Strategi Keberlanjutan Bisnis Sosial – Bagian Pertama

Oleh:
Jalal – Pimpinan Dewan Penasihat Social Investment Indonesia
Wahyu Aris Darmono – Pendiri dan Komisaris WISESA

Dapatkah keberlanjutan menjadi strategi bisnis? Begitu yang banyak sekali ditanyakan oleh mereka yang memiliki aspirasi menjadi wirausahawan sosial. Pertanyaan itu sangatlah wajar mengingat dalam contoh-contoh keberhasilan perusahaan komersial kerap kali digambarkan bahwa kesadaran tentang keberlanjutan datang belakangan. Banyak yang meyakini bahwa perusahaan-perusahaan yang sukses itu tidak peduli kepada keberlanjutan, namun ketika sudah memiliki sumberdaya finansial yang besar, mereka kemudian bisa mulai mengalokasikan anggarannya untuk keberlanjutan.

Gambaran tersebut, walau jelas mengandung kebenaran, tidaklah kemudian membuatnya 100 persen tepat, dan bisa direplikasi oleh perusahaan-perusahaan yang muncul belakangan. Apakah mungkin perusahaan-perusahaan yang baru lahir di era sekarang—dengan risiko keberlanjutan yang jauh lebih kompleks, serta kesadaran investor dan konsumen yang jauh lebih tinggi—bisa memulai dengan kepedulian yang rendah pada keberlanjutan? Agaknya sudah tidak bisa lagi.

Seperti yang terlihat di hampir seluruh industri dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak perusahaan di seluruh dunia yang secara sukarela mengadopsi dan menerapkan berbagai praktik keberlanjutan. Di antara para akademisi manajemen, tingkat percepatan adopsi praktik-praktik ini juga memicu perdebatan tentang sifat keberlanjutan dan implikasi jangka panjangnya bagi perusahaan komersial maupun sosial.

Apakah penerapan praktik keberlanjutan itu merupakan bentuk diferensiasi strategis yang dapat menghasilkan kinerja keuangan yang akan mengungguli kompetitor yang masih kurang peduli? Ataukah keberlanjutan hanya merupakan kebutuhan strategis yang dapat memastikan bahwa perusahaan Anda bertahan, lantaran relevan dengan tuntutan zaman, tetapi belum tentu berkinerja lebih baik?

Untuk menjawab pertanyaan ini secara akademis, Profesor Ioannis Ioannou dari London Business School dan Profesor George Serafeim dari Harvard Business School menggunakan data dari rating ESG MSCI antara 2012-2017, yang mencakup 3.802 perusahaan. Menurut mereka, data yang dianalisis itu mengungkapkan bahwa dalam sebagian besar industri, dan secara global, praktik keberlanjutan telah benar-benar menjadi universal (Ioannou dan Serafeim, 2019).

Secara rerata, perusahaan mengadopsi serangkaian praktik keberlanjutan yang semakin mirip dan itu menyiratkan bahwa praktik-praktik ini menjadi praktik terbaik yang umum. Isomorfisme terjadi dalam keberlanjutan, dan itu artinya keberlanjutan sudah menjadi kebutuhan strategis untuk dikaitkan dengan kelangsungan hidup perusahaan. Kalau seluruh perusahaan kompetitor memiliki inisiatif, kinerja, dan melaporkan informasi yang mirip, bisakah perusahaan yang baru masuk mengabaikannya?

Tetapi, analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa ada sesuatu di balik konvergensi diferensial industri. Ioannou dan Serafeim menemukan bahwa salah satu faktor terpenting yang terkait dengan tingkat konvergensi yang lebih cepat di industri tertentu adalah penerapan praktik keberlanjutan oleh perusahaan yang menjadi pemimpin pasar di industri bersangkutan.

Bisnis yang berkembang pesat secara finansial di industri apa pun, ketika mereka akhirnya memutuskan untuk juga menjadi pemimpin dalam isu-isu keberlanjutan, kemudian membuat seluruh perusahaan dalam industrinya akan mengikuti. Ini karena perusahaan-perusahaan memang cenderung meniru perusahaan terbaik dalam industrinya sendiri. Oleh karena itu, dalam industri di mana lebih banyak pemimpin pasar memutuskan untuk juga menjadi pemimpin keberlanjutan, maka industri tersebut lebih cepat mengadopsi praktik-praktik keberlanjutan, bahkan memiliki standar keberlanjutan industri yang didukung penuh oleh perusahaan-perusahaan.

Dengan konvergensi standar dan praktik keberlanjutan di setiap industri yang telah menjadi umum sejak hampir satu dekade lalu, masih mungkinkah perusahaan sosial mengikuti strategi kuno untuk menjadi sukses secara finansial dahulu baru melirik keberlanjutan? Secara filosofis, sebetulnya jelas pertanyaan itu sudah mengingkari ide dasar pendirian bisnis sosial. Namun juga, secara strategis hal itu sudah tak lagi bisa dilakukan. Bukankah ekspektasi pemangku kepentingan secara otomatis akan lebih tinggi begitu sebuah perusahaan menyatakan dirinya melaksanakan bisnis sosial?

Ekspektasi yang tinggi itu akan diikuti oleh upaya mencari tahu soal kebijakan, praktik dan kinerja pengelolaan lingkungan dan sosial, atau yang sekarang kerap digambarkan dengan satu kata: dampak. Lebih lanjut lagi, para pemangku kepentingan akan mencari tahu bagaimana kaitan antara dampak itu dengan model bisnis perusahaan. Hal ini akan kami bahas pada artikel selanjutnya.

–##–

Artikel ini direpost dari: https://epaper.kontan.co.id/news/720555/Strategi-Keberlanjutan-Bisnis-Sosial-1

2021-04-07T16:06:45+07:00

About the Author:

Social Investment Indonesia (SII) merupakan perusahaan konsultan yang mempunyai dedikasi untuk mengembangkan dan menyebarkan peran penting & strategis serta manfaat investasi sosial, baik bagi perusahaan maupun pemangku kepentingannya. Melalui pendekatan yang kami miliki dan telah teruji secara empiris, kami memiliki keyakinan bahwa kami dapat memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan pemangku kepentingannya

Tinggalkan Balasan

Go to Top