← Seluruh

Diah Suradiredja dan Pelajaran tentang Cara Bertahan di Jalur Keberlanjutan

[debug_author_post]

Daftar Isi

Mon, 27 April 2026

Oleh:
Jalal Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

 

Ada kalanya sebuah percakapan menegaskan sesuatu yang sudah lama kita rasakan namun belum bisa kita artikulasikan dengan baik. Itu yang terjadi pada saya kemarin, 24 April 2026, ketika duduk sepanel dengan Diah Suradiredja dalam Social Investment Roundtable Discussion (SIRD #96) yang mengusung tema Hari Bumi 2026: Our Power, Our Planet. Di ruang terbuka di mana saya duduk, Depok berdenyut seperti biasa. Namun di dalam layar komputer yang saya hadapi, ada semacam ketenangan yang saya kira bersumber dari kehadiran seseorang yang sudah lama berdamai dengan kompleksitas: seseorang yang tahu bahwa perubahan yang bermakna itu panjang dan berliku.

Sejak sebelum lulus dari IPB di tahun 1995 saya sudah mengikuti berbagai penelitian soal bagaimana perusahaan di sektor kehutanan dan perkebunan punya pengaruh atas keberlanjutan lingkungan dan sosial.  Dan pengaruh itu hampir seluruhnya negatif, dikorbankan untuk keuntungan yang dianggap sebagai satu-satunya alasan mengapa perusahaan didirikan.  Tetapi, dalam beberapa tahun saja saya menyaksikan bahwa perusahaan tidak semuanya demikian.  Ada kekuatan besar yang sedang bekerja mendorong perusahaan untuk berubah, dan saya menyaksikannya secara langsung terutama dari gerakan sustainable forest management yang saya geluti ketika itu.  Dan, ketika dekade berganti, saya mulai masuk ke sektor-sektor lainnya, atas jasa seorang Sonny Sukada, mentor saya hingga sekarang.

Namun, ada cerita lain yang kembali berkelebat setelah moderator SIRD memerkenalkan Mbak Diah, begitu biasa saya panggil.  Dan cerita itu yang saya ingin tuangkan di sini. Selain Mas Sonny yang selama beberapa tahun memberi saya entah berapa puluh buku sebagai ‘tugas membaca’, di tahun 2001 Mbak Diah menghadiahi saya sebuah buku yang ditulis oleh Andrew Hoffman: From Heresy to Dogma: An Institutional History of Corporate Environmentalism (1997). Buku itu menunjukkan bagaimana gerakan lingkungan hidup di dunia korporat bukanlah sekadar urusan regulasi atau reputasi, melainkan merupakan sebuah proses panjang perubahan kelembagaan, dari yang semula dianggap aneh dan melawan arus, menjadi sesuatu yang normatif, disepakati bahkan diharapkan.

Sejak itu, saya mencoba untuk terus bekerja dengan perusahaan-perusahaan yang serius dengan keberlanjutan, menulis artikel dan resensi buku keberlanjutan perusahaan, juga menjadikan SIRD sebagai forum percakapan tentang buku-buku tersebut.  Soal hubungan dengan Hoffman—yang dinobatkan menjadi profesor bisnis terbaik sedunia tahun 2025 lalu—saya bahkan sempat berkolaborasi menulis dua artikel bersama Hoffman dan Terry Nelidov di 2013. Kini, saya sedang menyelesaikan naskah tentang lima puluh buku keberlanjutan perusahaan paling berpengaruh selama 2021 hingga 2025. Seperempat abad dalam satu gerakan benak, hati dan tangan yang sama.  Dan itu jelas sangat terpengaruh oleh buku luar biasa bagus yang diberikan Mbak Diah kepada saya.

 

Jalan Panjang dan Berliku Keberlanjutan

Mbak Diah, memulai perjalanannya beberapa tahun sebelum saya. Dan saya bayangkan caranya berbeda—bukan melalui buku, melainkan melalui tanah, pohon, dan komunitas.  Dengan pengalaman lebih dari tiga puluh lima tahun dalam perencanaan strategis, advokasi, dan komunikasi kebijakan di bidang sumberdaya alam, tata kelola, dan iklim, Mbak Diah adalah salah satu figur yang paling konsisten hadir dalam hampir seluruh babak penting sejarah keberlanjutan Indonesia. Tidak selalu sebagai tokoh yang muncul di halaman depan, melainkan sebagai orang yang justru bekerja di tempat di mana kebijakan benar-benar dibentuk dan dipertaruhkan: di lantai negosiasi multilateral, di ladang kelapa sawit Kalimantan dan Sumatera, di lereng hutan lindung Lombok, juga di meja-meja ruang rapat  kementerian yang menentukan nasib jutaan hektar hutan tropis.

Perjalanan Mbak Diah di lapangan terdokumentasi, antara lain, dalam buku Menoleh Jalan Panjang Hutan Kemasyarakatan: Catatan perjalanan tiga dasawarsa hutan kemasyarakatan di Pulau Lombok, yang terbit pada 2018 dan diberi pengantar oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya serta Gubernur NTB Zainul Majdi. Buku ini bukan sekadar dokumentasi—ia adalah bukti bahwa Mbak Diah meyakini pendekatan berbasis komunitas sebagai fondasi yang tak bisa diabaikan jika kita berbicara tentang keberlanjutan yang sungguh-sungguh. Hutan kemasyarakatan bukan program populis. Ia adalah pertaruhan jangka panjang bahwa manusia yang hidup di dalam dan sekitar hutan adalah mitra, bukan ancaman, bagi kelestariannya.

Dari situ, Mbak Diah bergerak ke spektrum yang lebih luas namun tetap dalam semangat yang sama. Ia pernah bekerja bersama Ford Foundation, TIFA Foundation, GTZ-SFMP, World Bank Group, hingga menjadi Ketua Umum Dewan Kehutanan Nasional (DKN), sebuah lembaga yang diidealkan menjadi titik temu antara kebijakan kehutanan negara dengan suara masyarakat, LSM, akademisi, dan dunia usaha. Sebagai Ketua Umum DKN, ia mengorganisasi kerjasama antara pemerintah, pemerintah daerah, komunitas lokal, LSM, lembaga pendidikan, lembaga penelitian, dan dunia usaha, sebuah tugas yang saya tahu lebih menyerupai seni diplomasi ketimbang administrasi biasa.

Yang bagi saya sangat terasa istimewa terkait Mbak Diah bukanlah sekadar panjangnya daftar jabatan yang ia emban seluruhnya terkait gerakan keberlanjutan. Mungkina ada beberapa orang di Indonesia lainnya yang memiliki CV sepanjang itu. Yang membuat ia berbeda adalah kemampuannya untuk tetap relevan di berbagai register—dari lapangan hingga kebijakan global—tanpa kehilangan substansi di keduanya.  Ambil contoh perannya dalam Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Kelapa sawit adalah komoditas yang membuat banyak aktivis lingkungan tak bisa tidur. Deforestasi, konflik lahan, emisi gambut, penggusuran komunitas adat: daftar kerusakannya bisa sangat panjang. Namun berhenti di sini berarti melewatkan kenyataan bahwa sawit juga menghidupi jutaan petani kecil dan menjadi tulang punggung devisa negara. Sikap yang mudah adalah menolak sepenuhnya atau membela sepenuhnya. Sikap yang sulit, dan itulah yang dipilih Mbak Diah, adalah masuk ke dalamnya dan mencoba memerbaiki tata kelolanya dari dalam.

