Jalal
Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia

Kao, dengan segala prestasi yang sudah dideskripsikan pada bagian pertama tulisan ini, jelas adalah salah satu pemuka dalam bisnis berkelanjutan di Asia. Apa yang menjadi ‘rahasia’ dari kinerja Kao yang demikian? Agaknya ada beberapa yang paling menonjol dan bisa menjadi pelajaran bagi perusahaan komersial maupun perusahaan sosial yang memiliki ambisi keberlanjutan setinggi Kao.

Pertama adalah visi dan nilai-nilai positif yang dianut oleh pendirinya benar-benar ditegakkan dalam praktik bisnis dan menjadi inspirasi bagi seluruh pekerjanya. Tomiro Nagase, yang mendirikan Kao 130 tahun lampau sangat dikenal dengan pernyataannya, “Good fortune is only given to those who work diligently and behave with integrity.” Dengan panduan tersebut, Kao tumbuh dan berkembang hingga sekarang.

Tentu saja, sebagai perusahaan yang membuat barang-barang untuk konsumen Kao sangat penting untuk mengetahui apa saja isu yang menjadi perhatian masyarakat. Lantaran Kao beroperasi di lebih dari 100 negara, maka perhatiannya tentu saja pada isu-isu pada skala global. Secara eksplisit, Kao menyatakan bahwa isu-isu yang penting menjadi perhatiannya adalah pemanasan global, deplesi sumberdaya air, sampah plastik, kondisi higiene yang buruk, deforestasi, semakin banyaknya penduduk berusia lanjut, disparitas kekayaan, serta informatisasi dan digitalisasi.

Sebagai produsen, tentu Kao memiliki kontribusi atas beragam isu tersebut. Kao jelas berupaya untuk menekan mudarat yang timbul dari produksi, distribusi dan konsumsi produknya. Dibandingkan tahun dasar 2005, di tahun 2018 Kao berhasil menurunkan emisi CO2-nya sebesar 17% per unit produknya. Pada periode yang sama, Kao berhasil menurunkan konsumsi air per unit produk lebih dalam lagi, yaitu 21%. Berbagai hasil dari upaya menurunkan dampak negatif itu bisa dilihat secara transparen, dan banyak di antaranya yang telah diverifikasi oleh pihak ketiga yang kredibel.

Lebih jauh daripada sekadar menurunkan dampak negatifnya, Kao melihat proses produksinya sebagai peluang untuk meningkatkan dampak positif. Untuk mencapai tujuan tersebut, Kao menyatakan tekadnya untuk turut menyelesaikan beragam isu yang telah diidentifikasi itu. Caranya adalah dengan menggunakan beragam aset yang Kao miliki, yang terdiri dari aset finansial, sumberdaya manusia, standar etika yang tinggi, hak cipta dan merk, riset dan teknologi, kemampuan manufaktur dan logistik, serta kecakapan pemasaran dan penjualan.

Kalau masih banyak perusahaan komersial yang berpikir bahwa tujuan bisnisnya semata memaksimumkan keuntungan untuk pemilik modal, secara eksplisit Kao menyatakan bahwa tujuan bisnisnya adalah “Delivering a high level of returns to stakeholders.”  Satu demi satu jenis pemangku kepentingan disebutkan oleh Kao, dengan ekspektasinya. Kao membagi pemangku kepentingan menjadi konsumen, pelanggan, pekerja, pemilik modal, lingkungan, dan masyarakat. Jelas bahwa salah satu hal penting di sini adalah Kao menetapkan lingkungan sebagai salah satu pemangku kepentingan, sementara banyak perusahaan yang progresif sekalipun belum seeksplisit itu.

Kao jelas memanfaatkan integrated thinking untuk proses penciptaan nilai yang dilakukannya, sehingga bisa membuat aliran yang jelas antara beragam isu hingga berujung pada tujuan kontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan yang menguntungkan seluruh pemangku kepentingan itu. Untuk memastikannya, Kao menyatakan Environment, Social and Governance (ESG) adalah perspektif yang digunakannya di sepanjang proses. Oleh karena itu, Kao memiliki Komite ESG yang bertanggung jawab langsung kepada direksi. Di bawah komite tersebut, ada Gugus Tugas ESG yang berhubungan langsung dengan seluruh divisi dan anak perusahaan, sehingga kinerja ESG benar-benar dipastikan. Di luar itu, Kao juga sedang membangun Dewan Penasihat Eksternal ESG untuk memastikan masukan pemangku kepentingan global atas rencana dan tindakan yang akan diambil Kao.

Untuk satu dekade mendatang Kao menetapkan tiga komitmen besar: Making my everyday more beautifulMaking thoughtful choices for society; dan Making the world healthier and cleaner yang disatukan di bawah payung My Kirei Lifestyle. Setiap komitmen itu telah dijelaskan targetnya juga tindakan-tindakan apa saja yang akan diambil untuk mewujudkannya. Dengan demikian, para pemangku kepentingan bisa melihat dengan jelas dan menilai apakah yang disampaikan oleh Kao benar-benar merupakan komitmen ataukah sekadar pencitraan.

Terakhir, untuk para pemangku kepentingan yang berniat untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang kebijakan, implementasi dan kinerja keberlanjutannya, Kao membuat laporan terpadu (integrated report) selain laporan keberlanjutan yang disebutnya Sustainability Data Book. Laporan keberlanjutan kao tidak hanya mematuhi GRI Sustainability Reporting Standards dan regulasi Jepang, melainkan juga ISO 26000 Guidance on Social ResponsibilitySASB StandardsSDG Compass, dan TCFD Recommendations terkait perubahan iklim.

Demikianlah. Mulai dari komitmen pendiri hingga transparensi dengan memanfaatkan standar-standar paling mutakhir telah membuat Kao bisa mencapai statusnya sebagai pemimpin bisnis berkelanjutan di Asia. Dengan trajektori yang ditunjukkan hingga sekarang, agaknya tinggal menunggu waktu saja posisinya akan terus naik menjadi pemimpin bisnis berkelanjutan di level global.

Tulisan ini telah terbit di Harian KONTAN pada tanggal 6 Februari 2020.