SOCIALINVESTMENT.ID – BANDUNG, 14 Oktober 2026 — Social Investment Indonesia (SII) jalin kerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk memperkuat pengukuran dampak sosial serta kontribusi institusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Ruang Rapat Rektorat ITB, Bandung, pada 14 Oktober 2026.

Kerja sama ini mencakup sejumlah bidang, antara lain pendidikan, penelitian, pengembangan sumber daya manusia, dan kewirausahaan. Melalui kolaborasi tersebut, ITB dan SII diharapkan dapat mendorong pemanfaatan pengetahuan dan keahlian untuk menghasilkan manfaat yang lebih terukur bagi masyarakat.
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn., menyampaikan bahwa kerja sama ini dapat mendukung upaya ITB dalam mengidentifikasi dan menunjukkan kontribusi nyata institusi bagi masyarakat.
Menurutnya, ITB telah menjalankan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, keterkaitan antara kegiatan-kegiatan tersebut dan pencapaian SDGs masih perlu diperkuat, terutama dalam hal pendokumentasian dan pelaporan dampaknya.
“Kita memiliki banyak kegiatan, tetapi kita punya kelemahan, kita tidak banyak menyambungkan kaitan kegiatan ITB dengan SDGs,” ujarnya.
Ia berharap, melalui kerja sama ini, kontribusi ITB terhadap masyarakat dapat diidentifikasi, diukur, dan dikomunikasikan dengan lebih baik sehingga manfaat berbagai kegiatan yang telah dilakukan dapat terlihat secara lebih jelas.
Direktur Social Investment Indonesia, Pitono Nugroho, menekankan bahwa pengukuran dampak menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan keberlanjutan yang dihadapi dunia. Ia menyinggung kondisi planet yang kian tertekan akibat aktivitas manusia, termasuk perubahan iklim dan gangguan terhadap ekosistem laut. Situasi tersebut, menurutnya, menuntut setiap pihak untuk mengambil peran lebih nyata dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.
Dalam konteks tersebut, ia menilai bahwa berbagai inisiatif sosial dan lingkungan perlu didukung dengan pengukuran yang memadai. Dengan demikian, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dapat diceritakan, tetapi juga dinilai berdasarkan bukti dan indikator yang jelas.
Pitono juga menyoroti pentingnya membangun budaya yang lebih terbuka dalam mengomunikasikan capaian keberlanjutan. Menurutnya, organisasi yang telah menjalankan berbagai inisiatif positif perlu mampu menjelaskan hasil dan dampak dari upaya tersebut kepada para pemangku kepentingan.
“Sesungguhnya, ketika dampak itu sudah bisa dimonetisasi, sudah bisa diukur, bahkan pelaporan keberlanjutan itu menjadi paspor untuk masuk ke sustainable financing,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pengukuran dampak dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, salah satunya Social Return on Investment (SROI), yang membantu organisasi memahami nilai sosial, lingkungan, dan ekonomi dari suatu program atau investasi. Pendekatan tersebut juga dapat memperkuat perspektif Triple Bottom Line, yang menempatkan aspek ekonomi (profit), sosial (people), dan lingkungan (planet) sebagai bagian yang saling terkait dalam menilai kinerja keberlanjutan.
Bagi SII, kerja sama ini menjadi kesempatan untuk mendorong penerapan pengukuran dampak yang lebih sistematis sekaligus memperkuat peran investasi sosial dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Social Investment Indonesia, Pitono Nugroho, dan Wakil Rektor ITB, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn.. Pada kesempatan yang sama, kerja sama juga ditindaklanjuti melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama oleh Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, Prof. Dr. Aurik Gustomo, S.T., M.T..
Acara ditutup dengan pertukaran cenderamata, termasuk penyerahan buku Kompas Materialitas “HIRO” dan Indeks Investasi Sosial dari SII kepada ITB, serta foto bersama perwakilan kedua institusi.


