Oleh:
Jalal – Chairperson of Advisory Board
Wahyu Aris Darmono – Senior Advisor
Social Investment Indonesia
Ketika sebuah perusahaan Indonesia menerbitkan laporan keberlanjutan yang dilengkapi pernyataan assurance, yang wujudnya adalah dokumen setebal beberapa halaman yang menyatakan jaminan kebenaran informasi keberlanjutan yang terdapat dalam laporan, itu sebenarnya mewakili sebuah pilihan dari tiga kerangka kerja yang berbeda secara fundamental: AA1000 Assurance Standard (AA1000AS), International Standard on Assurance Engagements (ISAE) 3000, atau—mulai Desember 2026 mendatang—juga International Standard on Sustainability Assurance (ISSA) 5000. Pilihan standar bukan sekadar formalitas teknis. Ia mencerminkan filosofi tentang apa artinya akuntabilitas keberlanjutan, kepada siapa perusahaan bertanggung jawab, dan sejauh mana klaim keberlanjutan dapat dipercaya.
Selama dua dekade terakhir, dua standar yang kami sebut pertama itu hidup berdampingan, sering kali membingungkan perusahaan, investor, dan pemangku kepentingan yang ingin memahami kualitas dan implikasi assurance yang tertera dalam laporan keberlanjutan. Dengan berlakunya ISSA 5000, lanskap ini akan berubah secara signifikan. Memahami perbedaan ketiga standar tersebut, dan mengapa persiapan untuk transisi ini tidak bisa ditunda, menurut kami adalah agenda mendesak bagi setiap eksekutif keberlanjutan perusahaan yang serius.
AA1000AS: Asurance Berbasis Prinsip Pemangku Kepentingan
AA1000 Assurance Standard, yang pertama kali diterbitkan oleh AccountAbility pada 1999 dan telah diperbarui menjadi versi ketiga (v3) sejak 2021, dibangun di atas fondasi yang berbeda dari standar audit tradisional. Proses assurance dimulai dengan mengevaluasi kepatuhan organisasi terhadap Prinsip-prinsip AccountAbility: Inklusivitas, Materialitas, Responsivitas, dan Dampak. Ini adalah standar yang secara eksplisit menempatkan keterlibatan pemangku kepentingan sebagai inti dari akuntabilitas keberlanjutan.
AA1000AS menyediakan dua tipe assurance: Tipe 1, yang menilai tingkat kepatuhan organisasi terhadap Prinsip-prinsip AA1000AP; dan Tipe 2, yang menambahkan penilaian keandalan informasi spesifik tentang kinerja keberlanjutan. Dalam hal intensitas, AA1000AS menggunakan terminologi ‘tinggi’ dan ‘moderat’.
Kekuatan terbesar AA1000AS terletak pada fokusnya yang unik pada proses materialitas dan keterlibatan pemangku kepentingan, yang merupakan dimensi yang tidak ditangani secara mendalam oleh standar berbasis audit keuangan. AA1000 dan ISAE 3000/ISSA 5000, karenanya, bersifat komplementer, bukan kompetitif. Banyak organisasi menggunakan AA1000 untuk menjamin kualitas keterlibatan pemangku kepentingan, penilaian materialitas, dan tata kelola ESG; sementara menggunakan ISAE 3000 atau kelak ISSA 5000 untuk assurance atas data yang mereka ungkapkan.
Namun AA1000AS memiliki keterbatasan yang sudah banyak diungkap pakar dalam bidang ini. AA1000AS memiliki basis praktisi yang lebih sempit dibanding ISAE 3000, dan Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) dari Uni Eropa serta sebagian besar persyaratan jurisdiksi lain merujuk ISAE 3000 (dan akan merujuk ISSA 5000); sementara AA1000AS tidak secara spesifik direferensikan dalam regulasi-regulasi tersebut. Selain itu, AA1000AS bergantung pada lisensi dari AccountAbility dan relatif kurang dikenal di kalangan regulator pasar modal.
ISAE 3000: Standar Umum yang Dominan
Sementara ISAE 3000 (Versi Revisi), yang diterbitkan oleh IAASB dan berlaku sejak 2015, adalah standar yang telah mendominasi praktik assurance keberlanjutan secara global selama satu dekade terakhir. Sebenarnya, ISAE 3000 adalah standar assurance umum untuk informasi non-keuangan, bukan hanya informasi keberlanjutan, namun menjadi marak penggunaannya lantaran peningkatan kebutuhan penjaminan atas kebenaran data ESG, untuk memerangi praktik ESG-washing.
Kekuatan ISAE 3000 terletak pada penerimaannya yang luas: standar ini diakui oleh regulator pasar modal di seluruh dunia, didukung oleh infrastruktur etika (Kode International Ethics Standards Board for Accountants atau IESBA) juga untuk manajemen kualitas (International Standard on Quality Management atau ISQM 1) yang mapan, dan dipahami oleh hampir semua firma akuntan publik besar. Per pertengahan Februari 2025, lebih dari 70 laporan CSRD di 16 jurisdiksi Eropa telah diterbitkan dengan assurance terbatas menggunakan ISAE 3000.
