SOCIALINVESTMENT.ID – Bogor, 8 Oktober 2026 – Mengelola program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berskala nasional membutuhkan lebih dari sekadar pelaksanaan kegiatan. Diperlukan kemampuan manajerial yang kuat agar setiap program tepat sasaran, terukur, dan menghasilkan dampak berkelanjutan. Untuk menjawab tantangan tersebut, PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pendidikan dan Pelatihan (UPDL) Bogor berkolaborasi dengan Social Investment Indonesia (SII) menyelenggarakan In House Training (IHT) bertajuk “Strategi Pencapaian Kinerja Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)” pada 7–8 Oktober 2026.

Pelatihan yang berlangsung secara daring ini diikuti 65 manajer dari berbagai unit dan subholding PLN di seluruh Indonesia. Kegiatan dibuka oleh Kharisma Haris Adyanto, Assistant Manager Pelaksanaan Pembelajaran PLN UPDL Bogor, yang menekankan pentingnya pengelolaan TJSL secara profesional, terukur, dan berorientasi dampak bagi masyarakat maupun perusahaan.

Urgensi peningkatan kapasitas ini sejalan dengan besarnya cakupan program PLN Peduli. Sepanjang 2025, program TJSL PLN telah menjangkau 701.938 penerima manfaat melalui 1.627 program di 38 provinsi, menyerap 34.408 tenaga kerja, serta melibatkan 23.335 usaha mikro dan kecil. Skala tersebut menuntut pengelolaan program yang semakin strategis, akuntabel, dan berbasis hasil.
Menghadirkan dua fasilitator SII, Fajar Kurniawan dan Purnomo, pelatihan dirancang dengan pendekatan aplikatif sesuai karakteristik proses bisnis pembangkitan, transmisi, dan distribusi.

Pada hari pertama, Fajar Kurniawan membahas manajemen proyek CSR/TJSL, regulasi terkait, Theory of Change, serta teknik social mapping dan stakeholder mapping. Pembelajaran diarahkan untuk memperkuat kemampuan peserta dalam memahami persoalan sosial dan mengidentifikasi pemangku kepentingan di wilayah operasional masing-masing.
Purnomo kemudian mengulas penyusunan Logical Framework Approach (LFA), indikator kinerja, Project Charter, Work Breakdown Structure (WBS), S-Curve, serta perencanaan biaya sebagai perangkat penting dalam memastikan efektivitas pengelolaan proyek TJSL.
Memasuki hari kedua, peserta mendalami manajemen risiko sosial, penyusunan Risk Register, strategi mitigasi risiko, serta pencegahan fraud. Materi dilanjutkan dengan pengelolaan kemitraan, pemantauan keuangan, pelaporan kinerja, serta pengenalan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan Social Return on Investment (SROI) sebagai instrumen evaluasi manfaat dan dampak program. Pembahasan juga mencakup keterkaitan pengelolaan TJSL dengan kriteria PROPER.
Melalui penguatan kompetensi tersebut, para manajer diharapkan mampu mengintegrasikan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian risiko, serta pengukuran dampak ke dalam pengelolaan program TJSL yang lebih efektif.
Kolaborasi PLN UPDL Bogor dan SII ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas investasi sosial perusahaan, sekaligus mendorong transformasi TJSL dari pendekatan berbasis aktivitas menuju pengelolaan berbasis hasil dan dampak berkelanjutan.


