Lebih Bersungguh-sungguh Dalam Menghindari Krisis Iklim dan Mewujudkan Keberlanjutan: Belajar dari Terrible Beauty

26 May 2025

Kategori :

Informasi dan Preview Resensi

Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board – Social Investment Indonesia

 

Resensi buku Terrible Beauty: Reckoning with Climate Complicity and Rediscovering Our Soul karya Auden Schendler ini disampaikan dalam acara Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) #78, yang mengusung tema “Di Hadapan Kebijakan Trump Haruskah Keberlanjutan Perusahaan Surut?”. Diskusi ini menjadi relevan mengingat tantangan yang kerap muncul dalam upaya keberlanjutan, terutama di tengah dinamika kebijakan global yang tidak menentu. Buku ini, yang diterbitkan oleh Harvard Business Review Press pada tahun 2025 dengan 272 halaman, menghadirkan sebuah refleksi mendalam mengenai keterlibatan kita dalam krisis iklim dan upaya menemukan kembali jiwa kita dalam menghadapinya.

Auden Schendler, seorang veteran keberlanjutan yang telah berkecimpung selama 25 tahun menjalankan program keberlanjutan di Aspen One, dengan fokus pada pengembangan energi bersih, kebijakan iklim, advokasi, dan aktivisme, menyajikan perspektif yang tajam dan provokatif melalui karyanya ini. Ia dikenal luas karena publikasinya tentang perubahan iklim, pengasuhan anak, dan kegiatan luar ruangan, serta pernah dinobatkan sebagai “inovator iklim” oleh majalah Time dan “penyelamat iklim” oleh EPA. Buku ini secara gamblang menyatakan bahwa banyak peta jalan lingkungan modern seolah-olah ditulis oleh industri bahan bakar fosil itu sendiri, sengaja dirancang untuk menghindari gangguan terhadap status quo, dan membuat kita tanpa sadar menjadi kaki tangan dalam masalah ini. Namun, di balik kenyataan pahit tersebut, terdapat kebenaran lain: bahwa kita semua memiliki orang-orang terkasih yang masa depannya bergantung pada penyelesaian masalah perubahan iklim. Hati nurani kita memanggil untuk memperbaiki dunia, dan pertanyaan besarnya adalah bagaimana impian bersama kita dapat sejalan dengan praktik sehari-hari, serta bagaimana kita dapat memadukan semangat dan gairah untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Bab-bab awal buku ini, yaitu Bab 1 dan 2, mengupas tuntas bahwa krisis iklim bukanlah semata masalah teknologi atau data, melainkan persoalan moral yang erat kaitannya dengan nilai, emosi, dan tanggung jawab etis manusia terhadap alam dan sesamanya. Schendler mengajak pembaca untuk menyadari bahwa pengalaman nyata terhadap krisis iklim, seperti badai debu yang digambarkan, memiliki dampak fisik dan psikologis yang melampaui statistik semata. Penting pula untuk mengubah pandangan kita terhadap alam, dari sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi menjadi bagian integral dari identitas dan warisan manusia. Setiap individu, secara langsung maupun tidak langsung, terlibat dalam krisis ini melalui konsumsi, kebijakan, atau bahkan sikap apatis. Schendler secara kritis menyoroti fenomena greenwashing, di mana banyak perusahaan hanya melakukan perubahan superfisial tanpa menyentuh akar masalah sistemik, seperti kapitalisme, yang seringkali bertentangan dengan prinsip keberlanjutan. Oleh karena itu, dibutuhkan revolusi budaya dan politik yang lebih dari sekadar inovasi produk; transformasi ini menuntut keberanian untuk mengambil risiko demi masa depan yang lebih baik. Pesan kunci yang ditekankan adalah bahwa kesadaran akan keterlibatan kita dalam menciptakan krisis iklim merupakan langkah krusial menuju perubahan yang fundamental.

Selanjutnya, dalam Bab 3 dan 4, Auden Schendler membawa kita dari refleksi pribadi menuju urgensi perubahan sistemik. Gerakan lingkungan, seperti yang dialami Schendler sendiri, seringkali berawal dari kesadaran lokal dan aksi individu, namun kemudian berkembang menjadi institusi yang lebih moderat di Amerika, kadang kala kehilangan momentum akibat terlalu banyak kompromi. Trauma lingkungan, seperti polusi dan kebakaran hutan, seharusnya menjadi panggilan untuk refleksi mendalam dan tindakan konkret. Schendler juga mengkritik pendekatan pasar yang terlalu fokus pada teknologi dan solusi hijau yang menguntungkan bisnis, seperti prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), karena seringkali gagal mengatasi akar permasalahan lingkungan yang sebenarnya. Ia menyerukan agar gerakan lingkungan kembali pada nilai-nilai keadilan sosial, menjadi lebih inklusif, dan berpihak pada masyarakat rentan. Perubahan sistemik yang sejati, menurutnya, membutuhkan kolaborasi yang solid antara aktivisme, kebijakan, dan tekanan publik untuk menciptakan dampak jangka panjang. Fokus pada akar masalah, bukan sekadar solusi temporer yang menunda krisis, menjadi inti pesan dalam bagian ini.

