Informasi dan Preview Resensi

Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board – Social Investment Indonesia

 

Pada tanggal 13 Juni 2025, dalam acara Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) ke-80 yang mengusung tema “Memutus Mata Rantai Pekerja Anak Demi Masa Depan Berkelanjutan”, sebuah resensi film dokumenter berjudul Dirty Energy: Child Labor Powering Green Tech (DW Documentary, 2025) karya Kristina Karrer disajikan sebagai pemantik diskusi yang mendalam. Film berdurasi 28 menit 25 detik produksi DW Documentary ini secara gamblang mengupas realitas pahit di balik gemerlap teknologi hijau yang kita nikmati sehari-hari, khususnya terkait penambangan kobalt di Republik Demokratik Kongo (DRC). Resensi ini menjadi sebuah lensa kritis yang mengajak kita menelaah paradoks antara ambisi global menuju energi bersih dan pelanggaran hak asasi manusia yang masih merajalela dalam rantai pasokannya.

Film Dirty Energy tidak sekadar menyoroti ketergantungan dunia pada kobalt, sebuah logam esensial untuk baterai kendaraan listrik (EV), ponsel pintar, hingga perangkat medis dan konstruksi pesawat, yang mana hampir 75% pasokan globalnya berasal dari DRC. Lebih dari itu, dokumenter ini membawa penonton ke jantung permasalahan di Kolwezi, “ibu kota kobalt” Kongo, di mana penambangan artisanal ilegal beroperasi berdampingan dengan tambang industri berskala besar. Di sinilah, puluhan ribu, bahkan diperkirakan hingga 40.000 anak, dilaporkan bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya, tanpa alat pelindung diri dasar seperti helm atau sarung tangan. Realitas ini kontras dengan narasi yang sering disederhanakan oleh media sosial, yang kerap kali hanya menonjolkan aspek kejutan tanpa memberikan konteks kompleksitas isu pekerja anak yang sebenarnya.

Proses syuting film ini sendiri adalah sebuah perjuangan, diwarnai pembatasan akses, permintaan suap dari intelijen setempat, dan biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk setiap pengambilan gambar di tambang ilegal. Namun, kesulitan ini tidak menghalangi sutradara untuk mengungkap kondisi kerja yang minim keselamatan dan upah yang sangat rendah. Menariknya, meskipun manajemen tambang seperti Shabara —salah satu lokasi penambangan artisanal ilegal terbesar yang difilmkan, beroperasi di area konsesi milik Glencore—secara eksplisit menyangkal keberadaan pekerja anak dan wanita hamil, klaim ini sulit diverifikasi mengingat keterbatasan pengawasan independen yang kontinu. Dokumenter ini dengan jujur mengakui bahwa merekam seluruh realitas di lokasi paling berbahaya adalah tantangan besar, dan rekaman visual tidak selalu mampu menangkap setiap detail.

Film ini juga secara cerdas melampaui stereotip pekerja anak yang hanya berkutat di dalam lubang tambang. Faktanya, banyak anak-anak yang terlibat dalam rantai pasok kobalt di luar area penambangan langsung, seperti berjualan makanan, mengangkut barang, menjajakan bensin, atau bahkan mencuci logam di sungai. Mereka seringkali terpaksa bekerja demi membiayai pendidikan atau membantu perekonomian keluarga yang didera kemiskinan ekstrem, diperparah dengan ketiadaan fasilitas pengasuhan anak yang memadai. Kisah seorang anak perempuan yang mencuci logam di sungai demi biaya sekolahnya, meski sangat membenci pekerjaan itu, menjadi bukti nyata betapa kompleksnya motivasi di balik fenomena pekerja anak ini. Fenomena ini sekaligus menyoroti bahwa boikot kobalt dari DRC, yang kerap disuarakan oleh kampanye viral di media sosial, justru berpotensi merugikan kelompok yang paling rentan karena menghilangkan satu-satunya sumber pendapatan mereka.