Mbak Diah menjadi Penasihat Senior untuk ISPO dan Perubahan Iklim, sekaligus Wakil Ketua Tim Penguatan ISPO di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dengan mandat untuk memerkuat regulasi ISPO menggunakan pendekatan lanskap pertanian berkelanjutan dan memerbaiki tata kelolanya melalui sistem yang transparan dan kredibel, demi memastikan posisi Indonesia di pasar internasional. Ini bukan pekerjaan yang glamor. Ini adalah pekerjaan yang menuntut kesabaran, kesiapan untuk dipersalahkan oleh semua pihak secara bergantian, dan keyakinan bahwa sertifikasi yang lemah lebih berbahaya daripada tidak ada sertifikasi sama sekali karena ia memberikan ilusi keberlanjutan tanpa substansi yang mendukungnya.

Penelitian akademik yang Mbak Diah dan rekan-rekannya, The Oil Palm Governance: Challenges of Sustainability Policy in Indonesia, yang diterbitkan dalam jurnal Sustainability, mengidentifikasi fenomena hollow governance—di mana regulasi ada di atas kertas namun kosong dalam implementasinya, akibat institusi, organisasi, aktor, dan sumberdaya yang lemah di tingkat regional dan lokal. Ini adalah kontribusi akademik yang lahir dari pengalaman lapangan bertahun-tahun—bukan teori yang turun dari langit, melainkan diagnosis yang muncul dari kesakitan yang diamati langsung, termasuk dari posisinya di ISPO itu.

Mbak Diah juga menjabat sebagai Ketua Dewan Konstituen Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI), sebuah organisasi nirlaba berbasis konstituen yang mengembangkan sistem sertifikasi hutan untuk mendorong pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan di Indonesia. LEI adalah salah satu upaya paling serius yang pernah dilakukan Indonesia untuk memiliki sistem verifikasi kehutanan yang benar-benar independen dan berpijak pada nilai-nilai lokal—bukan sekadar mengimpor standar dari negara-negara yang hutannya sudah habis berabad-abad lalu tetapi seakan ingin mendominasi percakapan tentang bagaimana seharusnya hutan hujan tropis dikelola.

Saya ingin jujur di sini. Ada godaan yang besar ketika menulis tentang seseorang seperti Mbak Diah untuk jatuh ke dalam pola penulisan yang saya sendiri tidak sukai: hagiografi. Daftar pencapaian yang beruntun, pujian yang membumbung, gambaran seseorang yang tampak selalu benar dan selalu menang. Keberlanjutan sebagai bidang, sayangnya, cukup banyak memiliki penulisan semacam itu—dan justru itulah yang membuat orang luar sering merasa gerakan ini lebih mirip sekte daripada ilmu pengetahuan.

Sementara, yang saya amati dari Mbak Diah bukanlah kesempurnaan. Yang saya amati adalah kesetiaan pada kompleksitas. Ia tidak berhenti pada satu isu, satu lembaga, atau satu pendekatan. Riset doktoralnya di IPB University, yang sedang ia jalani, justru menggumuli konflik antara kebijakan hijau nasional dan regulasi lingkungan internasional—dilema tata kelola multi-aras yang menunjukkan bahwa ia terus mau belajar dan tidak puas dengan pemahaman yang sudah ada. Di usia dan tingkat pengalaman seperti itu, masih mau kembali masuk ke bangku kuliah program doktoral dan bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih keras jelas bukanlah bentuk kerendahan hati palsu. Itu adalah tanda bahwa seseorang memahami betapa dalamnya lobang yang harus digali.

 

Terus Bertanya, Terus Berbagi

Dan ada hal lain yang lebih personal: kemauan untuk berbagi.  Dalam diskusi kemarin, yang berlangsung untuk merayakan Hari Bumi, Mbak Diah berbicara dengan cara yang tidak banyak dimiliki oleh mereka yang sudah lama berkecimpung di satu bidang: tanpa pretensi menjadi satu-satunya yang paling paham, tanpa kecenderungan untuk menutup percakapan dengan kesimpulan tunggal. Ia berbicara seperti seseorang yang masih penasaran, yang masih mau mendengar, meski jelas sekali pengalamannya jauh lebih panjang dari hampir semua orang di ruangan daring itu.

Ini yang akhirnya paling berkesan bagi saya, dan yang menautkan perjalanan kami meski dari jalur yang berbeda.  Ini juga yang membuat saya merasa perlu menuliskan artikel ini.

