Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board – Social Investment Indonesia
Resensi buku terbaru Paul Hawken, Carbon: The Book of Life (2025) ini disampaikan dalam acara Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) #79, yang mengusung tema “Mengapa Keanekaragaman Hayati adalah Urusan Korporasi, Bukan Sekadar Isu Lingkungan?”. Diskusi ini menjadi relevan sebagai upaya memperluas sudut pandang kita dalam memaknai isu lingkungan, khususnya keanekaragaman hayati, dalam konteks korporasi dan pembangunan berkelanjutan.
Paul Hawken, seorang tokoh terkemuka dalam gerakan keberlanjutan global, mempersembahkan buku ini sebagai sebuah undangan untuk berpikir ulang tentang karbon. Bagi Hawken, karbon bukanlah musuh yang harus kita lenyapkan, melainkan elemen kehidupan yang perlu kita pahami, hormati, dan kelola dengan bijaksana. Dalam narasi yang puitis sekaligus ilmiah, Hawken menyampaikan bahwa karbon adalah satu-satunya unsur yang menghidupkan seluruh dunia biologis. Ia hadir dalam setiap jaringan kehidupan, dalam setiap molekul tubuh kita, dalam setiap lembar daun dan embusan napas.
Namun, dunia modern terlanjur membingkai karbon sebagai kriminal utama dalam krisis iklim. Narasi dominan yang berkembang cenderung reduksionis: karbon sama dengan emisi, dan emisi adalah musuh. Narasi sempit inilah yang coba dikoreksi oleh Hawken. Lewat buku ini, ia mengajak kita untuk memandang karbon secara holistik—sebagai simpul yang menghubungkan alam, manusia, budaya, dan keberlanjutan itu sendiri.
Buku ini dibuka dengan pemahaman mendalam tentang siklus karbon yang dinamis. Karbon tidak diam; ia bergerak terus-menerus melalui tanah, udara, lautan, dan seluruh tubuh makhluk hidup. Dalam bab-bab awal, Hawken menyandingkan karbon bukan hanya sebagai unsur kimia, tetapi sebagai ‘juru cerita’ yang mencatat sejarah kelahiran dan kematian, transformasi dan regenerasi. Melalui kisah karbon, kita membaca kisah kehidupan itu sendiri.
Lebih dari sekadar biokimia, Hawken menekankan bahwa karbon juga menjalin dimensi sosial, spiritual, dan etis dalam kehidupan manusia. Ia mengkritik keras dua solusi dominan yang selama ini digadang-gadang dunia korporasi dan teknologi: rekayasa pasar dan inovasi teknis. Upaya-upaya seperti pasar karbon dan skema kompensasi biodiversitas, menurut Hawken, hanya memindahkan masalah ke tempat lain tanpa menyentuh akar persoalan: ketimpangan relasi manusia dengan alam.
“Perusahaan energi ingin menghisap karbon keluar dari atmosfer seperti gudang yang kebanjiran,” tulis Hawken dengan tajam. “Namun ini adalah ilusi. Kita tidak bisa memperbaiki bumi seperti memperbaiki mesin. Dunia tidak bisa ditambal dengan konsep netral karbon sambil tetap mempertahankan gaya hidup yang menguras kehidupan.”
Dalam bab-bab berikutnya, Hawken menunjukkan bagaimana karbon menjadi jantung dari semua hubungan biologis: dari fotosintesis yang menjadi dasar rantai makanan, hingga mikrobioma tubuh manusia yang menjaga kesehatan. Ia menyambungkan sains modern dengan filosofi ekologis dan kearifan lokal—sebuah pendekatan yang sangat relevan bagi dunia bisnis dan pembangunan berkelanjutan yang kini mulai menyadari pentingnya integrasi lintas ilmu dan budaya.
Di bagian tengah buku, Hawken mengulas peran tumbuhan, tanah, dan keanekaragaman hayati sebagai fondasi sistem kehidupan yang sehat dan stabil. Di sini kita diajak untuk melihat bahwa kehidupan tidak berjalan linier dan terpisah-pisah seperti yang sering dibayangkan dalam model bisnis konvensional, melainkan melalui jejaring saling bergantung yang kompleks. Tumbuhan bukan hanya penyedia karbon atau jasa ekosistem, tetapi juga makhluk hidup dengan nilai budaya, spiritual, dan ekologis yang tak ternilai. Inilah mengapa keanekaragaman hayati tidak bisa direduksi menjadi angka kredit pasar atau nilai tukar ekonomi semata.
Pada akhirnya, Carbon: The Book of Life adalah sebuah seruan untuk perubahan paradigma. Hawken tidak hanya berbicara soal karbon, tetapi tentang cara baru memahami kehidupan—sebuah kehidupan yang menuntut kita untuk rendah hati di hadapan kompleksitas alam, dan berani melakukan transformasi menuju dunia yang regeneratif.
Buku ini tidak menawarkan solusi instan atau daftar aksi praktis. Namun, ia memberikan kerangka berpikir yang kuat bagi siapa pun yang ingin membangun masa depan berkelanjutan. Terutama bagi korporasi, pemimpin bisnis, dan pemangku kepentingan yang selama ini memisahkan isu lingkungan dari keputusan strategis perusahaan. Hawken, lewat narasi karbon, menyampaikan pesan kuat: tidak ada pemisahan antara alam dan manusia. Maka, menjaga kehidupan adalah juga menjaga perusahaan, menjaga pasar, dan menjaga keberlanjutan umat manusia.
Dalam konteks diskusi SIRD #79, pesan ini menjadi sangat relevan. Keanekaragaman hayati bukan lagi sekadar isu lingkungan atau tanggung jawab sektor kehutanan semata. Ia adalah jantung dari seluruh sistem produksi dan konsumsi kita. Ketika karbon, tumbuhan, dan tanah dipandang sebagai mitra, bukan komoditas, maka korporasi akan mulai bergerak dari eksploitatif menjadi regeneratif. Dan mungkin, di sanalah letak harapan kita: masa depan yang lebih adil bagi manusia dan seluruh jejaring kehidupan.
Tonton video paparan resensi buku berikut:











