Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board – Social Investment Indonesia
Buku berjudul “Regenerative Business: How to Align Your Business with Nature for More Abundance, Fulfillment and Impact“ karya Samantha Garcia, diterbitkan oleh Dirty Alchemy Inc. pada tahun 2023 dengan tebal 262 halaman, menawarkan sebuah paradigma baru dalam menjalankan bisnis. Buku ini mengajak para pelaku bisnis untuk merenungkan kembali fondasi praktik bisnis konvensional yang seringkali eksploitatif terhadap alam dan beralih menuju bisnis regeneratif yang selaras dengan prinsip-prinsip alam1. Diskusi mengenai buku ini disampaikan dalam Social Investment Roundtable Discussion ke-6 (SIRD #67) yang bertajuk “Wet Wet Wet: How Companies Manage Mangroves, Rivers, and Other Wetlands Sustainably” di Jakarta pada tanggal 2 Juli 2024.
Dari Bisnis Konvensional menuju Bisnis Regeneratif
Buku ini merujuk pada pandangan (Haigh, Bailey, Kouloumpi, 2023) yang menekankan perlunya pergeseran fundamental dari model bisnis konvensional menuju model bisnis regeneratif. Laman buku di OpenTrolley mengutip pertanyaan mendasar yang diajukan Garcia: “What kind of impact could your business make if you integrated the most powerful systems on Earth: THE SYSTEMS OF NATURE?” Pertanyaan ini menjadi inti dari keseluruhan gagasan buku, yang menantang asumsi bahwa kesuksesan bisnis harus dicapai dengan menaklukkan alam
Garcia berpendapat bahwa sejak Revolusi Industri, sejarah manusia banyak diwarnai oleh upaya menaklukkan alam Layaknya spesies yang diburu hingga punah dan hutan yang diratakan demi lahan pertanian dan pabrik, “keliaran” di dalam diri manusia pun ikut tertekan Bisnis regeneratif hadir sebagai antitesis dari pendekatan ini, dengan menciptakan “tanah subur di dalam diri Anda untuk menggali dan mengekspresikan tujuan jiwa Anda” Model bisnis ini mendorong pengembangan diri yang “mekar sepenuhnya…kreatif, menyembuhkan, dan disengaja, dan melahirkan dunia yang lebih baik untuk generasi mendatang” Lebih lanjut, buku ini berjanji untuk membantu pembaca terhubung dengan “diri sejati Anda yang tak terkekang” dan menggunakan prinsip-prinsip Alam untuk “menyelaraskan bisnis Anda dengan esensi unik Anda untuk semua kelimpahan, pemenuhan, dan dampak yang Anda dambakan”.
Kritik terhadap Revolusi Industri
Garcia melalui bukunya menyampaikan kritik tajam terhadap dampak Revolusi Industri. Menurutnya, revolusi ini telah menyebabkan kehidupan menjadi “kehilangan makna…kehilangan kehidupan itu sendiri, karena kita mengobjektifikasi segalanya”. Segala sesuatu dianggap sebagai objek yang tidak memiliki memori, energi, cerita, atau potensi intrinsik.
Lebih lanjut, Garcia menyatakan bahwa “dari lensa industri, bisnis kita adalah cara untuk mengekstrak uang, bukan membebaskan masyarakat”. Pandangan ini membawa sejumlah efek samping negatif:
- Objektifikasi: Segala sesuatu dan setiap orang diperlakukan sebagai alat untuk dimanfaatkan.
- Sumber daya terbatas: Tidak ada fokus pada pembaruan sumber daya, sehingga timbul mentalitas untuk mengambil sebanyak mungkin secepat mungkin, sebelum orang lain melakukannya.
- Eksploitasi: Segala sesuatu dan setiap orang dieksploitasi karena uang dan efisiensi dianggap lebih penting daripada Alam (termasuk manusia).
- Waktu sebagai entitas: Sebelum Revolusi Industri, waktu didasarkan pada pergerakan bulan dan matahari. Namun, industrialisasi memaksa manusia untuk menjadikan waktu sebagai entitas yang dapat diukur demi efisiensi.
- Standardisasi: Muncul gagasan bahwa hanya ada satu cara yang benar dalam segala hal—bentuk tubuh yang benar, cara berpikir yang benar, cara melakukan sesuatu yang benar—demi efisiensi.
Karakteristik Bisnis Regeneratif2
Meskipun sumber tidak secara eksplisit menjabarkan karakteristik bisnis regeneratif secara rinci di bagian awal, esensi dari bisnis ini adalah penyelarasan yang mendalam dengan alam. Bisnis regeneratif menghargai “kesuburan, keanekaragaman, dan keindahan alam yang liar, menakjubkan, dan terkadang mengerikan yang merendahkan kita, mengajarkan kita, dan tanpa henti memberi kita nutrisi—selama kita bersedia menghormatinya sebagai rumah kita”. Tesis utama Garcia adalah bahwa dengan mengintegrasikan “sistem paling kuat di Bumi: SISTEM ALAM”, bisnis dapat membuka potensi dampak yang jauh lebih besar.
Pendekatan pertanian regeneratif dipandang sebagai kunci untuk memahami bagaimana kecerdasan dan kejeniusan manusia dapat beroperasi secara harmonis dengan ritme dan tatanan alam demi keberlanjutan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Pertanian regeneratif digambarkan sebagai “antidote untuk pertanian monokultur berbasis perusakan lingkungan”.
Delapan Prinsip Bisnis Regeneratif
Buku “Regenerative Business” menguraikan delapan prinsip yang diadaptasi dari pengamatan cara kerja sistem alam6. Prinsip-prinsip ini menawarkan kerangka kerja praktis bagi bisnis yang ingin mengadopsi pendekatan regeneratif:
Prinsip 1. Siklus Bisnis (Business Cycles): Garcia menganalogikan bisnis dengan organisme yang lebih besar dari sekadar individu, seperti hutan aspen (Pando). Sebagaimana hutan memiliki musim dan siklusnya sendiri, bisnis juga demikian. Bisnis yang resilien memiliki tim yang saling mendukung sebagai резерв ketika ada anggota tim yang berhalangan, hubungan yang baik dengan audiens, serta kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan siklus promosi dan informasi baru. Bisnis juga perlu melakukan peninjauan musiman terhadap tujuan dan prioritas untuk merespons informasi dan peluang baru.
Prinsip 2. Konsistensi (Consistency): Di alam, konsistensi diperlukan untuk membangun ekosistem baru yang sehat. Layaknya bibit yang membutuhkan air, matahari, dan nutrisi yang konsisten untuk tumbuh, audiens bisnis membutuhkan interaksi dan perhatian yang konsisten. Konsistensi inilah yang membangun faktor “kenal, suka, dan percaya”. Sebelum seseorang mempercayai sebuah bisnis, mereka akan menguji kehadiran, identitas, kemampuan dalam membantu, rekam jejak, keahlian, dan niat baik bisnis tersebut secara berulang.
Prinsip 3. Kelimpahan Itu Kondisi Alamiah (Abundance Is Natural): Garcia menantang berbagai konstruksi sosial buatan manusia seperti jam kerja empat puluh jam, pasar saham, kepemilikan tanah, norma gender, tren fesyen, dan kebutuhan akan internet serta layanan seluler. Meskipun terasa nyata, semua itu adalah hasil keputusan acak di masa lalu yang seringkali tidak mempertimbangkan masa depan peradaban atau kesetaraan. Sebaliknya, Alam adalah nyata dan mendikte hukum planet dan Alam Semesta. Dengan menghabiskan lebih banyak waktu di alam, kita akan menyadari bahwa KELIMPAHAN ITU ALAMIAH1 Buku ini memperkenalkan sepuluh bentuk modal:
- Modal Individu (Individual capital)
- Modal Intelektual (Intellectual capital)
- Modal Pengalaman (Experiential capital)
- Modal Sosial (Social capital)
- Modal Politik (Political capital)
- Modal Spiritual (Spiritual capital)
- Modal Finansial (Financial capital)
- Modal Alam (Natural capital)
- Modal Budaya (Cultural capital)
- Modal Buatan (Built capital)
Prinsip 4. Kita Tumbuh Melalui Kolaborasi (We Grow Through Collaboration): Koneksi dalam bisnis diciptakan dengan memanusiakan semuanya1 Alih-alih melihat “leads,” “audiens,” “followers,” atau “prospek” sebagai angka, bisnis regeneratif melihat mereka sebagai orang-orang yang tertarik dengan pekerjaan kita dan dapat dilayani dengan baik oleh tawaran kita1… Alih-alih “pembeli” atau “penjualan,” kita melihat orang-orang yang telah mempercayai kita untuk membantu mengubah hidup mereka. Bisnis regeneratif menyadari bahwa “Anda tidak seharusnya melakukan ini sendirian” dan dapat menciptakan bisnis yang lebih resilien, kuat, dan berdampak dalam jangka panjang melalui kolaborasi, pembentukan tim, dan mencari bimbingan (mentorship). Prinsip ini didasari oleh kepercayaan bahwa secara alami manusia saling mendukung demi kemajuan umat manusia dan planet.
Prinsip 5. Keanekaragaman Hayati Menciptakan Ketangguhan (Biodiversity Creates Resilience): Keanekaragaman hayati adalah kunci ketahanan di alam. Alam merancang sistem dengan mempertimbangkan keanekaragaman hayati, berbeda dengan manusia yang seringkali merancang monokultur karena pengaruh Revolusi Industri. Keberagaman pemikiran, latar belakang, dan pengalaman akan memberikan nilai yang sangat besar bagi tim. Garcia menekankan pentingnya merekrut orang yang tidak berpikir seperti kita, yang menikmati hal-hal yang tidak kita sukai, atau memiliki keahlian yang melengkapi kekurangan kita.
Prinsip 6. Alam Itu Meregulasi Dirinya Sendiri (Nature Self-Regulates): Sistem di Alam bersifat dinamis dan terus-menerus memperbaiki diri terhadap ketidakstabilan. Analogi naik sepeda menggambarkan proses regulasi diri yang terjadi tanpa kita sadari. Bisnis dapat mengadopsi prinsip ini melalui berbagai alat, termasuk:
- Prosedur Operasi Standar (Standard Operating Procedures)
- Kalender Pemasaran Tiga Bulanan (A Three-Month Marketing Calendar)
- Aset dan Aturan Pemasaran (Marketing Assets and Rules)
- Lembar Curang Metrik Bisnis (Business Metrics Cheat Sheet)
Prinsip 7. Energi Terbarukan adalah yang Terbaik (Renewable Energy is Best): Bisnis dan seluruh keberadaan kita didukung oleh energi yang berasal dari berbagai sumber, termasuk makanan, air, tidur, pikiran, gerakan, emosi, dan interaksi dengan orang lain. Pandangan yang dipengaruhi oleh Revolusi Industri seringkali membatasi pemahaman energi pada input fisik dan jadwal pemeliharaan. Namun, Bumi juga menghasilkan sumber energi terbarukan secara terus-menerus, seperti matahari, angin, air, panas bumi, dan metana. Bisnis sebaiknya memprioritaskan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan dan terbarukan dalam seluruh operasinya.
Prinsip 8. Segala Sesuatu dalam Interkoneksi (Everything is Interconnected): Garcia merujuk pada konsep “Spaceship Earth” dari Buckminster Fuller, yang menggambarkan Bumi sebagai pesawat ruang angkasa yang meluncur di angkasa dan sepenuhnya bergantung pada apa yang terjadi di dalamnya. Fuller menekankan bahwa “Kita tidak akan dapat mengoperasikan Spaceship Earth kita dengan sukses atau lebih lama lagi kecuali kita melihatnya sebagai keseluruhan pesawat ruang angkasa dan nasib kita sebagai nasib bersama. Ini harus menjadi semua orang atau tidak sama sekali.”. Untuk bertahan hidup di planet ini, kita perlu menyeimbangkan semua sistem dan ekosistem di dalamnya.
Tentang Penulis
Samantha Garcia adalah penulis buku terlaris dan pendiri Dirty Alchemy, sebuah agensi pemasaran dan firma konsultasi untuk para pembuat perubahan modern2 Sam juga menjadi pembawa acara podcast ‘Regenerative Business with Sam Garcia’ dan membantu para pengusaha menerapkan kerangka kerja bisnis regeneratif melalui Regenerative Business Creation Lab2 Latar belakang pendidikannya meliputi gelar Sarjana Fisika dan minor dalam Ilmu Lingkungan dari University of Michigan, serta Sertifikasi Desain Permakultur2 Sebelum fokus pada bisnis pemasaran, ia ikut mendirikan bisnis pertanian regeneratif Living Earth Systems di Maui pada tahun 2015 bersama suaminya, Eddy Garcia2 Saat ini, Sam dan Eddy tinggal dan bekerja secara mandiri di pertanian regeneratif mereka di Olowalu bersama hewan peliharaan dan ternak mereka.
Komentar Pakar dan Penghargaan
Buku “Regenerative Business” mendapatkan pujian dari para ahli. Simone Seol menyebutnya sebagai “buku yang saya doakan agar seseorang menulisnya”. Amanda ‘Pua’ Walsh, Pendiri & CEO Astrology Hub, memujinya sebagai “panduan yang ampuh bagi pemilik dan pemimpin bisnis yang ingin memberikan dampak positif bagi dunia,” dengan menggunakan prinsip-prinsip Alam untuk menciptakan keselarasan, keseimbangan, dan harmoni melalui bisnis.
Sejumput Komentar
Resensi buku mencatat beberapa poin penting:
- Samantha Garcia berhasil mengambil pelajaran dari alam, terutama lewat proses pertanian regeneratif dengan sangat meyakinkan. Kaitan antara proses alam dan cara berbisnis dipaparkan dengan jelas.
- Prinsip-prinsip yang dipaparkannya sangat dekat dengan apa yang ditulis oleh para pakar bisnis regeneratif lainnya, namun diperoleh dengan metodologi yang benar-benar grounded.
- Bahasanya sangat mudah dipahami, menyentuh, dan terkadang menampilkan selera humor yang cerdas.
- Banyak sumber pustaka klasik dan mutakhir yang sangat berguna untuk pencarian lebih lanjut.
- Buku ini akan lebih baik jika lebih banyak menggunakan gambar, bagan, dan tabel untuk meringkas pemikiran, meskipun bab yang pendek dan bahasa yang memikat mungkin membuat hal ini tidak terlalu diperlukan
- Bagi pembaca yang kurang menguasai atau menyukai pendekatan moral dan spiritual dalam bisnis, dan tidak cukup memahami proses-proses di alam, buku ini mungkin akan sulit dicerna
- Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang hendak mempelajari bagaimana bisnis bisa menjadi berkelanjutan, restoratif, dan regeneratif—dan menjadikan perusahaan menjadi future-proof
Ketersediaan Buku
Buku “Regenerative Business” dapat dibeli dalam edisi cetak melalui OpenTrolley dengan harga Rp364.000, atau dalam versi elektronik melalui Amazon dengan harga USD8.00. Buku ini juga disebutkan dalam daftar buku-buku bisnis regeneratif lainnya.
Kesimpulan
“Regenerative Business” karya Samantha Garcia menawarkan perspektif yang mendalam dan praktis tentang bagaimana bisnis dapat berjalan selaras dengan alam. Melalui delapan prinsip yang terinspirasi dari sistem alam, buku ini mengajak para pelaku bisnis untuk meninggalkan praktik eksploitatif dan mengadopsi pendekatan yang lebih berkelanjutan, restoratif, dan regeneratif. Buku ini tidak hanya memberikan kerangka kerja konseptual tetapi juga wawasan praktis yang dapat diimplementasikan dalam berbagai aspek bisnis. Meskipun mungkin menantang bagi sebagian pembaca, “Regenerative Business” merupakan kontribusi penting bagi literatur bisnis yang semakin menyadari pentingnya integrasi dengan alam demi masa depan yang lebih baik.
SALAM LESTARI. TERIMA KASIH!