Lebih jauh, Dirty Energy tak luput menyoroti kegagalan pemerintah DRC dalam menegakkan larangan pekerja anak serta mitigasi dampak lingkungan dari aktivitas pertambangan. Kawasan sekitar Kolwezi mengalami degradasi lingkungan parah: ruang hijau, badan air, dan fasilitas publik yang sebelumnya ada kini hilang akibat eksploitasi berlebihan. Proses penerbitan izin tambang yang mengabaikan kondisi topografi lokal bahkan menyebabkan banyak permukiman warga berbatasan langsung dengan area penambangan. Akibatnya, masyarakat sekitar harus menanggung kerusakan properti akibat getaran ledakan tanpa kompensasi berarti, bahkan situs pemakaman pun tak luput dari penggalian, melanggar nilai-nilai budaya setempat.

Namun, di tengah gambaran suram ini, film juga menyajikan secercah harapan melalui upaya-upaya perbaikan. Inisiatif seperti Fair Cobalt Alliance (FCA), yang didirikan untuk menanggapi kritik terhadap kondisi kerja penambangan artisanal dan skala kecil (ASM), menunjukkan komitmen untuk meningkatkan kehidupan komunitas penambang dan mengintegrasikan ASM secara bertanggung jawab ke dalam rantai pasokan kobalt. Anggota FCA termasuk raksasa seperti Tesla dan Glencore, serta berbagai LSM, berkolaborasi untuk menciptakan perubahan. Salah satu contoh nyata adalah dukungan FCA terhadap The Hub di Kolwezi, sebuah LSM yang menyediakan alternatif bagi anak-anak agar tidak bekerja di sektor pertambangan. The Hub memberikan bantuan finansial jangka panjang, termasuk biaya sekolah dan bantuan berkelanjutan kepada keluarga untuk mengganti kehilangan pendapatan, serta memantau perkembangan anak-anak yang mereka bantu. Film ini menekankan bahwa perubahan signifikan hanya dapat terjadi melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

Di sisi lain, film juga mengemukakan tantangan ketertelusuran yang hampir mustahil dalam rantai pasokan kobalt. Hampir semua kobalt yang diekstraksi di DRC, baik dari tambang legal maupun ilegal, dicampur, diekspor ke Tiongkok, kemudian dilebur dan dijual, membuat penelusuran asal-usulnya yang tepat menjadi sangat sulit. Klaim perusahaan teknologi besar seperti Apple tentang “tingkat penelusuran yang intens” hingga ke tambang dan peleburan untuk memastikan tidak ada pekerja anak, disajikan berlawanan dengan pandangan film bahwa rantai pasokan kobalt “sangat terfragmentasi, tidak transparan,” dan “tidak ada yang bisa mengatakan dengan pasti bahwa mereka sama sekali tidak terkait dengan DRC”.

Pada akhirnya, Dirty Energy adalah sebuah panggilan untuk bertindak, mengajak kita merenungkan tanggung jawab kolektif terhadap dampak sosial dan lingkungan dari konsumsi teknologi modern. Film ini tidak hanya memaparkan masalah, tetapi juga menawarkan beragam perspektif, termasuk dari penambang seperti Freemann yang berhasil membangun kehidupan yang baik berkat permintaan kobalt, menunjukkan kompleksitas isu yang tidak bisa disederhanakan hanya dengan narasi tunggal. Solusi jangka panjang dan efektif yang melibatkan pemerintah, perusahaan, masyarakat sipil, dan konsumen adalah kunci untuk “memutus mata rantai pekerja anak demi masa depan berkelanjutan” di DRC, memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak dibangun di atas keringat, air mata, dan darah anak-anak.

 

Tonton video paparan resensi buku berikut:

Resensi ditulis Oleh

Jalal

Social Investment Indonesia

Bagikan Resensi Ini