Strategi Keberlanjutan Bisnis Sosial – Bagian Kedua

Back to Pos

Strategi Keberlanjutan Bisnis Sosial – Bagian Kedua

[fusion_builder_container type=”flex” hundred_percent=”no” equal_height_columns=”no” menu_anchor=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=”” background_color=”” background_image=”” background_position=”center center” background_repeat=”no-repeat” fade=”no” background_parallax=”none” parallax_speed=”0.3″ video_mp4=”” video_webm=”” video_ogv=”” video_url=”” video_aspect_ratio=”16:9″ video_loop=”yes” video_mute=”yes” overlay_color=”” video_preview_image=”” border_color=”” border_style=”solid” padding_top=”” padding_bottom=”” padding_left=”” padding_right=””][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ layout=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_color=”” border_style=”solid” border_position=”all” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding_top=”” padding_right=”” padding_bottom=”” padding_left=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” center_content=”no” last=”true” min_height=”” hover_type=”none” link=”” border_sizes_top=”” border_sizes_bottom=”” border_sizes_left=”” border_sizes_right=”” first=”true”][fusion_text columns=”” column_min_width=”” column_spacing=”” rule_style=”default” rule_size=”” rule_color=”” content_alignment_medium=”” content_alignment_small=”” content_alignment=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” sticky_display=”normal,sticky” class=”” id=”” margin_top=”” margin_right=”” margin_bottom=”” margin_left=”” font_size=”” fusion_font_family_text_font=”” fusion_font_variant_text_font=”” line_height=”” letter_spacing=”” text_color=”” animation_type=”” animation_direction=”left” animation_speed=”0.3″ animation_offset=””]

Oleh:
Jalal – Pimpinan Dewan Penasihat Social Investment Indonesia
Wahyu Aris Darmono – Pendiri dan Komisaris WISESA

Penelitian Ioannou dan Serafeim (2019) yang kami bahas pada artikel sebelumnya menyatakan bahwa keberlanjutan telah menjadi fenomena universal, sehingga perusahaan yang baru masuk—baik itu perusahaan komersial maupun perusahaan sosial—harus mengadopsi praktik-praktik keberlanjutan yang sudah dianggap lumrah.

Penelitian yang sama juga mengungkapkan bahwa faktor kedua yang mendorong konvergensi yang lebih tinggi dalam industri, hingga lebih cepat menuju status praktik terbaik, adalah kepentingan relatif. Dominasi relatif isu-isu lingkungan dan sosial sangatlah jelas dibandingkan dengan isu tata kelola. Lantaran para pemangku kepentingan melihat isu-isu lingkungan dan sosial lebih materiakmaka jelas pula jejak isu-isu tersebut pada model bisnis perusahaan dan potensi penciptaan nilai (value creation) di berbagai perusahaan.

Kemudian, penelitian tersebut juga menemukan bahwa tekanan dari pemangku kepentingan tidaklah sama untuk setiap industri. Oleh karena itu, di tingkat industri, ada variasi yang jelas mengenai seberapa penting suatu isu lingkungan atau sosial. Variasi itu juga mendorong seberapa cepat atau lambat suatu industri cenderung bersepakat atas apa yang perusahaan-perusahaan di dalamnya lihat sebagai praktik terbaik.

Faktor kedua ini, menurut kami, lagi-lagi menempatkan perusahaan sosial berada di bawah sorotan yang lebih kuat. Perusahaan sosial perlu menyatakan secara tegas isu lingkungan atau sosial (juga ekonomi) mana yang hendak dipecahkan, serta apakah model bisnisnya memang sesuai dengan tujuan tersebut. Mungkin tidak seluruh pemangku kepentingan akan melakukan penelitian mendalam, namun jelas dengan transparensi yang kini makin tinggi, pemangku kepentingan yang hendak melakukannya akan dengan mudah menemukan informasi yang mereka cari.

Detail kumpulan data lingkungan, sosial dan tata kelola (environmental, social and governance, disingkat ESG) dari MSCI yang digunakan dalam penelitian itu juga memungkinkan Ioannou dan Serafeim untuk membedakan di antara seluruh praktik keberlanjutan yang ada dan menyelidiki implikasi kinerjanya. Mereka tidak hanya melihat praktik keberlanjutan yang umum dilakukan, tetapi juga praktik keberlanjutan yang lebih spesifik untuk setiap industri. Mereka berhasil mengidentifikasi sekumpulan praktik keberlanjutan yang makin banyak dilakukan oleh perusahaan di industri tertentu dari waktu ke waktu.

Jadi memang ada praktik keberlanjutan yang umum berlaku untuk seluruh industri—seperti misalnya efisiensi energi—dan praktik keberlanjutan yang umum berlaku di sebuah industri tertentu. Tetapi, ada juga praktik-praktik yang baru dilakukan oleh perusahaan-perusahaan paling progresif di industri tertentu. Ketika kemudian diselidiki lebih lanjut, penerapan praktik keberlanjutan yang unik inilah, yaitu yang baru dilakukan oleh perusahaan-perusahaan paling progresif, yang secara positif dan signifikan terkait dengan kinerja keuangan, baik nilai akuntansi maupun pasar.

Data tersebut memberi tahu kita bahwa praktik keberlanjutan yang unik lebih cenderung berkorelasi dengan dampak keuangan yang positif, dan kinerja yang lebih baik. Sebaliknya, penerapan praktik keberlanjutan yang sudah umum dilakukan, walaupun tetap penting, biasanya tidak lagi dapat diandalkan untuk mendongkrak kinerja keuangan. Tetapi, ketika suatu perusahaan gagal menerapkan praktik keberlanjutan yang dianggap sudah lumrah berlaku, dipastikan pula bahwa kinerja keuangannya akan menurun. Pemangku kepentingan akan melihat secara jelas bahwa perusahaan itu sebagai laggard alias ketinggalan zaman, dan perusahaan segera menjadi tidak popular.

Di industri manapun, kini sudah terdapat beberapa inisiatif keberlanjutan yang dianggap menjadi praktik standar, sehingga semua bisnis harus menerapkannya. Praktik ini menapis apakah sebuah perusahaan bisa bertahan di industri bersangkutan. Tetapi data juga menunjukkan bahwa hanya perusahaan-perusahaan yang dapat menciptakan keunggulan strategis nyata dengan mengadopsi inisiatif keberlanjutan yang tidak dapat dengan mudah ditiru oleh kompetitor mereka sajalah yang akan meraup keuntungan besar dibandingkan yang lain.

Konsekuensi bagi bisnis sosial sangatlah jelas: mereka yang sekadar ingin diterima dan bertahan eksistensinya pada industri tertentu perlu mengidentifikasi praktik-praktik keberlanjutan yang sudah lumrah dilakukan. Tetapi, supaya bisa menjadi menonjol kehadirannya, maka perusahaan sosial perlu untuk melakukan inovasi-inovasi keberlanjutan yang bisa membuat para pemangku kepentingannya langsung bisa memahami keunggulan mereka dibandingkan perusahaan lain yang sudah ada di industri tersebut—baik yang komersial ataupun sosial. Mekanisme inilah yang membuat perusahaan-perusahaan sosial bisa melesatkan dampak sosialnya sekaligus kinerja finansialnya secara paralel.

–##–

Artikel ini direpost dari: https://epaper.kontan.co.id/news/720555/Strategi-Keberlanjutan-Bisnis-Sosial-2

[/fusion_text][/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

Share this post

Tinggalkan Balasan

Back to Pos
%d blogger menyukai ini: