Informasi dan Preview Resensi

Oleh: Eri Trinurini Adhi
Pengurus Yayasan Bina Trubus Swadaya & Ketua Dewan Ekonomi Solidaritas Asia

 

Dalam rangkaian acara Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) ke-77 yang mengusung tema “Mother Earth, Our Mother — Women’s Role and Contribution to Sustainability”, resensi buku The Women Revolutionizing Regenerative Agriculture: From the Ground Up karya Stephanie Anderson hadir sebagai refleksi mendalam tentang kekuatan perempuan dalam membangun sistem pangan berkelanjutan. Diselenggarakan secara virtual pada Jumat, 25 April 2025, melalui platform Zoom, untuk mendiskusikan kontribusi perempuan dalam menjawab krisis iklim dan ketimpangan sosial. Tema acara yang selaras dengan semangat buku Anderson ini menegaskan bahwa upaya menjaga Bumi sebagai “Ibu” tidak hanya membutuhkan inovasi ekologis, tetapi juga kepemimpinan perempuan yang inklusif, baik di level akar rumput maupun kebijakan global. Resensi ini tidak sekadar mengulas narasi inspiratif delapan perempuan pelopor pertanian regeneratif, tetapi juga menjadi seruan kolaboratif untuk mengintegrasikan keadilan gender, kearifan lokal, dan investasi berkelanjutan dalam agenda pembangunan global.

 

Perempuan dan Pertanian Regeneratif: Membangun Sistem Pangan Berkelanjutan dari Akar Rumput

Di tengah krisis iklim dan ketimpangan sistem pangan global, praktik pertanian regeneratif (RA) muncul sebagai solusi yang menjanjikan. Tidak hanya berfokus pada kesehatan tanah dan ekosistem, RA juga mengusung prinsip keadilan sosial, kesetaraan gender, dan kedaulatan petani. Buku The Women Revolutionizing Regenerative Agriculture: From the Ground Up karya Stephanie Anderson (2024) mengisahkan peran perempuan sebagai pionir dalam gerakan ini. Melalui delapan kisah inspiratif, Anderson membuka mata pembaca tentang bagaimana perempuan—dari petani kulit berwarna hingga aktivis kebijakan—mengubah paradigma pertanian konvensional menjadi praktik yang berkelanjutan dan berkeadilan.

 

Akar Masalah: Monopoli Industri dan Hilangnya Kearifan Lokal

Salah satu tantangan terbesar dalam sistem pangan modern adalah dominasi korporasi besar. Di Amerika Serikat, empat perusahaan raksasa—JBS, Tyson, Cargill, dan National Beef Packing—mengontrol pasar daging sapi, menentukan harga beli petani kecil seraya memangkas margin keuntungan mereka. Tekanan ini memicu praktik manipulatif, seperti penggunaan hormon pertumbuhan, yang merusak kesehatan ternak dan lingkungan. Kelsey Scott, peternak dari DX Beef di Dakota Selatan, menawarkan alternatif: sistem distribusi langsung dari peternak ke konsumen. Dengan menjual daging secara lokal, ia tidak hanya memutus rantai monopoli tetapi juga membangun kesadaran konsumen tentang asal-usul makanan mereka. “Makanan di piring Anda tidak tumbuh di supermarket,” tegasnya.

Kisah Kelsey mencerminkan perlawanan terhadap industrialisasi pertanian yang mengabaikan kearifan ekologi lokal. Di padang rumput Dakota, gangguan alam seperti musim kemarau dan kebakaran justru menjadi bagian dari siklus regenerasi. Namun, ekspansi kota dan praktik peternakan konvensional telah mengubah ekosistem padang rumput menjadi lahan semak yang kritis. Bagi masyarakat adat, setiap elemen alam—bahkan hewan yang dianggap “hama”—memiliki peran dalam menjaga keseimbangan. “Manusia perlu belajar menafsirkan peran itu, bukan mengontrolnya,” ujar Kelsey.

 

Perempuan sebagai Penjaga Tanah dan Masyarakat

Sejarah pertanian di Amerika tidak lepas dari warisan kolonialisme dan perbudakan. Carrie Martin, aktivis kulit hitam pendiri Footprints in the Garden, mengingatkan bagaimana praktik ekstraktif Eropa di Afrika dan Amerika memicu degradasi tanah serta ketidakadilan sosial. Leluhurnya di Latin Amerika dan Asia mewariskan prinsip RA: merawat tanah tanpa pestisida kimia, menghormati siklus alam, dan memprioritaskan kesehatan komunitas. “Kami tidak hanya menanam sayur, tapi juga membangun ketahanan masyarakat,” tuturnya.

