Oleh:
Purnomo – Senior Advisor
Social Investment Indonesia
Seorang rekan praktisi mengirim pesan pada suatu sore, pertengahan 2024. Ia baru pulang dari sebuah forum diskusi praktisi SROI, membawa satu pertanyaan yang terus mengganggunya sepanjang perjalanan pulang. Dalam forum itu, seseorang mengusulkan sesuatu yang terdengar masuk akal: mengapa perhitungan SROI tidak memakai compound rate saja untuk menilai investasi. Memproyeksikannya maju ke tahun laporan disusun. Alih-alih terus-menerus mendiskon nilai manfaat mundur ke masa kini? Bukankah keduanya sama-sama rumus bunga majemuk, hanya beda arah? Dan bukankah menyeragamkan titik waktu semua angka justru terdengar lebih adil?
Rekan saya tidak langsung punya jawaban. Ia membuka kembali panduan SROI yang selama ini jadi rujukannya, mencari padanan istilah compound rate di sana. Yang ia temukan justru sebaliknya: metode untuk menarik nilai manfaat masa depan kembali ke masa kini, bukan mendorong nilai investasi maju ke depan. Ada yang terasa janggal, tapi ia belum bisa merumuskan dengan tepat di mana letaknya. “Rasanya seperti dua rumus yang mirip sekali,” tulisnya, “tapi entah kenapa terasa salah kalau ditukar.”
Ia bukan satu-satunya yang bertanya-tanya. Diskursus ini mulai ramai dibicarakan di kalangan praktisi investasi sosial Indonesia, seiring SROI kian sering dipakai sebagai instrumen pelaporan dalam berbagai skema penilaian kinerja lingkungan dan sosial perusahaan. Diskursus ini pantas mendapat perhatian serius. Bukan karena salah satu pihak keliru secara moral, melainkan karena di baliknya tersimpan pertanyaan konseptual yang, jika salah dijawab, bisa menggeser fondasi metodologi yang selama dua dekade dijaga ketat oleh komunitas SROI global.
Saya menuliskan ini bukan untuk menutup diskusi, melainkan untuk membukanya lebih lebar dengan peta yang lebih jelas. Sebagai seseorang yang bertahun-tahun mendampingi praktik SROI di Indonesia, saya melihat pertanyaan semacam ini justru pertanda baik: tanda bahwa semakin banyak orang tidak sekadar menjalankan rumus, tapi ingin memahami mengapa rumus itu berbentuk demikian.
Motivasi di balik usulan itu pun bisa dipahami: ada kekhawatiran soal keadilan lintas waktu, dan dorongan menyeragamkan titik acuan perhitungan. Kekhawatiran itu sah. Pertanyaannya bukan apakah kekhawatiran itu valid, melainkan apakah compound rate alat yang tepat untuk menjawabnya. Artikel ini menelusuri akar matematis dan filosofis dari discount rate dan compound rate, memeriksa mengapa SROI secara konsisten memilih salah satunya, dan menimbang argumen sebaliknya dengan itikad baik.
Bukan Perdebatan Baru, Bukan Juga Perdebatan Sepele
Ada baiknya kita mengakui satu hal sejak awal: perdebatan tentang discount rate bukan hal baru, dan tak pernah benar-benar tuntas di kalangan ekonom. Survei Asian Development Bank menyebut pemilihan social discount rate untuk cost-benefit analysis sebagai persoalan yang telah lama menjadi sumber kontroversi dan subjek perdebatan intens di antara para ekonom.¹ Ketika Nicholas Stern menerbitkan laporan monumentalnya tentang ekonomi perubahan iklim pada 2006, salah satu bagian paling diperdebatkan justru bukan sains iklimnya, melainkan berapa besar discount rate yang layak dipakai untuk menilai kerugian yang baru dirasakan generasi mendatang. Sejumlah ekonom terkemuka berbeda pendapat tajam dengannya, dan perdebatan itu berlangsung bertahun-tahun di jurnal-jurnal ekonomi terkemuka.
Stern memakai discount rate yang sangat rendah, mendekati nol untuk komponen preferensi waktu murni, dengan argumen etis bahwa tidak ada alasan moral untuk menghargai kesejahteraan generasi mendatang lebih rendah dibanding generasi sekarang, semata karena mereka lahir belakangan. William Nordhaus dan sejumlah ekonom lain membantah: discount rate yang terlalu rendah, kata mereka, akan mendorong terlalu banyak sumber daya dikorbankan hari ini untuk manfaat yang baru terasa puluhan tahun ke depan, sesuatu yang menurut mereka tidak realistis secara ekonomi maupun politik.
Fakta ini semestinya membuat kita rendah hati: wajar jika muncul kebingungan tentang discount rate, termasuk di Indonesia. Tapi ada perbedaan penting yang perlu digarisbawahi. Perdebatan para ekonom itu selalu tentang berapa besar discount rate yang tepat dan komponen apa saja yang semestinya masuk di dalamnya. Perdebatan di dalam kerangka discounting, bukan perdebatan tentang apakah discounting semestinya diganti dengan compounding. Tidak ada satu pun literatur akademik serius, dari kubu mana pun, yang pernah mengusulkan supaya cost-benefit analysis membalik arah dan memakai compounding untuk menilai investasi.
Memahami ini penting supaya diskursus di Indonesia tidak salah menempatkan diri. Mempertanyakan besaran discount rate yang dipakai dalam SROI, apakah 3,5% terlalu tinggi atau rendah untuk konteks kita, misalnya—adalah pertanyaan sah dan produktif. Mengusulkan penggantian discounting dengan compounding adalah persoalan lain sama sekali, karena itu bukan lagi soal besaran, melainkan soal arah dan tujuan perhitungan itu sendiri.
Kekaburan ini mungkin muncul karena discounting dan compounding memang jarang diajarkan berdampingan dalam kurikulum bisnis atau manajemen di Indonesia, sehingga banyak praktisi mengenal salah satu tanpa pernah membandingkannya secara eksplisit dengan yang lain. Wajar jika keduanya kemudian terasa seperti dua varian dari rumus yang sama, alih-alih dua alat dengan tujuan yang sepenuhnya berbeda.
Dua Anak Panah, Satu Keluarga Rumus
Untuk memahami mengapa arah ini penting, kita perlu kembali ke gagasan paling dasar yang melandasi keduanya: nilai waktu dari uang (time value of money). Satu juta rupiah hari ini lebih berharga daripada satu juta rupiah setahun lagi. Karena inflasi menggerus daya beli, karena uang di tangan hari ini bisa segera dimanfaatkan (opportunity cost), dan karena sesuatu yang dijanjikan di masa depan selalu punya risiko tidak terwujud sepenuhnya.
Dari fondasi yang sama itu, dua rumus berkembang untuk menjawab dua pertanyaan yang berlawanan arah. Compounding menjawab: jika sejumlah uang ditanam hari ini dengan bunga tertentu, berapa nilainya nanti? Rumusnya FV = P(1+r)ⁿ. Discounting menjawab sebaliknya: jika sejumlah nilai baru akan diterima beberapa tahun lagi, berapa nilainya kalau dihitung hari ini? Rumusnya PV = FV/(1+r)ⁿ—pembilang dan penyebutnya bertukar posisi.²
Mari lihat dengan angka konkret. Bayangkan sebuah program CSR menyalurkan investasi Rp100 juta hari ini, dengan manfaat sosial senilai Rp50 juta yang baru terwujud penuh tiga tahun lagi. Untuk membandingkannya secara adil, kita mendiskon Rp50 juta itu ke masa kini dengan discount rate 3,5%: PV = 50.000.000/(1,035)³ ≈ Rp45,1 juta—angka inilah yang dibandingkan dengan investasi Rp100 juta untuk menghasilkan rasio SROI.
Bandingkan dengan compounding untuk investasi yang sama: jika Rp100 juta diproyeksikan maju tiga tahun dengan bunga 5%, nilainya menjadi FV = 100.000.000 × (1,05)³ ≈ Rp115,8 juta. Angka ini menjawab pertanyaan yang sama sekali berbeda. Berapa nilai Rp100 juta itu kalau ditanam di instrumen berbunga? bukan pertanyaan yang relevan untuk menilai program sosial.
Perbedaan arah ini makin kentara kalau horizon waktunya diperpanjang. Untuk program konservasi atau pemberdayaan yang manfaatnya baru matang sepuluh tahun kemudian, discounting akan membuat nilai manfaat Rp50 juta itu menyusut jauh lebih dalam; PV = 50.000.000/(1,035)¹⁰ ≈ Rp35,4 juta. Karena semakin jauh sebuah manfaat, semakin besar pula ketidakpastian dan kesempatan yang hilang selama masa tunggunya. Compounding untuk investasi yang sama pada horizon sepuluh tahun justru bergerak ke arah berlawanan, menggelembungkan nilai Rp100 juta menjadi jauh di atas Rp150 juta. Semakin panjang rentang waktunya, semakin lebar jurang antara dua logika ini. Dan semakin jauh pula hasil akhirnya dari apa yang sebenarnya ingin diukur oleh SROI.
| Aspek | Compounding | Discounting |
| Arah waktu | Masa kini menuju masa depan | Masa depan ditarik ke masa kini |
| Pertanyaan yang dijawab | Berapa nilai ini nanti? | Berapa nilai itu hari ini? |
| Rumus | FV = P(1+r)ⁿ | PV = FV/(1+r)ⁿ |
| Efek terhadap angka seiring waktu | Membesar | Mengecil |
| Konteks penggunaan lazim | Tabungan, deposito, pinjaman, investasi finansial | Cost-benefit analysis, valuasi proyek, SROI |
Menukar keduanya bukan sekadar mengubah rumus, tapi mengubah arah keseluruhan logika perhitungan.
Mengapa SROI Berdiri di Sisi Discounting
SROI, sama seperti cost-benefit analysis, selalu bertanya ke arah yang sama: berapa nilai manfaat yang akan diterima di masa depan, jika dihitung hari ini? A Guide to Social Return on Investment, panduan resmi rujukan metodologi SROI global, menjelaskan bahwa discount rate dipakai untuk menghadirkan nilai manfaat masa depan ke dalam present value, sehingga bisa dijumlahkan secara konsisten dengan nilai investasi yang sudah dikeluarkan.²
Titik waktu acuan dalam SROI maupun CBA, secara konvensi, adalah masa kini. Saat analisis dilakukan. Investasi biasanya sudah terjadi pada titik ini atau sebelumnya, karena laporan SROI umumnya disusun setelah atau di tengah sebuah program berjalan, sementara manfaat jangka panjangnya baru terwujud penuh di tahun-tahun mendatang. Karena investasi sudah berada di titik masa kini, ia tidak perlu dibawa ke mana-mana. Yang perlu dibawa adalah manfaat masa depan itu, ditarik mundur lewat discounting.
Di sinilah letak kekeliruan dari usulan memakai compound rate untuk investasi: usulan itu memperlakukan investasi seolah perlu dibawa maju ke tahun laporan disusun. Padahal investasi sudah berada di titik referensi waktu yang dipakai untuk seluruh perhitungan. Membawanya maju lewat compounding sama saja menggeser titik referensi itu sendiri; mengubah keseluruhan kerangka acuan perbandingan, bukan sekadar menyesuaikan satu angka.
Delapan Prinsip Nilai Sosial yang menjadi fondasi metodologi SROI menegaskan bahwa proses valuasi harus konsisten dan bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis.³ Mengganti mekanisme inti perhitungan seperti arah discounting bukan penyesuaian teknis kecil; ia mengubah apa yang sebenarnya diukur oleh rasio SROI.
Analogi sederhana mungkin membantu di sini. Bayangkan dua orang berdiri di titik waktu yang sama, masing-masing memegang sebuah kotak. Kotak pertama berisi uang yang sudah dibelanjakan tahun lalu; kotak kedua berisi janji manfaat yang baru akan cair tiga tahun lagi. Untuk membandingkan isi kedua kotak secara adil, yang perlu disesuaikan hanya kotak kedua; ditarik nilainya ke masa kini, karena ia satu-satunya yang belum tiba. Kotak pertama sudah berada di tangan, tidak perlu diapa-apakan lagi selain dicatat apa adanya. Usulan compound rate, dalam analogi ini, sama saja dengan mengutak-atik kotak yang sudah di tangan seolah ia masih dalam perjalanan.
