Bisnis Sosial dan BoP – Bagian Ketiga

Back to Pos

Bisnis Sosial dan BoP – Bagian Ketiga

[fusion_builder_container type=”flex” hundred_percent=”no” equal_height_columns=”no” menu_anchor=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=”” background_color=”” background_image=”” background_position=”center center” background_repeat=”no-repeat” fade=”no” background_parallax=”none” parallax_speed=”0.3″ video_mp4=”” video_webm=”” video_ogv=”” video_url=”” video_aspect_ratio=”16:9″ video_loop=”yes” video_mute=”yes” overlay_color=”” video_preview_image=”” border_color=”” border_style=”solid” padding_top=”” padding_bottom=”” padding_left=”” padding_right=””][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ layout=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_color=”” border_style=”solid” border_position=”all” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding_top=”” padding_right=”” padding_bottom=”” padding_left=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” center_content=”no” last=”true” min_height=”” hover_type=”none” link=”” border_sizes_top=”” border_sizes_bottom=”” border_sizes_left=”” border_sizes_right=”” first=”true”][fusion_text columns=”” column_min_width=”” column_spacing=”” rule_style=”default” rule_size=”” rule_color=”” content_alignment_medium=”” content_alignment_small=”” content_alignment=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” sticky_display=”normal,sticky” class=”” id=”” margin_top=”” margin_right=”” margin_bottom=”” margin_left=”” font_size=”” fusion_font_family_text_font=”” fusion_font_variant_text_font=”” line_height=”” letter_spacing=”” text_color=”” animation_type=”” animation_direction=”left” animation_speed=”0.3″ animation_offset=””]

Oleh: Jalal
Pimpinan Dewan Penasihat – Social Investment Indonesia

Apakah model-model bisnis konvensional bisa kompatibel dalam membantu kelompok-kelompok miskin yang berada pada the base of the pyramid (BoP)?  Tampaknya tidak demikian.  Model-model bisnis konvensional yang dikenal hingga sekarang memiliki kecenderungan untuk memiliki perhatian tunggal, sehingga ‘membantu’ kelompok-kelompok miskin akan dianggap sebagai beban atau setidaknya distraksi yang tidak diperlukan untuk keberhasilan bisnis.

Di lain pihak, model-model bisnis berkelanjutan agaknya sangat kompatibel dengan tujuan tersebut.  Pada tahun 2010, Ludeke-Freund mengajukan pengertian model-model bisnis berkelanjutan sebagai berikut: “…business models that create competitive advantage through superior customer value and contribute to a sustainable development of the company and society.”  Sebagai konsekuensinya, sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa pakar, model-model bisnis berkelanjutan itu memiliki elemen-elemen serupa, yaitu berfokus pada para pemangku kepentingan, menghargai nilai-nilai yang beragam, dan dipersatukan oleh tujuan pembangunan berkelanjutan.  Hal ini, membuat model-model bisnis itu berkelindan dan kompatibel dengan tujuan penghilangan kemiskinan.

Model-model bisnis berkelanjutan juga sangat sesuai dengan tujuan mulia itu karena bukan saja lebih sensitif terhadap beragam dampak lingkungan dan sosial negatif yang cenderung lebih merugikan kelompok-kelompok miskin, melainkan juga memahami bahwa beragam dampak negatif itu sudah seharusnya dihindari, diminimalkan, direstorasi dan dikompensasi.  Lebih jauh daripada pengelolaan dampak negatif yang komprehensif itu, model-model bisnis berkelanjutan bahkan menaruh perhatian khusus kepada mereka yang kurang beruntung, dan kepada merekalah dampak-dampak positif lebih diutamakan.

Menurut Dembek dan York dalam artikel mereka, Applying the Sustainable Business Models Lens to Mutual Value Creation with Base of the Pyramid (2020), perbedaan paling mencolok antara model bisnis yang konvensional versus yang berkelanjutan adalah pada aspek keuntungan, perspektif, kerangka waktu, dan nilai yang diciptakan.  Buat bisnis konvensional, keuntungan adalah tujuan; perspektifnya terbatas pada perusahaan saja; kerangka waktu untuk pengambilan keputusannya cenderung pendek; dan nilai yang diciptakan akan dikonversi menjadi keuntungan untuk perusahaan dan pemilik modalnya semata.

Sementara, buat bisnis berkelanjutan keuntungan itu adalah alat belaka, sementara tujuannya adalah perbaikan kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan; perspektifnya melihat seluruh sistem; kerangka waktunya cenderung berjangka panjang, dengan menyeimbangkan tujuan jangka pendek dan panjang dari seluruh pemangku kepentingannya; dan nilai yang tercipta itu harus menjadi manfaat buat seluruh pemangku kepentingan.

Keempat aspek itu membuat Dembek dan York yakin atas kompatibilitas model bisnis berkelanjutan itu bisa dimanfaatkan untuk mengikutsertakan kelompok-kelompok miskin ke dalam rantai pasok perusahaan-perusahaan yang demikian, termasuk perusahaan-perusahaan sosial.  Pada aspek pertama itu, perusahaan yang berkelanjutan cenderung tidak segera menarik diri dari hubungan dengan pemasok dari kelompok-kelompok miskin yang belum memberikan keuntungan.  Malahan, perusahaan akan cenderung berinvestasi kepada mereka untuk menaikkan kapabilitas.

Aspek kedua itu membuat perusahaan-perusahaan berkelanjutan melihat kemiskinan sebagai isu yang sistemik, membutuhkan campur tangan semua pihak termasuk bisnis.  Bisnis yang baik untuk keberlanjutan itu harus melihat kemiskinan secara komprehensif, dan menyelesaikan beragam isu terkait sekaligus.

Aspek ketiga membuat perusahaan yang berkelanjutan lebih ‘bersabar’ terhadap kelompok-kelompok miskin.  Kelompok-kelompok itu dipandang sebagai salah satu pemangku kepentingan terpenting yang membutuhkan investasi lebih banyak, dan dilihat dalam kerangka waktu yang lebih panjang, sementara kebutuhkan-kebutuhan jangka pendeknya juga penting untuk dibantu pemenuhannya.

Aspek terakhir mendorong perusahaan yang berkelanjutan untuk memastikan adanya manfaat khusus dari bisnis bagi kelompok-kelompok miskin, termasuk peningkatan pengetahuan dan kapasitas.  Pada akhirnya, ketika kelompok-kelompok miskin itu memiliki pengetahuan dan kapasitas yang semakin tinggi, mereka kemudian akan menjadi mitra penciptaan nilai yang lebih besar lagi bagi perusahaan yang sudah membantu mereka.

–##–

Artikel ini dirilis juga pada epaper Kontan pada tanggal 3 Juni 2021

[/fusion_text][/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

Share this post

Tinggalkan Balasan

Back to Pos
%d blogger menyukai ini: