Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board – Social Investment Indonesia
Dalam lanskap bisnis yang semakin didorong oleh narasi tanggung jawab sosial dan lingkungan, gagasan tentang “keberlanjutan korporasi” telah menjadi jargon yang umum. Namun, apakah upaya perusahaan dalam mengukur, melaporkan, dan bahkan mensertifikasi keberlanjutan benar-benar membawa perubahan yang signifikan, ataukah sekadar menjadi alat legitimasi di era neoliberalisme? Buku “Unsustainable: Measurement, Reporting, and the Limits of Corporate Sustainability” karya Matthew Archer, yang diterbitkan oleh New York University Press pada Februari 20241 , hadir sebagai kritik tajam terhadap moda keberlanjutan perusahaan yang dominan saat ini. Resensi buku ini disampaikan sebagai pemantik diskusi dalam SIRD #75 “Implementing IFRS S2 in Indonesia’s Energy Sector: Assess and Prepare for Reporting on Climate” di Jakarta pada 7 Maret 2025.
Archer, seorang ilmuwan sosial lingkungan interdisipliner yang memiliki fokus pada persimpangan teknologi dan keberlanjutan, terutama dalam konteks tata kelola rantai pasok global1 , melalui riset etnografi ekstensifnya, menyoroti bagaimana obsesi terhadap metrik, indikator, dan data keberlanjutan justru menjadi penghalang bagi tindakan politik yang diperlukan untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Buku setebal 242 halaman ini3 mengupas lapis demi lapis praktik keberlanjutan korporasi, mengungkapkan bagaimana fokus pada pengukuran sering kali menggantikan aksi nyata dan melanggengkan peran perusahaan sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan.
Keberlanjutan Korporasi: Lebih Soal Legitimasi daripada Transformasi Hakiki
Salah satu poin krusial yang diangkat Archer adalah bahwa banyak perusahaan menggunakan keberlanjutan sebagai strategi pemasaran dan upaya membangun legitimasi, bukan sebagai komitmen untuk perubahan mendasar dalam model bisnis mereka. Di permukaan, gagasan bahwa solusi keberlanjutan harus didorong oleh data dan bukti, serta seruan untuk transparansi dan akuntabilitas dalam rantai pasok global dan jaringan keuangan, tampak tidak bermasalah. Namun, Archer, mengutip antropolog Sally Engle Merry, menunjukkan adanya “rayuan sesat” dari pendekatan kuantitatif terhadap keberlanjutan ini.
Pengukuran dan pelaporan keberlanjutan di dunia bisnis cenderung lebih berfokus pada indikator kuantitatif yang sesuai dengan logika kapitalisme. Keberlanjutan kemudian diposisikan sebagai tanggung jawab perusahaan, namun ironisnya, mereka tetap beroperasi dalam sistem ekonomi kapitalistik yang justru menjadi sumber masalah. Dalam Bab 1, Archer mengulas makna keberlanjutan korporasi dan menemukan bahwa sering kali definisi yang digunakan hanyalah kosmetik, seperti keseimbangan antara people, planet, profit. Perusahaan juga kerap kali menyatakan bahwa keberlanjutan adalah “proses berkelanjutan,” yang secara implisit memungkinkan mereka untuk terus menunda tindakan konkret yang signifikan. Alih-alih melakukan perubahan nyata, fokus utama perusahaan lebih sering tertuju pada pelaporan dan indikator keberlanjutan. Lebih jauh lagi, Archer berpendapat bahwa keberlanjutan telah menjadi komoditas yang dapat diperjualbelikan, digunakan untuk menarik investor dan pelanggan tanpa perlu mengubah praktik bisnis secara fundamental.
Archer menekankan bahwa makna keberlanjutan itu penting, dan makna tersebut bukanlah deskripsi objektif dari realitas eksternal, melainkan konstruksi sosial, politik, dan etis. Kekuatan untuk mendefinisikan keberlanjutan sejalan dengan kekuatan untuk menentukan siapa atau apa yang berkelanjutan, yang pada gilirannya menentukan siapa yang memiliki akses dan kontrol atas sumber daya manusia, alam, dan keuangan yang semakin besar yang dimobilisasi untuk mencapai “keberlanjutan global”.
Ketika Metrik Menggantikan Aksi Nyata
Bab 2 buku ini mengkritisi praktik pengukuran keberlanjutan. Archer berpendapat bahwa pengukuran sering kali dianggap sebagai pengganti tindakan nyata. Keberlanjutan direduksi menjadi angka, menciptakan ilusi transparansi tanpa memastikan perubahan substansial. Standar ESG (Environmental, Social, and Governance) dan indikator keberlanjutan sering kali hanyalah alat legitimasi, di mana perusahaan mematuhinya untuk meningkatkan citra di mata investor tanpa benar-benar berkontribusi pada keberlanjutan. Aspek sosial dan lingkungan dipaksa untuk dikonversi ke dalam metrik ekonomi agar dapat diintegrasikan ke dalam logika pasar. Lebih lanjut, Archer mengingatkan bahwa data yang dilaporkan perusahaan tidak selalu bersifat objektif atau netral, dan perusahaan memiliki kendali atas data tersebut, yang memungkinkan manipulasi untuk meningkatkan peringkat ESG mereka. Archer mengutip bahwa meskipun ada berbagai pendekatan dan perdebatan tentang keselarasan pengukuran modal sosial dan modal alam, tujuan utamanya adalah memastikan bahwa data keberlanjutan masuk akal dari perspektif pasar.
Sertifikasi: Jaminan Keberlanjutan atau Sekadar Branding?
Bab 3 menyoroti peran sertifikasi keberlanjutan. Archer berpendapat bahwa sertifikasi sering kali lebih berfungsi sebagai alat branding untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan daripada mendorong perubahan nyata dalam rantai pasok. Standar sertifikasi sering kali disusun dengan mempertimbangkan kepentingan perusahaan besar, bukan untuk memberikan manfaat maksimal bagi lingkungan atau pekerja. Hal ini juga dapat menjadi beban finansial bagi produsen kecil, seperti petani, yang dipaksa untuk mematuhi standar tanpa menerima insentif atau dukungan yang memadai. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak studi menunjukkan bahwa produk bersertifikat tidak selalu lebih baik dalam aspek sosial atau lingkungan dibandingkan produk yang tidak bersertifikat. Archer merujuk pada penelitian tentang multistakeholder initiatives (MSIs) yang menunjukkan bahwa perusahaan multinasional cenderung memainkan peran yang sangat besar dalam pengembangan standar keberlanjutan, yang sering kali mengutamakan kepentingan korporasi.
Moralitas Pasar dan Tanggung Jawab Sosial yang Tergerus
Dalam Bab 4, Archer mengkritisi narasi moral pasar dalam keberlanjutan. Investasi berbasis keberlanjutan (sustainable investment) sering diposisikan sebagai cara bagi perusahaan dan investor untuk “berbuat baik,” tetapi tetap dalam kerangka logika profitabilitas. Sertifikasi dan laporan ESG digunakan perusahaan untuk menunjukkan komitmen etis mereka, meskipun sering kali tanpa bukti perubahan nyata. Archer berpendapat bahwa metrik ESG dan keberlanjutan digunakan sebagai ukuran moralitas perusahaan, sehingga mengaburkan realitas ketidakadilan yang lebih luas. Fokus pada investasi berkelanjutan dan bisnis beretika juga cenderung mengabaikan perlunya perubahan struktural dalam ekonomi global. Archer mengutip bahwa tantangan terbesar bagi impact investing adalah kurangnya alat yang dikembangkan investor dan analis untuk mengukur dampak investasi, sehingga dampak tetap tidak terbaca dalam pandangan hegemoni keuangan konvensional.
Gaya Hidup Berkelanjutan: Antara Ilusi dan Marginalisasi
Bab 5 menyoroti bagaimana narasi keberlanjutan sering kali didominasi oleh perspektif gaya hidup kelas menengah, seperti penggunaan mobil listrik dan rumah hemat energi. Archer berpendapat bahwa model keberlanjutan arus utama ini hanya dapat diakses oleh sebagian kecil orang, sementara komunitas rentan, termasuk masyarakat adat dan masyarakat miskin, sering kali dianggap “tidak berkelanjutan” hanya karena mereka tidak mengikuti standar keberlanjutan modern. Program keberlanjutan perusahaan juga sering kali dibuat tanpa partisipasi masyarakat terdampak dan dipaksakan dari atas. Lebih lanjut, konferensi keberlanjutan internasional sering kali dipimpin oleh elit global tanpa mempertimbangkan suara masyarakat lokal dan adat. Archer menekankan bahwa keberlanjutan kontemporer memiliki komitmen diam-diam terhadap visi gaya hidup tertentu, yang kemudian memprioritaskan gaya hidup tertentu di atas yang lain.
