI-nya baru rampung sembilan bulan setelah program berakhir, betapapun cermat metodologinya, sesungguhnya sudah gagal memenuhi Prinsip-8 sejak awal, sebab momentum untuk bertindak atas angka itu sudah lewat.
Prinsip-8 juga berbeda dari Prinsip-7, Verify the result, yang menekankan pemeriksaan kebenaran hasil sebelum diterbitkan. Prinsip-7 menjawab apakah angkanya benar. Prinsip-8 menjawab apakah organisasi sungguh berbuat sesuatu dengan angka yang sudah terverifikasi itu. Sebuah laporan SROI bisa lulus uji verifikasi paling ketat sekalipun, namun tetap gagal memenuhi Prinsip-8 jika hanya berakhir sebagai arsip di rak penyimpanan. Data yang cepat tetapi keliru sama berbahayanya dengan data yang benar tetapi terlambat digunakan, persis seperti saraf yang menghantar sinyal salah, sama celakanya dengan saraf yang lumpuh.
Bagaimana Organisasi Belajar Merasakan
Fondasi dari sistem saraf digital semacam ini adalah mutu data sejak titik paling awal ia direkam. Formulir survei daring, aplikasi berbasis gawai bergerak, hingga bot pesan instan seperti WhatsApp memungkinkan organisasi menjangkau penerima manfaat secara longitudinal, langsung di titik layanan, bukan lewat laporan berjenjang yang rawan distorsi. Bagi Indonesia ini bukan pilihan gaya belaka. Penetrasi internet nasional baru mencapai 80,66 persen pada 2025⁵, dan sebagian penduduk yang belum terjangkau justru tinggal di wilayah yang sama dengan lokasi program TJSL, sehingga saluran yang luwes dengan sinyal seadanya jauh lebih realistis daripada aplikasi survei yang boros kuota.
Lapisan berikutnya adalah otomasi proksi finansial, nilai uang yang mewakili manfaat nonfinansial seperti bertambahnya rasa percaya diri. Social Value Engine di Inggris menjadi rujukan yang layak dicermati: terakreditasi resmi oleh Social Value International, dengan lebih dari 650 proksi finansial tertelaah sejawat, dipakai lebih dari 250 organisasi termasuk sejumlah pemerintah daerah⁶. Yang menarik bukan semata jumlah proksinya, melainkan bahwa setiap angka dapat ditelusuri balik ke sumbernya tanpa kotak hitam yang menyembunyikan asumsi, persis kebalikan dari cara kerja saraf yang menipu inderanya sendiri. Bagi organisasi Indonesia, gagasan serupa bisa dimulai dari proksi yang sudah tersedia di ranah publik, semisal upah minimum provinsi atau tarif BPJS Kesehatan, tinggal disusun konsisten sebagai satu basis rujukan.
Lapisan paling mutakhir adalah pembelajaran mesin untuk memproses data kualitatif dalam skala besar. Kolaborasi Rural Senses, University of Southern California, dan Amref Health Africa, dengan pendanaan USAID, memanfaatkan pemrosesan bahasa alami agar stakeholder bisa bertutur bebas tentang pengalamannya, yang kemudian dikategorikan otomatis, sekaligus melatih pemuda setempat memahami metodologi SROI itu sendiri⁷. Kecerdasan buatan di sini bukan pengganti kearifan kontekstual manusia, melainkan pengganda kapasitas pada skala yang dulu muskil dijangkau cara manual.
Bukti dari Lapangan
YMCA Victoria di Australia memusatkan datanya lewat platform digital selama tujuh tahun, hingga mampu mengalokasikan hanya sekitar sepuluh persen anggarannya untuk evaluasi dan sembilan puluh persen untuk program itu sendiri. Bukti paling nyata datang justru di masa tersulit: ketika pandemi membatasi tatap muka, evaluasi digital atas program Virtual Y berhasil menghimpun bukti dampak yang meyakinkan untuk mengamankan dana tambahan sekitar 200 ribu dolar Australia dari pemerintah negara bagian⁸. Data yang sigap, dalam kasus ini, bukan sekadar laporan. Ia adalah nyawa program pada saat paling genting.
Pola serupa terlihat pada Mission Edge di San Diego, yang membangun dasbor pemantauan waktu nyata untuk tiga program sekaligus hanya dalam empat bulan setelah bertahun-tahun mengandalkan catatan tempel dan lembar kerja Google⁹. Dua kisah ini, dari benua berbeda dan skala berbeda, menunjuk pada satu benang merah yang sama: organisasi yang datanya sigap bukan sekadar memiliki data yang rapi, ia hidup dari datanya, tepat ketika Prinsip-8 menuntutnya.
Yang Tak Bisa Diserahkan ke Algoritma
Digitalisasi mempercepat proses, tetapi tidak otomatis menjamin kebenaran data. Prinsip garbage in, garbage out tetap berlaku. Kritik akademik terhadap SROI mengingatkan bahwa persoalan struktural monetisasi dan subjektivitas tidak lantas selesai hanya karena prosesnya dipindahkan ke layar komputer, bahkan visualisasi yang rapi bisa memperbesar kepercayaan semu terhadap data yang mutunya sebenarnya tidak berubah¹⁰. Variabel penyesuaian seperti deadweight dan attribution pun amat bergantung konteks lokal, sehingga otomatisasi penuh berisiko menyeragamkan asumsi secara berlebihan dan menghilangkan kearifan yang justru jadi kekuatan SROI.
Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi mewajibkan setiap pengendali data, termasuk lembaga nirlaba dan divisi TJSL, menjaga keamanan data penerima manfaatnya¹¹, sebuah kewajiban yang sesungguhnya selaras dengan semangat Prinsip-8: data yang dikelola bertanggung jawab adalah prasyarat agar organisasi berhak dipercaya ketika hendak bertindak atas nama pemangku kepentingannya. Ada pula risiko yang jarang disebut: sistem yang dibangun dengan dana proyek jangka pendek tapi tak dianggarkan pemeliharaannya, akan kembali membeku begitu hibah donor usai, tak ubahnya saraf yang mati karena tidak pernah dirawat.
Wajah Lain dari Proses yang Sama
Manajemen program di awal tulisan ini, dengan tiga bulan menggali data dari nol dan berdebat panjang bersama auditor, sesungguhnya menyimpan versi lain dari dirinya sendiri: penilaian dampak menyatu dengan aktivitas program sejak hari pertama, tidak lagi terpisah dan menunggu penghujung tahun. Data mengalir dari lapangan tiap pekan, proksinya tersambung otomatis ke basis yang tertelaah sejawat, dan dasbornya dapat dibuka kapan saja oleh siapa pun yang berkepentingan. Bedanya bukan sekadar kecepatan. Bedanya adalah apakah organisasi itu benar-benar sanggup merasakan dampaknya sendiri, cukup dini untuk memaksimalkan yang baik dan menghentikan yang buruk, sebelum momentum untuk bertindak lewat begitu saja.
Nasihat paling praktis bagi siapa pun yang hendak memulai: bereskan dulu fondasi data di lapangan, sebelum tergoda membeli modul kecerdasan buatan paling mutakhir. Organisasi yang melompati fondasi itu hanya akan memproduksi kekeliruan yang lebih cepat, dan celakanya, tampak jauh lebih meyakinkan secara visual.
Transformasi digital pengukuran SROI, pada akhirnya, bukan proyek menyederhanakan hitungan matematis di balik layar. Ia adalah upaya membangun sistem saraf yang hidup bagi investasi sosial kita sendiri, sebagaimana ditegaskan literatur SROI Indonesia sejak dekade lalu bahwa metodologi ini pada dasarnya adalah teknik mengukur manfaat program secara bertanggung jawab, bukan sekadar hiasan angka dalam laporan tahunan¹². Pertanyaannya bagi setiap pemimpin organisasi sosial hari ini bukan lagi apakah harus bertransformasi, melainkan seberapa sigap mereka bersedia merespons, mulai dari langkah pertama itu.
Referensi
- Nicholls, J., Lawlor, E., Neitzert, E., & Goodspeed, T. (2012). A Guide to Social Return on Investment (SROI). Social Value International (Cabinet Office UK).
- Social Value International. (2021). Introducing the standard for Principle 8: Be Responsive. socialvalueint.org.
- Social Value UK. (2021). Standard on applying Principle 8: Be Responsive. socialvalueuk.org.
- Social Value Indonesia. (2021). Principle 8: Be Responsive. socialvalue.id.
- Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2025). Survei penetrasi dan perilaku pengguna internet Indonesia 2025. apjii.or.id.
- Social Value Engine. (2025). Prove your impact: Social value and SROI platform. socialvalueengine.com.
- Rural Senses. (2024). Social Return on Investment (SROI): Enhanced impact with data driven insights. ruralsenses.com.
- Socialsuite. (2024). YMCA Victoria proves its programs are worth investing in. Here’s how. socialsuitehq.com.
- Socialsuite. (2024). Mission Edge builds capacity for impact measurement with Socialsuite within 4 months. socialsuitehq.com.
- Maier, F., Schober, C., Simsa, R., & Millner, R. (2015). SROI as a method for evaluation research: Understanding merits and limitations. Voluntas: International Journal of Voluntary and Nonprofit Organizations, 26(5), 1805-1830.
- Republik Indonesia. (2022). Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
- Purwohedi, U. (2016). Social Return on Investment (SROI): Sebuah teknik untuk mengukur manfaat/dampak dari sebuah program atau proyek. Jakarta: Rajawali Pers.











