← Seluruh

Ekonomi yang Didesain untuk Kebaikan Bersama

Menanti Kompas Baru dari Mariana Mazzucato

55 Article Views

[debug_author_post]

Daftar Isi

Mon, 29 June 2026

 

 

Abstrak :

Artikel ini mengulas buku terbaru ekonom Mariana Mazzucato berjudul The Common Good Economy: A New Compass yang menawarkan kerangka baru untuk mengarahkan ekonomi pada penciptaan kebaikan bersama. Buku ini merupakan kelanjutan dari gagasan Mazzucato mengenai negara kewirausahaan, penciptaan nilai, dan ekonomi berbasis misi, sekaligus mengisi kekosongan normatif dalam karya-karyanya terdahulu. Melalui konsep common good compass, Mazzucato memperkenalkan lima elemen utama, yaitu tujuan dan arah, ko-kreasi dan partisipasi, pembelajaran kolektif dan berbagi pengetahuan, akses dan pembagian manfaat, serta transparansi dan akuntabilitas. Kelima elemen tersebut diuji melalui berbagai studi kasus internasional yang menunjukkan bagaimana kebijakan publik dapat dirancang secara lebih partisipatif dan berorientasi pada kesejahteraan kolektif. Buku ini juga memperkenalkan istilah mission-washing dan common good washing untuk mengkritik praktik penggunaan retorika misi dan kebaikan bersama tanpa perubahan substantif. Bagi dunia keberlanjutan dan tanggung jawab perusahaan, gagasan ini menawarkan perspektif baru untuk memastikan bahwa tujuan sosial benar-benar tertanam dalam tata kelola, kontrak, dan distribusi manfaat ekonomi.
Keyword :

Oleh:

Jalal Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

 

Saya menemukan buku ini secara setengah kebetulan, ketika sedang menyusuri laman penerbit untuk urusan lain, dan langsung berhenti karena ‘bingung’: judulnya berbeda di dua tempat. Di satu laman tertulis The Common Good Economy: A New Compass. Di laman lain ada judul The Common Good Economy: How to Make Capitalism Work for Us All. Belakangan saya paham bahwa ini bukanlah kesalahan mesin pencari, melainkan memang dua penerbit di sisi Atlantik yang berbeda memilih subjudul yang lain. Edisi Inggris, yang terbit beberapa hasi lalu, memakai subjudul ‘kompas baru’ yang sederhana; sementara edisi Amerika, yang akan menyusul beberapa bulan lalu, memakai subjudul yang lebih menjual dan langsung menyasar kegelisahan publik Amerika soal kapitalisme. Dua subjudul, satu argumen. Dan argumen itu, sejauh yang bisa saya rekonstruksi dari kesaktian mesin-mesin Kecerdasasan  Buatan berdasarkan catatan penerbit, transkrip wawancara, dan—yang paling berharga—catatan tangan pertama penulisnya sendiri, terasa seperti puncak dari satu dekade pemikiran yang selama ini saya ikuti dengan lekat.

Mariana Mazzucato bukan nama baru bagi siapa pun yang mengikuti perdebatan tentang peran negara dalam ekonomi inovasi. Profesor di University College London dan pendiri Institute for Innovation and Public Purpose di sana, ia adalah ekonom yang sejak The Entrepreneurial State (2013) membongkar mitos bahwa negara hanyalah penambal kegagalan pasar, sementara swasta adalah mesin penemuan. Buku itu disusul The Value of Everything (2018), yang menelusuri siapa sebenarnya yang menciptakan nilai dalam ekonomi dan siapa yang sekadar mengekstraksinya; lalu Mission Economy (2021), yang menerjemahkan gagasan itu menjadi kerangka kebijakan berbasis ‘misi’ ala pendaratan di bulan; dan The Big Con (2023, ditulis bersama mantan mahasiswa doktoralnya, Rosie Collington), kritik tajam terhadap industri konsultansi yang menurutnya justru mengeroposkan kapasitas negara.

 

Buku baru ini, menurut pengakuan Mazzucato sendiri dalam unggahan panjang di kanal pribadinya seusai peluncuran edisi Inggris pada 4 Juni 2026, ditulis selama tiga tahun dan merupakan kelanjutan dari sebuah artikel jurnal akademik Governing the Economics of the Common Good: From Correcting Market Failures to Shaping Collective Goals yang ia terbitkan melalui Journal of Economic Policy Reform Vol. 27/1 2024. Dalam artikel itu ia pertama kali merumuskan lima pilar tata kelola kebaikan bersama; dalam buku ini, pilar-pilar tersebut, tanpa mengubah arsitektur dasarnya, disebut sebagai ‘elemen’, yang bersama-sama membentuk apa yang ia sebut common good compass, kompas kebaikan bersama. Kelima elemen itu adalah: tujuan dan arah, ko-kreasi dan partisipasi, pembelajaran kolektif dan berbagi pengetahuan, akses bagi semua dan berbagi imbal hasil, serta transparansi dan akuntabilitas (lihat Gambar).  Elemen kelima ini, ia tegaskan, adalah yang menegakkan keempat elemen lainnya, karena tanpanya, tak satu pun prinsip lain bisa dipertanggungjawabkan.  Saya menyarankan siapapun, bila belum, untuk mengunduh artikel open access yang sangat bernas tersebut.

Yang membuat saya makin tidak sabar untuk membaca buku baru Mazzucato adalah bagaimana ia memosisikan buku ini relatif terhadap karya-karya sebelumnya. Ia secara terang-terangan mengakui bahwa The Entrepreneurial State dan Mission Economy sebenarnya bukan kerangka normatif: keduanya bisa dipakai untuk memercepat kompleks industri-militer sama mudahnya dengan dipakai untuk membangun layanan kesehatan universal. Buku barulah yang menambal lubang itu, dengan memastikan bahwa arah ekonomi ditentukan secara kolektif dan diarahkan pada hasil yang secara sosial diinginkan—bukan sekadar dipilih oleh segelintir elite teknokratis.

Struktur buku barunya ini dibagi dua bagian besar: bagian pertama membangun fondasi teoretisnya, menolak dua kerangka lama yang ia anggap tidak cukup, yaitu kerangka ‘barang publik’ yang memerlakukan kebaikan sebagai sekadar tambalan atas kegagalan pasar, dan kerangka ‘milik bersama’ atau the commons yang justru membebankan terlalu banyak ekspektasi kepada warga untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan pemerintah yang bermasalah. Dalam wawancara yang saya tonton, Mazzucato menariknya kembali ke pemikiran Aristoteles di mana yang kita perlukan bukan hanya telos (tujuan kehidupan yang baik) tetapi juga polis (bagaimana kita membangun komunitas).  Ia juga memanfaatkan pemikiran filsuf komunitarian kontemporer seperti Michael Sandel.

Bagian keduanya dinyatakan lebih konkret: tiap elemen kompas diuji dengan studi kasus nyata. Barbados, tempat ia membantu Perdana Menteri Mia Mottley merancang strategi industri berbasis misi yang menempatkan budaya dan festival Crop Over sebagai mesin ekonomi, bukan pemanis kebijakan; Dewan Kota Camden di London, dengan program We Make Camden yang melibatkan warga merancang ulang spesifikasi pengadaan layanan sosial bersama para pekerja perawatan; pusat transfer teknologi vaksin mRNA berbasis di Afrika Selatan, yang lahir dari kemarahan global atas ketimpangan distribusi vaksin Covid-19; Undang-Undang CHIPS Amerika Serikat, dengan klausul yang melarang penerima insentif memakai dana publik untuk membeli kembali saham mereka sendiri; dan Barcelona di bawah Wali Kota Ada Colau, yang membangun ‘data commons’ kota sebagai bentuk kedaulatan digital warga.

Dari diskusi teoretis dan studi kasusnya, muncullah dua istilah baru Mazzucato yang paling provokatif lahir: mission-washing dan common good washing—pencatutan bahasa misi dan kebaikan bersama oleh aktor publik maupun privat yang, di baliknya, masih menjalankan logika lama yang ekstraktif dan jangka pendek. Ia bahkan tak ragu menyebutkan pemerintahan Partai Buruh Keir Starmer di Inggris sebagai contoh peringatan: lima misi yang diumumkan Starmer, menurutnya, gagal menjadi misi sejati karena salah satunya—’mendorong pertumbuhan ekonomi’—justru kehilangan elemen arah yang menjadi inti definisinya sendiri. Pertumbuhan, tulis Mazzucato, semestinya hasil dari misi yang dijalankan dengan baik, bukan misi itu sendiri.

Dari beberapa diskusi dan resensi yang sudah dituliskan, saya mendapati argumen ‘mengapa sekarang’, yang membuat buku ini terasa genting. Mazzucato menyitir angka-angka yang sudah sering kita dengar namun tetap menohok bila dijajarkan: projeksi kematian akibat krisis iklim yang bisa mencapai puluhan juta jiwa hingga akhir abad ini, miliaran orang masih hidup tanpa layanan kesehatan dasar atau akses air minum aman, sementara kekayaan segelintir miliarder teknologi kini melampaui kekayaan banyak negara sekaligus. Ia melihat tiga pergeseran yang menguatkan urgensi itu. Pertama, kebijakan industri yang dulu dicurigai sebagai campur tangan negara berlebihan kini semakin diterima luas. Kedua, bahasa ‘misi’ sudah diadopsi cepat oleh banyak pemerintah, tetapi adopsi bahasa bukan berarti penerapan substansi, dan di sinilah ‘mission-washing’ mengintai bukan cuma di Inggris di bawah Starmer. Ketiga, dan yang ia anggap paling mendesak, adalah krisis kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah mewujudkan perubahan yang mereka umumkan.

Sampai saya tuliskan esai ini, edisi Inggris dari Allen Lane yang sudah lebih dulu beredar sejak awal Juni, belum bisa dipesan lewat situs Open Trolley di mana saya biasa membeli buku secara daring.  Di  situ hanya tersedia pilihan untuk membeli edisi Amerika Serikat dari Basic Books, yang berarti seandainya saya bayar sekarangpun baru akan bisa saya baca sekitar akhir September nanti.