Discounting menjawab: berapa nilai manfaat masa depan itu, hari ini? Compounding menjawab pertanyaan yang sama sekali lain: berapa uang ini akan bertumbuh, nanti? SROI, sejak definisinya, hanya pernah bertanya yang pertama.
Anatomi Sebuah Discount Rate
Kalau discount rate bukan suku bunga, sebenarnya ia terbuat dari apa? Discount rate sosial dalam kerangka Green Book Inggris, sebuah rujukan yang diikuti Social Value International, yang diturunkan dari Ramsey Rule, formula yang pertama dirumuskan ekonom dan filsuf Frank Ramsey pada 1928.⁴ Formula ini menyatakan Social Time Preference Rate (STPR) sebagai penjumlahan dua komponen: STPR = ρ + µg.
Komponen ρ (preferensi waktu) terdiri dari preferensi waktu murni (δ)—seberapa besar masyarakat menghargai manfaat sekarang dibanding nanti—dan risiko katastrofik (L), premi kecil untuk kemungkinan bencana yang mengganggu keberlanjutan manfaat. Komponen µg (efek kekayaan) adalah hasil kali elastisitas marginal utility of consumption (µ) dan proyeksi pertumbuhan konsumsi (g): jika masyarakat diperkirakan makin sejahtera, manfaat tambahan di masa depan terasa relatif kurang berharga dibanding hari ini.⁵
| Parameter | Simbol | Nilai Asumsi |
| Preferensi waktu murni | δ | 0,5% |
| Risiko katastrofik | L | 1,0% |
| Elastisitas marginal utility | µ | 1,0 |
| Proyeksi pertumbuhan konsumsi | g | 2,0% |
| Social Time Preference Rate (ρ + µg) | STPR | 3,5% |
Setiap komponennya adalah representasi nilai kolektif tentang cara masyarakat memandang waktu, risiko, dan kesejahteraan. Bukan cerminan bunga bank. Discount rate ini pun bukan angka tetap: untuk proyek di atas 30 tahun, Green Book menetapkan skema menurun bertahap: 3,5% untuk 30 tahun pertama, turun ke 3,0% dan 2,5% untuk rentang berikutnya. Hal ini mencerminkan ketidakpastian yang membesar seiring proyeksi yang makin jauh, sekaligus prinsip keadilan antargenerasi yang ditekankan Stern Review: tidak etis membebani generasi mendatang demi kepentingan hari ini.⁵ Ada pula discount rate khusus yang lebih rendah, 1,5%, untuk biaya dan manfaat yang menyangkut kesehatan atau nyawa manusia, karena komponen efek kekayaan dianggap tidak relevan di sana. Nilai tambahan usia hidup tidak menurun hanya karena masyarakat makin sejahtera secara materi.⁵ Kompleksitas ini menegaskan betapa jauh discount rate sosial dari sekadar bunga yang bisa ditukar dengan compound rate.
Ini pula praktik yang berlaku luas, bukan kekhasan satu negara. ADB, Prancis, Norwegia, dan Belanda sama-sama memakai kerangka STP ala Ramsey Rule sebagai basis, meski dengan penyesuaian premi risiko berbeda-beda, dan tak satu pun dari mereka berpindah ke compounding.⁵ ADB sendiri, sebagai lembaga pembiayaan pembangunan yang aktif di Indonesia, secara historis menerapkan discount rate acuan di kisaran 10–12% untuk proyek-proyek di negara berkembang, mencerminkan opportunity cost modal yang relatif tinggi di kawasan ini. Angka yang jauh lebih tinggi dari 3,5% ala Green Book, namun tetap dipakai sebagai discount rate, bukan compound rate.¹ Indonesia sendiri bukan pihak asing dengan kerangka ini: dalam penilaian kelayakan proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha, Kementerian Keuangan dan Bappenas memakai Economic Net Present Value dan Economic Internal Rate of Return yang keduanya berpijak pada discounting.⁶
Larangan Diskonto Retrospektif
Ada satu prinsip dalam Green Book yang langsung menjawab inti usulan compound rate: discounting tidak boleh diterapkan secara retrospektif terhadap biaya dan manfaat yang sudah terjadi. Nilai biaya dan manfaat sosial tidak bertambah besar hanya karena kegiatannya terjadi di masa lalu, demikian ditegaskan.⁵ Secara logis, prinsip yang sama menyiratkan bahwa investasi masa lalu pun tidak semestinya dinaikkan lewat compounding, karena itu sama saja memperlakukan nilai historis seolah bisa terus bertambah tanpa batas.