Sayangnya, peran perempuan dalam pertanian sering diremehkan. Di AS, meskipun 41% petani adalah perempuan (sensus 2017), mereka kerap dilabeli sebagai “istri petani” yang hanya “membantu” pekerjaan fisik. Padahal, sejarah membuktikan bahwa perempuanlah yang pertama kali mengembangkan praktik bercocok tanam, menyimpan benih, dan menjinakkan hewan. Susan Jaster, petani RA dari Lincoln University, menegaskan bahwa perempuan cenderung memprioritaskan konservasi dan keberlanjutan. “Laki-laki mungkin melihat tanda dolar, tapi perempuan melihat masa depan,” ujarnya.

 

Ekonomi Regeneratif: Dari Tanah ke Meja Makan

Pertanian regeneratif bukan sekadar teknik bercocok tanam, tetapi juga model ekonomi yang adil. Veritable Vegetable (VV), perusahaan distribusi di California, membuktikan hal ini. Dengan slogan Food for People, Not for Profit, VV membeli produk dari petani kecil yang menerapkan RA dan menjualnya ke konsumen dengan transparansi penuh. Setiap kemasan mencantumkan nama petani, memastikan penghargaan atas kerja keras mereka. Rasio gaji CEO dan karyawan di VV hanya 4:1—jauh lebih adil dibanding perusahaan besar AS yang mencapai 351:1. “Alam tidak tumbuh tanpa batas. Begitu juga bisnis kami,” kata Bu Nyegrens, salah satu pendiri VV.

Di New York, Wen-Yang Ying membangun Local Roots NYC dengan sistem CSA (Community Supported Agriculture). Pelanggan memesan paket makanan langsung dari petani lokal, mengurangi jejak karbon dan memastikan nutrisi terbaik. Wen-Yang percaya bahwa edukasi adalah kunci: “Ketika orang tahu hubungan antara makanan dan kesehatan, mereka akan memilih RA.” Tantangannya adalah mengubah kebiasaan konsumen yang terbiasa dengan ultra-processed food (UPF)—makanan olahan yang miskin nutrisi namun mendominasi 57% pasar AS.

 

Investasi untuk Masa Depan yang Tangguh

Membangun ekosistem RA membutuhkan dukungan finansial yang inklusif. Sarah Day Levesque, pendiri Regenerative Food System Investment, menghubungkan petani dengan impact investor yang berkomitmen pada keberlanjutan. Berbeda dengan pertanian konvensional yang mengutamakan keuntungan cepat, RA menawarkan holistic return—keseimbangan antara keuntungan ekonomi, kesehatan lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Perusahaan seperti Cienega Capital membuktikan bahwa investasi di RA bisa tangguh bahkan selama pandemi. “Petani kecil lebih adaptif terhadap perubahan,” jelas Esther Park, CEO Cienega.

Menariknya, sebagian besar investor RA adalah perempuan. Mereka cenderung memprioritaskan kriteria ESG (Environmental, Social, Governance) dan berpikir jangka panjang. “Laki-laki mencari keuntungan instan, perempuan membangun warisan,” tambah Park. Kolaborasi antara petani, distributor, investor, dan konsumen inilah yang membuat RA tidak hanya bertahan, tetapi berkembang.

 

Advokasi Kebijakan: Memutus Siklus Ketergantungan

Vanessa Garcia Polanco, aktivis muda dari National Young Farmers Coalition, menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung RA. Sejak 1970-an, pemerintah AS lebih memprioritaskan pertanian industrial, meminggirkan petani keluarga. Hasilnya, kualitas pangan menurun dan petani terjebak dalam hutang akibat ketergantungan pada pupuk kimia dan benih hibrida. Vanessa mengadvokasi reformasi kebijakan yang memberi akses lahan bagi petani muda dan kulit berwarna—kelompok yang paling rentan tapi paling berkomitmen pada RA.

Sejarah membuktikan bahwa perubahan mungkin. Pada 1865, Abraham Lincoln hampir menerapkan reformasi agraria dengan membagikan tanah kepada mantan budak. Meski gagal, momen itu menginspirasi gerakan RA hari ini. “Kita tidak bisa hanya mengkritik sistem, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan,” tegas Anderson dalam bukunya.

 

Penutup: Solidaritas sebagai Kunci Transformasi

Buku Stephanie Anderson bukan sekadar kumpulan kisah sukses, tapi seruan untuk membangun ekonomi solidaritas. RA menunjukkan bahwa sistem pangan berkelanjutan mustahil tercapai tanpa melibatkan perempuan, menghargai kearifan lokal, dan mendobrak struktur kapitalistik. Bagi investor sosial, RA adalah peluang untuk menciptakan dampak multidimensi: memulihkan tanah, memberdayakan komunitas, dan menjawab krisis iklim.

Sebagai penutup, Anderson mengingatkan: “Setiap gigitan makanan adalah pilihan politik.” Di tangan perempuan-perempuan tangguh ini, pilihan itu menjadi revolusi—dari tanah hingga ke meja makan.

Resensi ditulis Oleh

Eri Trinurini Adhi

Yayasan Bina Trubus Swadaya

Bagikan Resensi Ini