Masa Depan Keberlanjutan: Antara Kendali Pasar dan Keadilan Sosial
Bab 6 membahas masa depan keberlanjutan yang menurut Archer terlalu dikendalikan oleh pasar. Solusi yang paling didukung adalah yang menguntungkan secara ekonomi, seperti energi hijau dan pasar karbon, bukan perubahan sistemik yang mendasar. Banyak perusahaan membuat janji net-zero karbon tanpa strategi yang jelas untuk mencapainya. Archer juga menyoroti adanya perbedaan perspektif yang signifikan antara negara maju dan negara berkembang dalam menghadapi perubahan iklim, namun solusi keberlanjutan masih didominasi oleh perspektif negara kaya. Sebagai alternatif, Archer menawarkan gagasan keberlanjutan yang berbasis pada keadilan sosial, di mana komunitas adat dan gerakan sosial menawarkan pendekatan yang lebih berakar pada keadilan dan tidak hanya bergantung pada mekanisme pasar. Archer mengilustrasikan bahwa masa depan yang diinginkan bersifat perspektif, dan dampak perubahan iklim yang mungkin dapat dikelola oleh komunitas kaya di negara maju akan menjadi bencana bagi komunitas rentan di negara tropis dan pesisir.
Kesimpulan: Melawan Keberlanjutan yang Dibajak
Dalam kesimpulannya, Archer secara tegas menyatakan sikap “melawan keberlanjutan” dalam bentuknya yang dominan saat ini. Ia berpendapat bahwa narasi keberlanjutan telah dibajak oleh kapitalisme dan lebih berfungsi untuk mempertahankan status quo daripada menciptakan perubahan struktural. Metrik keberlanjutan tidak sama dengan keberlanjutan nyata, dan pengukuran serta pelaporan sering kali digunakan untuk menciptakan ilusi keberlanjutan tanpa tindakan nyata. Oleh karena itu, Archer menyerukan pendekatan baru yang lebih radikal, adil, dan tidak hanya berbasis pada pasar, tetapi juga pada keadilan sosial dan perubahan struktural. Ia menekankan bahwa tujuannya bukanlah untuk sepenuhnya meninggalkan pasar atau indikator sosial dan lingkungan, melainkan untuk mencari cara agar hal-hal tersebut dapat digunakan oleh beragam komunitas untuk tujuan yang beragam, tanpa membiarkan mereka mengendalikan kita.
Kekuatan dan Ruang Perbaikan Buku
Resensi ini juga mencatat beberapa kekuatan buku “Unsustainable”, di antaranya adalah kritiknya yang tajam terhadap bentuk dominan keberlanjutan korporasi neoliberal, yang berhasil mengungkap bagaimana ESG, sertifikasi, dan laporan keberlanjutan sering menjadi alat legitimasi tanpa perubahan nyata. Buku ini juga berbasis data dan memanfaatkan studi kasus untuk menunjukkan praktik pasar yang bermasalah23 , serta menyoroti aspek sosial dan politik dari kebijakan keberlanjutan yang sering menguntungkan perusahaan besar namun membebani komunitas rentan. Perspektif kritis dan alternatif yang ditawarkan buku ini mengajak pembaca untuk mempertimbangkan pendekatan keberlanjutan yang lebih adil. Gaya penulisan buku ini juga dinilai akademis namun mudah dipahami, sehingga relevan bagi akademisi, profesional keberlanjutan, dan aktivis.
Meskipun demikian, resensi ini juga menyoroti beberapa ruang perbaikan buku ini. Archer dinilai belum memberikan solusi konkret yang dapat diterapkan, meskipun kritiknya sangat kuat. Buku ini juga lebih fokus pada keberlanjutan bisnis dalam sistem yang ada dan kurang memberikan contoh perusahaan yang benar-benar berusaha menjalankan keberlanjutan secara transformatif. Selain itu, perspektif yang dominan dalam buku ini adalah sudut pandang akademik dan aktivisme, yang terkadang kurang mempertimbangkan masukan dari praktisi keberlanjutan di dalam perusahaan. Bahasa yang dipilih juga terkadang masih terlalu akademis25 , dan buku ini tidak memanfaatkan visualisasi seperti gambar, bagan, dan tabel yang dapat mempermudah pemahaman.
Terlepas dari beberapa keterbatasan tersebut, “Unsustainable” karya Matthew Archer adalah bacaan yang sangat penting bagi siapa pun yang tertarik pada isu keberlanjutan. Buku ini menawarkan perspektif kritis yang mendalam terhadap praktik keberlanjutan korporasi saat ini dan mendorong kita untuk mempertanyakan asumsi-asumsi yang mendasari pendekatan tersebut. Dengan memahami keterbatasan dan bahkan potensi bahaya dari model keberlanjutan yang ada, kita dapat mulai mencari dan mendukung alternatif yang lebih adil, transformatif, dan benar-benar berkelanjutan bagi planet dan seluruh makhluk hidup di dalamnya.
SALAM LESTARI. TERIMA KASIH!