Ini konsekuensi logis dari apa itu investasi dalam program sosial. Ketika sebuah perusahaan mengeluarkan Rp100 juta untuk CSR pada 2022, nilai riil pengeluaran itu sudah tetap sejak saat terjadi; fakta historis, bukan aset yang terus bertumbuh seperti saldo tabungan. Memperlakukannya sebagai investasi yang seharusnya terus berbunga sampai hari laporan disusun mengandaikan dunia paralel di mana dana itu sebenarnya ditaruh di rekening berbunga, bukan disalurkan menjadi pelatihan, bibit, atau pompa air yang benar-benar dibangun.
Pertanyaan berapa nilai dana itu seandainya ditaruh di instrumen lain relevan untuk analisis opportunity cost sebelum investasi dilakukan. Bukan untuk mengukur dampak sosial dari investasi yang sudah terjadi. SROI, sejak definisinya, adalah alat ukur dampak yang sudah terwujud, bukan alat proyeksi keuangan alternatif.
Prinsip yang sama berlaku dalam akuntansi keuangan konvensional, meski jarang disadari sebagai analogi yang relevan. Biaya yang sudah dikeluarkan, yang dikenal sebagai sunk cost, tidak pernah dinilai ulang berdasarkan apa yang seandainya bisa terjadi jika uangnya dipakai untuk hal lain. Sebuah pabrik yang dibangun lima tahun lalu dicatat dalam neraca berdasarkan biaya perolehannya, disesuaikan lewat depresiasi, bukan berdasarkan proyeksi seandainya dana itu ditanam di instrumen lain. Logika yang sama semestinya berlaku untuk investasi sosial: ia dicatat sebagai apa yang sesungguhnya terjadi, bukan sebagai skenario finansial alternatif yang tidak pernah benar-benar dipilih.
Menimbang Argumen di Balik Usulan Compound Rate
Adil rasanya berhenti sejenak menimbang argumen di balik usulan compound rate dengan itikad baik, karena kekhawatirannya nyata. Hanya saja jawabannya bukan mengganti arah discounting.
Kekhawatiran pertama soal keadilan lintas waktu: bagaimana membandingkan investasi Rp1 miliar pada 2018 dengan Rp1 miliar pada 2024, kalau daya beli uangnya sudah berbeda? Jawabannya bukan compounding, melainkan penyesuaian inflasi (inflation adjustment); proses yang secara eksplisit dibedakan dari discounting dalam kerangka Green Book maupun praktik CBA umumnya.⁵ Penyesuaian inflasi memakai indeks harga untuk menyatakan ulang nilai lama ke nilai riil tahun berjalan, tanpa melibatkan asumsi bahwa uang tumbuh seperti investasi berbunga.
Kekhawatiran kedua adalah dorongan menyeragamkan titik waktu semua angka dalam laporan. Dorongan ini sebetulnya sudah terpenuhi oleh discounting itu sendiri—hanya saja arahnya menarik manfaat masa depan ke masa kini, bukan mendorong investasi masa lalu ke masa depan. Titik acuan SROI konvensional memang sudah seragam: masa kini, saat laporan disusun. Investasi tidak perlu digeser karena sudah berada di titik itu; yang perlu digeser hanyalah manfaat masa depan, lewat discounting yang sudah baku.