Namun, bagaimanapun, masalah fundamental ISAE 3000 adalah sifatnya yang generik. ISAE 3000 adalah standar assurance umum yang digunakan secara luas untuk pengungkapan keberlanjutan sejak satu dekade lampau, tetapi tidak dirancang khusus untuk subjek keberlanjutan. Ia tidak memberikan panduan yang memadai tentang bagaimana menangani materialitas dampak (impact materiality), informasi rantai nilai, juga pernyataan berwawasan ke depan (forward-looking statements), atau pengungkapan kualitatif yang menjadi ciri khas laporan keberlanjutan modern. Dalam konteks tuntutan yang semakin tinggi atas keandalan informasi ESG, kami merasa bahwa standar yang dirancang untuk berbagai jenis subjek non-keuangan ini sesungguhnya tidak lagi cukup.
ISSA 5000: Standar yang Dibangun Khusus untuk Keberlanjutan
ISSA 5000 adalah standar assurance keberlanjutan yang dibangun secara khusus oleh International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB), berlaku efektif Desember 2026, dan dirancang untuk menangani informasi berwawasan ke depan, data rantai nilai, dan pengungkapan kualitatif.
Dengan cakupan 212 persyaratan—lebih dari dua kali lipat ISAE 3000—ISSA 5000 adalah standar mandiri (stand-alone). ISSA 5000 merupakan standar menyeluruh yang menangani persyaratan dasar yang mencakup proses end-to-end dari assurance keberlanjutan, mulai dari penerimaan dan keberlangsungan hingga pelaporan. Ia menggantikan ISAE 3000 untuk pelaporan keberlanjutan dan secara resmi menarik ISAE 3410 yang selama ini digunakan untuk assurance spesifik terkait informasi GHG.
Yang paling kritis, ISSA 5000 memerkenalkan persyaratan yang tidak ada dalam standar sebelumnya: penilaian risiko kesalahan penyajian informasi material di tingkat pengungkapan (untuk tingkat assurance terbatas) dan di tingkat assertions (untuk tingkat assurance wajar); pengakuan eksplisit atas double materiality; penanganan khusus atas informasi rantai nilai dan data berwawasan ke depan; selain transparansi yang lebih besar dalam laporan assurance mengenai standar etika dan manajemen kualitas yang diterapkan.
Perbandingan Tiga Standar
Tabel berikut merangkum dimensi-dimensi kunci ketiga standar untuk membantu pemimpin perusahaan dan profesional keberlanjutan memahami posisi masing-masing:
| Dimensi | AA1000AS v3 | ISAE 3000
(Versi Revisi) |
ISSA 5000 |
| Penerbit | AccountAbility (NGO) | IAASB (badan audit internasional) | IAASB (badan audit internasional) |
| Tahun terakhir | 2021 (v3) | 2013 (berlaku 2015) | 2024 (berlaku Desember 2026) |
| Orientasi dasar | Prinsip pemangku kepentingan | Umum (non-keuangan) | Khusus keberlanjutan (ESG) |
| Fokus utama | Proses: inklusivitas, materialitas, responsivitas, dampak | Data & informasi non-keuangan secara umum | Data, proses, pengendalian, dan tata kelola ESG secara terintegrasi |
| Tingkat assurance | Tinggi / Moderat
(Tipe 1 & Tipe 2) |
Terbatas / Wajar | Terbatas (L) / Wajar (R) — dengan diferensiasi lebih tajam |
| Pelaku assurance | Praktisi berlisensi AccountAbility | Akuntan publik (umumnya) | Agnostik profesi — akuntan dan non-akuntan |
| Cakupan laporan | Laporan keberlanjutan (GRI, dll.) | Semua informasi non-keuangan | Semua informasi keberlanjutan (ESG), termasuk GHG |
| Materialitas | Materialitas pemangku kepentingan | Tidak spesifik untuk keberlanjutan | Materialitas bifurkasi + double materiality (finansial & dampak) |
| Rantai nilai | Terbatas | Terbatas | Panduan khusus dan eksplisit |
| Informasi forward-looking | Terbatas | Sangat terbatas | Persyaratan dan panduan spesifik |
| Infrastruktur etika/kualitas | Lisensi AccountAbility | IESBA Code + ISQM 1 | IESBA Code + ISQM 1 + IESSA (Januari 2025) |
| Status regulasi | Tidak direferensikan oleh CSRD/IOSCO | Direferensikan oleh CSRD & regulasi utama | Akan menjadi global baseline — EU CSRD, add-ons sedang disiapkan |
| Komplementaritas | Dapat digunakan bersama ISSA 5000 untuk proses assurance | Digantikan ISSA 5000 untuk keberlanjutan | Standar utama global mulai Desember 2026 |
Dari tabel ini tergambar dengan jelas bahwa ketiga standar tidak sepenuhnya bersaing, tetapi juga tidak setara dalam posisinya menghadapi masa depan. AA1000AS tetap relevan sebagai standar yang paling serius menangani proses keterlibatan pemangku kepentingan dan dapat berfungsi sebagai komplemen ISSA 5000. ISAE 3000 akan tetap berlaku untuk assurance non-keberlanjutan. Namun untuk informasi keberlanjutan, sebagian besar organisasi akan beralih ke ISSA 5000 sebagai standar utama, yang mungkin dilengkapi dengan prinsip-prinsip AA1000AS atau ISO 14064-3 untuk pekerjaan spesifik GHG.