Saya datang ke keberlanjutan melalui jalur penelitian lalu konsultansi.  Saya juga beruntung bisa berada di ruang-ruang manajemen puncak perusahaan di Indonesia maupun mancanegara, memberi rekomendasi tata kelola, kebijakan dan strategi keberlanjutan. Mbak Diah datang melalui tanah dan komunitas—melalui hutan kemasyarakatan di Lombok, melalui negosiasi kebijakan di Jakarta dan forum-forum internasional, melalui kerja keras membangun lembaga yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Namun kami bertemu di tempat yang sama: keyakinan bahwa keberlanjutan bukan projek jangka pendek, bukan pula projek yang bisa diselesaikan oleh satu lembaga atau satu generasi.

Yang paling bermakna dari bertemu dengan Mbak Diah lagi, lalu membaca banyak bahan untuk menuliskan artikel ini, bukan hanya belajar dari perjalanannya. Yang paling bermakna adalah melihat bahwa perjalanan panjang itu tidak membuatnya lelah dengan cara yang buruk.  Perjalanan panjangnya tidak membuatnya sinis, tidak membuatnya berhenti bertanya, dan tidak membuatnya merasa bahwa generasi yang lebih baru tidak perlu didengar. Sebaliknya, ia hadir di panel seperti SIRD dengan sikap yang saya kira adalah kondisi paling langka di antara para veteran gerakan apapun: keterbukaan yang otentik.  Di era di mana keberlanjutan sudah menjadi kata yang nyaris kehilangan maknanya karena terlalu sering dipakai—oleh perusahaan yang ingin terlihat baik, oleh pemerintah yang ingin terhindar dari tekanan internasional, oleh individu yang ingin merasa sudah cukup berbuat—kehadiran seseorang seperti Mbak Diah adalah pengingat yang penting bahkan esensial.

Pengingat bahwa konsistensi itu bukan sesuatu yang bisa dibangun dalam satu kampanye komunikasi. Bahwa pengetahuan yang otoritatif itu lahir dari perpaduan antara kedalaman lapangan dan ketelitian akademik. Bahwa menjadi relevan selama sekitar empat dekade dalam sebuah bidang yang terus berubah bukanlah kebetulan—ia adalah hasil dari pilihan yang diperbarui setiap hari untuk tetap serius, tetap penasaran, dan tetap mau direpotkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

 

*****

Hari Bumi datang dan pergi setiap tahun. Seperempat abad berlalu sejak saya pertama kali membaca Hoffman dan mulai bertanya-tanya tentang apa artinya perusahaan yang sungguh-sungguh bertanggung jawab terhadap Bumi. Akhir minggu lalu, duduk sepanel dengan Mbak Diah lagi, saya tidak menemukan jawaban tunggal. Tapi saya menemukan sesuatu yang mungkin lebih berguna: bukti bahwa pertanyaan itu layak untuk terus ditanyakan—dan bahwa ada orang-orang yang sudah menjalani pertanyaan itu jauh lebih lama dari yang saya kira mungkin.

Itu, bagi saya, adalah hadiah Hari Bumi yang tidak saya antisipasi dan mustahil saya lupakan seumur hidup.

Ditulis Oleh

Jalal

Chairperson of Advisory Board

Social Investment Indonesia

Dewan Redaksi

Penanggung Jawab:

Fajar Kurniawan, MM

Pemimpin Redaksi:

Dr. Ivanovich Agusta

Wakil Pemimpin Redaksi:

Purnomo

Redaktur Pelaksana:

Paimun Karim, S.Si.

Dewan Redaksi:

  1. Jalal, SP
  2. Wahyu Aris Damono, SP
  3. Drs. Sonny S. Sukada, M.Sc.
  4. Mahmudi Siwi, M.Si.

Tim Lay Out dan Media Sosial:

Rizal Choirul Insani, S.Si.

Unduh Disini

Bagikan Ini