Ada juga kekhawatiran ketiga yang kadang tersirat: perusahaan multinasional atau proyek jangka panjang mungkin melaporkan investasi dalam mata uang atau tahun anggaran yang berbeda-beda, sehingga tergoda mencari cara menyeragamkannya. Di sinilah penting membedakan tiga hal yang sering tercampur: nilai waktu uang (dijawab discounting), daya beli lintas tahun (dijawab inflation adjustment), dan konversi mata uang (dijawab kurs pada titik waktu yang relevan). Ketiganya adalah alat yang berbeda untuk masalah yang berbeda pula, dan tak satu pun dari ketiganya memerlukan compounding untuk menilai investasi yang sudah terjadi.
Menimbang argumen ini dengan jujur justru memperkuat kesimpulan bahwa discount rate tetap alat yang tepat. Kekhawatirannya valid, tapi solusinya sudah tersedia di dalam kerangka metodologi yang ada; inflation adjustment untuk soal daya beli, discounting standar untuk soal keseragaman titik waktu. Yang dibutuhkan bukan mengganti arah perhitungan, melainkan memastikan praktisi memahami perangkat yang sudah ada.
Ada satu hal lagi yang layak disebut, meski jarang diucapkan terbuka: usulan metodologis yang datang dari pihak berwenang cenderung sulit dibantah praktisi di lapangan, terlepas benar-tidaknya usulan itu secara teknis. Ini bukan persoalan unik pada SROI—ilmu pengetahuan mana pun rentan terhadap tekanan kepatuhan semacam ini ketika otoritas administratif dan otoritas keilmuan tidak sepenuhnya sejalan. Karena itulah forum diskursus terbuka, seperti yang memicu artikel ini, penting dijaga: bukan untuk menantang otoritas demi menantang, melainkan supaya argumen teknis tetap teruji berdasarkan kekuatan logikanya sendiri, bukan berdasarkan posisi siapa yang menyampaikannya.
Ongkos Praktis Jika Compound Rate Diterapkan
Ada baiknya kita periksa juga apa yang terjadi pada angka jika compound rate benar-benar diterapkan, supaya diskursus ini tak berhenti di level filosofis. Karena investasi dikalikan bunga majemuk, nilainya membesar; karena rasio SROI membagi nilai manfaat dengan nilai investasi, rasio itu otomatis mengecil secara proporsional. Kembali ke contoh sebelumnya: dengan discounting standar, rasio SROI kira-kira 1:0,45. Jika investasi dinaikkan lewat compounding menjadi Rp115,8 juta sementara manfaat tetap didiskon, rasio turun menjadi sekitar 1:0,39—penurunan lebih dari sepuluh persen, murni karena pergantian arah perhitungan, bukan karena dampak programnya benar-benar mengecil.
Perubahan aritmetik ini sendiri belum tentu mengubah kesimpulan kebijakan. Yang justru dipertaruhkan adalah keterbandingan: SROI dirancang sebagai bahasa bersama lintas organisasi, sektor, bahkan negara. Begitu satu pihak mengganti mekanisme perhitungan intinya tanpa keselarasan dengan standar global, angka yang dihasilkan berhenti bisa dibandingkan apple-to-apple dengan angka SROI dari tempat lain—bahkan berisiko tak sebanding antarprogram di Indonesia sendiri, jika sebagian laporan memakai discount rate dan sebagian lain compound rate tanpa penjelasan jelas.
Bayangkan dua perusahaan di sektor yang sama, sama-sama melaporkan rasio SROI 1:3 untuk program pemberdayaan masyarakat mereka. Pembaca laporan—investor, regulator, atau masyarakat—wajar mengasumsikan keduanya menghasilkan nilai sosial yang sepadan untuk setiap rupiah yang diinvestasikan. Tapi jika satu perusahaan menghitung dengan discounting standar dan satu lagi dengan compounding tanpa penjelasan, angka 1:3 yang satu bisa jadi merepresentasikan dampak riil yang jauh lebih besar daripada yang lain. Keterbandingan yang selama ini menjadi kekuatan utama SROI sebagai bahasa lintas sektor pun runtuh, digantikan oleh angka yang tampak sama tapi berarti berbeda.
Prinsip transparansi—salah satu dari delapan Prinsip Nilai Sosial—menegaskan bahwa setiap asumsi dan metode perhitungan harus dijelaskan terbuka.³ Perubahan metodologis sebesar mengganti arah discounting, jika diterapkan tanpa diskusi terbuka bersama komunitas praktisi, berisiko mencederai prinsip yang justru paling mendasar bagi kredibilitas SROI.