Bab 5 dan 6 membahas bagaimana pencitraan harus dikekang dengan akuntabilitas yang ketat. Schendler menyoroti bahwa klaim netralitas karbon seringkali hanya merupakan bentuk greenwashing, yang sangat bergantung pada offset yang tidak transparan atau efektif. Penanaman pohon dan proyek serupa sering gagal menghitung risiko jangka panjang atau kegagalan penyerapan karbon. Transisi energi, menurut Schendler, membutuhkan reformasi demokrasi, di mana partisipasi publik dalam pengambilan keputusan adalah kunci untuk mewujudkan transisi energi yang adil dan inklusif. Contoh sukses seperti Koperasi Energi Holy Cross membuktikan bahwa tekanan dan partisipasi masyarakat dapat mendorong perubahan nyata menuju energi bersih. Komitmen iklim harus diiringi dengan transparansi dan perubahan strategi bisnis, bukan sekadar pencitraan, karena demokrasi adalah fondasi keberlanjutan, dan tanpa transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi warga, upaya menciptakan dunia hijau tidak akan bertahan lama. Pesan utamanya adalah bahwa solusi sejati memerlukan penghilangan emisi secara langsung, bukan sekadar offset atau kompromi yang terus-menerus.

Selanjutnya, Bab 7 dan 8 menyoroti perlunya menghadapi perusahaan-perusahaan besar dengan kolaborasi yang masif. Perusahaan raksasa seperti Kimberly-Clark dan ExxonMobil kerap menggunakan kekuatan politik, lobi, dan disinformasi untuk menghalangi regulasi iklim. Namun, Schendler menunjukkan bahwa tekanan publik, seperti kampanye yang dilancarkan terhadap Kimberly-Clark, dapat memaksa perusahaan untuk berkomitmen pada praktik ramah lingkungan. Strategi perlawanan harus cerdas dan kolaboratif, menggunakan pendekatan asimetris seperti media sosial, narasi emosional, dan aliansi lintas-sektor. Narasi personal dan budaya terbukti lebih efektif dalam menjadikan isu iklim relevan bagi komunitas tertentu, seperti atlet ski dan snowboard. Kolaborasi antar kelompok lingkungan dan komunitas rekreasi dapat memperkuat legitimasi dan daya tarik pesan lingkungan. Setiap orang memiliki peran dalam perubahan, baik sebagai konsumen, investor, atau warga negara, untuk menekan perusahaan agar bertanggung jawab atas dampak iklim mereka. Pesan kunci dari bab ini adalah bahwa strategi yang menghubungkan isu iklim dengan kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai budaya kerap lebih berhasil dalam mendorong aksi nyata.

Bab 9 dan 10 menekankan urgensi perubahan pada bank dan investor. Bank dan lembaga keuangan, dengan mendanai proyek bahan bakar fosil, menjadi penyumbang utama emisi karbon. Oleh karena itu, divestasi menjadi strategi efektif untuk menekan bank agar berhenti membiayai industri fosil, yang merupakan cara cepat untuk mengurangi dampak iklim. Bank lebih responsif terhadap tekanan publik atau risiko reputasi, sehingga aktivisme seperti surat terbuka dapat memengaruhi kebijakan mereka. Schendler menyarankan untuk berbicara tentang iklim dalam bahasa universal di forum dengan beragam latar belakang, menggunakan nilai-nilai universal seperti tanggung jawab dan warisan agar pesan diterima lintas ideologi. Menautkan isu iklim dengan keadilan, tanggung jawab, dan warisan lokal akan membuatnya lebih relevan bagi audiens. Perubahan seringkali dimulai dari dialog kecil yang jujur dan empatik, yang dapat membangun pemahaman bersama dan menginspirasi aksi nyata. Pesan inti dari bagian ini adalah bahwa mengubah kebijakan keuangan dan membangun dialog inklusif adalah kunci untuk mempercepat transisi menuju dunia yang lebih berkelanjutan.

Bagian terakhir buku, Bab 11 dan 12, membawa kita pada dimensi keadilan dan solidaritas untuk solusi iklim. Schendler menegaskan bahwa krisis iklim dan keadilan sosial tak terpisahkan, karena krisis iklim memukul kelompok rentan paling parah, sehingga solusi iklim harus inklusif dan memprioritaskan mereka yang termarginalisasi. Tanpa prinsip keadilan, kebijakan iklim berisiko memperburuk ketimpangan sosial yang sudah ada. Inklusivitas dalam pengambilan keputusan sangat penting, di mana semua suara, terutama dari kelompok yang biasanya tidak terdengar, harus dihargai untuk menciptakan kebijakan berkelanjutan. Menjadi warga negara berarti aktif peduli pada sesama dan lingkungan, termasuk melalui partisipasi dalam isu iklim. Demokrasi hidup dari partisipasi warga, melalui pemilu, forum publik, dan advokasi, yang memastikan demokrasi tetap sehat dan relevan. Solidaritas menjadi kunci, karena masalah iklim adalah tanggung jawab bersama, dan keberhasilan demokrasi bergantung pada kepedulian serta aksi kolektif warganya. Keadilan sosial dan aksi iklim saling terkait, dan membutuhkan partisipasi aktif semua pihak untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan.

Bab 13 dan Epilog menambahkan dimensi spiritualitas dan harapan sebagai modal untuk terus melangkah. Kisah pribadi penulis tentang putranya, Elias, menggambarkan keinginan manusia akan keajaiban dan hubungan spiritual. Metafora perjuangan batin Yakub dan malaikat mencerminkan tekad manusia untuk mencari makna, harapan, dan berkat meskipun jawaban tidak selalu jelas. Meskipun perjuangan melawan krisis iklim terasa mustahil, harapan lahir dari tindakan konsisten demi masa depan yang lebih baik. Aktivisme iklim adalah komitmen untuk terus berdiri dan bertindak, bahkan jika hasilnya belum terlihat. Perjuangan ini bukan hanya tentang teknologi atau politik, melainkan juga tentang hati, keluarga, dan warisan yang ingin kita tinggalkan. Setiap langkah kecil memiliki arti penting, karena dengan kesadaran, komitmen, dan solidaritas, setiap tindakan kecil berkontribusi pada perubahan besar menuju dunia yang lebih baik. Harapan adalah modal terpenting untuk terus bergerak maju, terutama ketika tantangan terasa luar biasa besar. Seperti yang diungkapkan Noam Chomsky, “Optimisme adalah strategi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Karena kecuali Anda percaya bahwa masa depan bisa lebih baik, Anda tidak mungkin akan melangkah maju dan bertanggung jawab untuk membuatnya demikian.” Dan Dalai Lama mengingatkan, “Jika Anda berpikir terlalu kecil untuk membuat perbedaan, cobalah tidur dengan nyamuk.”

Secara keseluruhan, Terrible Beauty menyajikan kritik tajam terhadap praktik greenwashing dan ilusi perubahan dalam gerakan keberlanjutan modern. Schendler berpendapat bahwa banyak upaya, seperti pengukuran jejak karbon pribadi, hanya menjadi pengalihan dari solusi sistemik yang benar-benar dibutuhkan. Buku ini menggunakan pendekatan naratif yang kuat, memadukan kritik dengan kisah pribadi yang menyentuh, sehingga menjadikan argumennya lebih otentik dan relevan bagi pembaca. Ia menawarkan metode inovatif untuk mengatasi perubahan iklim di tingkat korporasi, komunitas, dan individu, menegaskan bahwa teknologi sudah tersedia, yang kurang adalah skala dan akuntabilitas. Lebih dari itu, buku ini merupakan seruan untuk kemanusiaan, mengajak pembaca menghubungkan perjuangan keberlanjutan dengan nilai-nilai kemanusiaan: cinta, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap masa depan. Meskipun beberapa bagian mungkin terasa bertele-tele dengan repetisi cerita pribadi, dan buku ini tidak menyediakan gambar, bagan, atau tabel, serta perspektifnya terkadang terlalu berpusat pada pengalaman penulis dan kurang menyentuh konteks global atau sudut pandang kelompok terdampak isu iklim seperti masyarakat adat, Terrible Beauty tetaplah bacaan penting yang sangat menggugah kesadaran akan perlunya perubahan nyata melalui narasi personal, sekaligus memberikan solusi praktis. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang peduli pada masa depan Bumi dan generasi mendatang.

 

Tonton video paparan resensi buku berikut:

Resensi ditulis Oleh

Jalal

Social Investment Indonesia

Bagikan Resensi Ini