Mengapa Persiapan Tidak Bisa Ditunda
Desember 2026 mungkin terdengar masih jauh bagi sebagian orang, tetapi bagi perusahaan yang membutuhkan transformasi sistemik—membangun pengendalian internal keberlanjutan, memerkuat infrastruktur data, mendokumentasikan proses materialitas, dan membangun kapasitas tim—waktu yang tersisa jelas sangat pendek. Dan, menurut hemat kami, ada tiga dimensi tantangan yang secara khusus relevan bagi perusahaan Indonesia.
Pertama, kesenjangan kapasitas yang nyata. Sebagian besar perusahaan Indonesia yang melakukan assurance keberlanjutan saat ini menggunakan ISAE 3000 dalam bentuk engagement yang relatif terbatas cakupan dan kedalamannya. ISSA 5000 menuntut pemahaman yang jauh lebih mendalam tentang sistem pengendalian internal untuk pelaporan keberlanjutan, proses materialitas yang terdokumentasi, dan kualitas data rantai nilai. Membangun semua itu membutuhkan waktu, investasi, dan pembelajaran yang tidak bisa disingkat.
Kedua, tekanan regulasi dan pasar yang makin dekat. OJK dan BEI telah melangkah maju dalam mendorong standar pelaporan ESG yang lebih ketat. Ketika regulasi mandatory assurance tiba, dan tren globalnya sangatlah jelas, perusahaan yang tidak siap akan menghadapi risiko modifikasi opini assurance, yang berarti persis kebalikan dari tujuan assurance itu sendiri: meningkatkan, bukan merusak, kepercayaan pemangku kepentingan.
Ketiga, peluang diferensiasi yang mungkin terlewati. Perusahaan Indonesia yang beroperasi dalam rantai pasok global—terutama yang berhubungan dengan pembeli dari Uni Eropa yang harus mematuhi CSRD—akan semakin diminta memberikan data keberlanjutan yang dapat diverifikasi sesuai standar internasional. CSRD dan sebagian besar persyaratan jurisdiksi merujuk ISAE 3000 dan akan segera berubah merujuk ISSA 5000. Tanpa kesiapan yang memadai, posisi tawar pemasok Indonesia dalam rantai pasok global akan melemah tepat pada saat persaingan semakin ketat.
Dengan begitu, untuk perusahaan-perusahaan Indonesia, transisi menuju ISSA 5000 agaknya harus dimulai dengan tiga komitmen yang berkelindan satu sama lain.
Komitmen pertama, pahami di mana perusahaan sekarang berdiri. Lakukan penilaian jujur tentang kematangan sistem pelaporan keberlanjutan: seberapa kuat pengendalian internal untuk data ESG, seberapa terdokumentasi proses materialitas, dan seberapa dapat diandalkan data dari mitra rantai nilai. Kesenjangan yang teridentifikasi sekarang adalah kesenjangan yang masih bisa diatasi sebelum 2027.
Komitmen kedua, jadikan ISSA 5000 percakapan di ruang rapat dewan komisaris dan direksi, bukan hanya di meja tim keberlanjutan. Standar ini menempatkan tanggung jawab besar pada manajemen puncak untuk memastikan keberadaan sistem, proses, dan tata kelola yang akan diverifikasi oleh praktisi assurance. Ini adalah agenda tata kelola, bukan sekadar agenda teknis.
Komitmen ketiga, pertimbangkan menggunakan AA1000AS sebagai jembatan. Karena AA1000AS secara khusus mengevaluasi kualitas proses keterlibatan pemangku kepentingan dan materialitas—yang adalah dua fondasi yang juga diperiksa oleh ISSA 5000—perusahaan yang sudah atau akan memulai dengan AA1000AS sesungguhnya sedang membangun landasan yang akan memermudah transisi ke ISSA 5000.
Ekosistem assurance keberlanjutan sedang bergerak dari keberagaman yang membingungkan dan sukarel menuju konvergensi yang lebih terarah dan diwajibkan. Bagi kami, ISSA 5000 bukanlah sekadar standar baru, melainkan penanda era di mana assurance keberlanjutan mendapat perlakuan yang setara dengan audit keuangan dalam hal keseriusan, kedalaman, dan akuntabilitasnya. Bagi perusahaan Indonesia yang ingin tetap relevan dan dipercaya dalam ekonomi global yang semakin menuntut transparansi ESG, tidak ada pilihan lain kecuali bergerak sekarang dengan pemahaman yang jernih, strategi yang terencana, dan komitmen yang tidak setengah apalagi seperempat hati.