Kembali ke Pertanyaan yang Tepat
Pertanyaan yang membuat rekan saya termenung sepulang forum itu, pada akhirnya, punya jawaban cukup jernih begitu ditelusuri sampai akar: compounding dan discounting bukan dua pilihan rasa dari satu rumus yang sama, melainkan dua jawaban untuk dua pertanyaan berbeda arah. SROI, sejak metodologinya dirumuskan, hanya pernah mengajukan satu jenis pertanyaan—berapa nilai manfaat masa depan itu, kalau dihitung hari ini—dan discounting satu-satunya alat yang secara matematis dan filosofis pas untuk menjawabnya.
Ini bukan berarti discount rate yang dipakai selama ini sudah sempurna dan tak bisa dipertanyakan. Sejarah panjang perdebatan akademik seputar besarannya—dari Ramsey pada 1928 hingga Stern dan para pengkritiknya pada 2006—menunjukkan ini wilayah yang sehat untuk terus disempurnakan. Apakah 3,5% tepat untuk konteks Indonesia, dengan tingkat pertumbuhan konsumsi dan profil risiko yang berbeda dari Inggris? Apakah perlu penyesuaian untuk program konservasi berhorizon sangat panjang, atau untuk program yang manfaatnya sangat rentan terhadap risiko bencana alam? Semua pertanyaan ini sah dan layak menjadi bahan diskursus lanjutan di kalangan praktisi dan akademisi SROI Indonesia. Yang tidak produktif, dan berisiko mencederai fondasi metodologi itu sendiri, adalah membalik arah perhitungannya.
Ekosistem SROI di Indonesia sedang tumbuh cepat—didorong regulasi, kebutuhan pelaporan yang makin luas, dan gelombang praktisi baru yang belajar metodologi ini dari berbagai latar belakang, tidak selalu dari akar ekonomi atau statistik. Pertumbuhan ini layak dirayakan sepenuhnya. Tapi ia juga butuh ruang untuk bertanya dengan jernih, memeriksa argumen sampai ke akarnya, dan tidak buru-buru menerima maupun menolak sebuah usulan hanya karena ia datang dari pihak yang berwenang atau terdengar meyakinkan di permukaan.
Sebelum mengadopsi sebuah rumus, ada baiknya kita bertanya lebih dulu: pertanyaan apa sebenarnya yang sedang dijawab rumus itu? Kalau jawabannya selaras dengan apa yang sedang ingin kita ketahui, kita berada di jalur yang benar. Kalau tidak, sebaik apa pun angka yang dihasilkan, ia sedang menjawab sesuatu yang lain. Rekan saya, pada akhirnya, menemukan jawabannya sendiri—dan membagikannya kembali ke forum yang sama, kali ini dengan pertanyaan yang lebih tepat untuk diajukan: bukan rumus mana yang boleh dipakai, melainkan pertanyaan apa yang sebenarnya sedang kita coba jawab.
Referensi
¹ Zhuang, J., Liang, Z., Lin, T., & de Guzman, F. D. (2007). Theory and Practice in the Choice of Social Discount Rate for Cost-Benefit Analysis: A Survey. ADB Economics Working Paper No. 94. Manila: Asian Development Bank.
² Nicholls, J., Lawlor, E., Neitzert, E., & Goodspeed, T. (2012). A Guide to Social Return on Investment. The SROI Network / Cabinet Office, UK.
³ Social Value International. (2022). Standards and Guidance for Applying the Principles of Social Value. Social Value International.
⁴ Ramsey, F. P. (1928). A Mathematical Theory of Saving. The Economic Journal, 38(152), 543–559.
⁵ HM Treasury. (2026). Discounting: Green Book Supplementary Guidance. UK Government. Lihat juga Freeman, M., Groom, B., & Spackman, M. (2018). Social Discount Rates for Cost-Benefit Analysis: A Report for HM Treasury.
⁶ Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko. Panduan Analisis Kelayakan Ekonomi untuk Proyek Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Jakarta: Kementerian Keuangan RI.