Endorsement di edisi Amerika cukup berat: Thomas Piketty, ekonom Prancis penulis Capital in the Twenty-First Century, menyebut bahwa buku penting untuk membangun kembali ekonomi dan masyarakat dengan kebaikan bersama sebagai pusatnya. Heather Boushey dari University of Pennsylvania memujinya sebagai penolakan tegas atas dikotomi semu antara kemajuan ekonomi dan kesejahteraan. Jayati Ghosh dari University of Massachusetts Amherst menekankan bahwa visi Mazzucato bukan utopia belaka, melainkan peta jalan konkret untuk beranjak dari kepasifan menuju aksi kolektif. Sementara itu, kutipan pers yang dipilih penerbit—dari Financial Times, yang menyebutnya sumbangan ambisius dan menggugah pikiran bagi perdebatan tentang masa depan Kapitalisme; dari New Statesman, yang menilainya menawarkan sesuatu yang dibutuhkan politik kiri-tengah kontemporer, bukan sekadar daftar kebijakan tapi narasi tentang untuk apa pemerintah ada; dan dari jurnal Nature, yang menggarisbawahi argumen bahwa orang bisa secara aktif membentuk keputusan ekonomi, bukan hanya menanggung akibatnya.  Semuanya, walaupun saya tak pernah menemukan karya Mazzucato yang mengecewakan, perlu dibaca dengan kesadaran bahwa ini adalah kutipan yang dipilih oleh penerbit sendiri untuk menjual buku.

Yang lebih berimbang, dan karenanya lebih saya percaya, adalah satu ulasan yang muncul di The Guardian tak lama setelah peluncuran edisi Inggris. Ulasan itu menempatkan buku dalam konteks politik Inggris hari ini: bagaimana pemerintahan Starmer, yang konon terinspirasi langsung oleh gagasan ‘pemerintahan berbasis misi’ Mazzucato, justru kesulitan memprojeksikan arah yang dijanjikan kerangka itu. Resensi tersebut mengakui buku ini kaya akan contoh praktis—dari program makan sekolah berkelanjutan di Swedia hingga misi kota netral-karbon Uni Eropa—namun juga mencatat sisi lemahnya: eksposisi yang terkadang berat untuk konsumsi pembaca awam, dengan perjalanan panjang melintasi sejarah pemikiran ekonomi dari Aristoteles hingga Amartya Sen, dan risiko buku ini dibaca sebagai utopia yang terlalu jauh dari realitas politik-ekonomi berantakan yang sedang kita hadapi. Risiko itu, menurut resensi tersebut, untungnya banyak ditambal oleh sebaran contoh nyata yang ditaburkan di sepanjang buku, meski sebagian besar masih berskala kecil.

Saya membaca semua ini dengan rasa tidak sabar yang agak aneh untuk sebuah buku ekonomi setebal lebih dari tiga ratus halaman. Tapi bagi siapa saja yang sehari-hari bergelut dengan tanggung jawab dan keberlanjutan perusahaan argumen Mazzucato terasa menyentuh persoalan yang sangat akrab: bagaimana memastikan bahwa niat baik tidak berhenti menjadi slogan di laporan keberlanjutan, melainkan benar-benar tertanam dalam cara kontrak, prosedur pengadaan, dan pembagian risiko-imbal hasil dirancang dari awal. Istilah ‘common good washing’ dan ‘mission washing’ terasa seperti saudara kandung dari greenwashing yang sudah lama menjadi momok di dunia keberlanjutan perusahaan.  Dan, mungkin, setelah buku ini kelak dibaca secara  luas, akan menjadi kosakata baru yang dipakai untuk menguji klaim-klaim purposeful business di mana-mana, termasuk di Indonesia.

Yang jelas, saya belum memutuskan apakah akan menanti edisi Inggrisnya atau segera memesan edisi Amerika. Sampai wujud fisik buku itu mendarat di meja saya, dan saya baca lembar demi lembar hingga sampul belakang, yang saya miliki hanyalah apa yang saya bagi melalui tulisan ini.  Seperti kompas mana pun, tentu ia lebih berguna ketika dipegang di tangan dan dipergunakan untuk memandi arah, daripada hanya dibaca atau didengarkan deskripsinya.

 

Jakarta, 28 Juni 2026 11:11

 

Metrik Artikel

All Time Views : 55

Total Views 2026:

Ditulis Oleh

Wahyu Aris Darmono

Senior Advisor

Social Investment Indonesia

Dewan Redaksi

Penanggung Jawab:

Fajar Kurniawan, MM

Pemimpin Redaksi:

Dr. Ivanovich Agusta

Wakil Pemimpin Redaksi:

Purnomo

Redaktur Pelaksana:

Paimun Karim, S.Si.

Dewan Redaksi:

  1. Jalal, SP
  2. Wahyu Aris Damono, SP
  3. Drs. Sonny S. Sukada, M.Sc.
  4. Mahmudi Siwi, M.Si.

Tim Lay Out dan Media Sosial:

Rizal Choirul Insani, S.Si.

Unduh Disini

Bagikan Ini

Digitalisasi perhitungan SROI akurat dan terpercaya