Tabalong, Kalimantan Selatan – PT Adaro Indonesia memperkuat komitmennya terhadap keberlanjutan dengan menyelenggarakan workshop intensif bertajuk “Ekonomi Sirkular Menuju Pertambangan yang Berkelanjutan”. Acara yang menjadi bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup 2025 ini menekankan pentingnya adopsi prinsip 10R dalam praktik pertambangan, melampaui konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang sudah dikenal.
Jalal, Chairperson of Advisory Board, menegaskan urgensi perubahan paradigma ini. “Jika ekonomi sirkular benar-benar kita terapkan dengan baik, kami yakin dapat mencapai keberlanjutan di sektor pertambangan kita,” ujarnya di hadapan peserta. “Dan perlu diingat, saat ini kita tidak lagi hanya bicara 3R, melainkan 10R. Jika Anda masih berorientasi pada 3R, berarti Anda belum update.”
Workshop yang diselenggarakan di Wara Office PT Adaro Indonesia ini dihadiri oleh peserta internal Adaro dari berbagai divisi (EHS, Exrel, Procurement, SCM, GA, dan lainnya), serta perwakilan dari mitra kerja dan kontraktor Adaro. Ini menunjukkan komitmen Adaro untuk mengintegrasikan praktik berkelanjutan di seluruh rantai nilai operasionalnya.
Acara dibuka secara resmi oleh Bapak Deny Widihatmoko, Kepala Teknik Tambang (KTT) Adaro. Dalam sambutannya, beliau menyoroti relevansi ekonomi sirkular dengan standar-standar baru yang baru saja dirilis. “Penting bagi kita untuk segera memahami konsep Ekonomi Sirkular ini karena ada beberapa standar baru yang tentunya akan sangat bermanfaat untuk mendorong kinerja perusahaan kita secara keseluruhan,” jelas Bapak Deny.

Dilaksanakan secara hybrid dan diikuti oleh sekitar 80 peserta, workshop ini berlangsung selama dua hari, dari tanggal 9 hingga 10 Juni 2025. Pada hari kedua, antusiasme peserta semakin meningkat dengan adanya sesi simulasi. Mereka diajak untuk menggali dan mengidentifikasi peluang sirkularitas yang dapat diimplementasikan di lingkup Adaro dan bersama mitra kerjanya, membuka jalan bagi inovasi dan praktik pertambangan yang lebih bertanggung jawab. [FK]


