← Seluruh

Ketika Perusahaan Menulis Ulang Kontrak Sosialnya: Menikmati dan Memahami Beyond Impact (Widyandaru, dkk., 2025)

[debug_author_post]

Daftar Isi

Oleh:

JalalChairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

 

Membincangkan Dampak Perusahaan

Di tengah krisis iklim yang semakin memanas dan kesenjangan sosial yang menganga, pertanyaan tentang peran perusahaan dalam masyarakat tak lagi dibincangkan dalam tembok-tembok kampus—ia urgen, bahkan eksistensial. Perusahaan kini dipaksa memilih: menjadi bagian dari solusi atau terus menambah beban planet yang kian rapuh. Buku Beyond Impact karya sahabat saya, Rio Widyandaru, dan rekan-rekannya di Social Impact.ID hadir benar-benar tepat waktu. Ia menawarkan peta jalan bagi mereka yang percaya bahwa kesuksesan bisnis dan keberlanjutan dunia bukanlah dikotomi, melainkan simbiosis yang niscaya. Di Indonesia, di mana 287 juta jiwa penduduknya bergantung pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan, memahami dampak perusahaan bukan lagi pilihan—ia adalah imperatif moral dan strategis.

 

Delapan Kasus yang (Terlampau?) Popular

Beyond Impact menyingkap tirai atas delapan narasi korporasi yang menolak kesederhanaan—kisah-kisah perusahaan besar Indonesia yang mencoba, dengan berbagai tingkat keberhasilan, untuk melampaui sekadar pencarian laba. Dan saya jamin ini bukanlah sekadar katalog promosi projek sosial; ini adalah semacam etnografi cepat dan ambisius atas upaya mereka membawa manfaat bagi pemangku kepentingan.

Pegadaian membuka babak pertama dengan projek Memilah Sampah Menabung Emas—sebuah rekayasa sosial yang mengubah sampah menjadi aset investasi. Di tengah krisis sampah nasional—38,26 juta ton per tahun—BUMN ini menawarkan insentif sederhana namun revolusioner: tukar sampah dengan tabungan emas. Program ini menjangkau 66 bank sampah, melibatkan 5.121 peserta pada tahun 2021, dan berhasil mengumpulkan lebih dari Rp5 miliar dalam bentuk emas. Yang menarik adalah bagaimana program ini tidak hanya mengatasi masalah lingkungan, tetapi sekaligus memerkenalkan literasi finansial kepada komunitas yang sebelumnya termarjinalkan dari sistem keuangan formal. Ibu Mina Dewi Sukmawati, melalui FORSEPSI, menjadi wajah manusiawi dari program ini—bukti bahwa transformasi sosial memerlukan jawara lokal, bukan sekadar anggaran perusahaan.

PLN kemudian masuk melalui narasi Electrifying Agriculture, sebuah projek yang mengakui bahwa ketergantungan sektor agraris pada bahan bakar fosil bukan hanya mahal, tetapi juga tak mungkin berkelanjutan. Dengan mengonversi 160.477 pelanggan (2022) menjadi 246.996 (2023), PLN membuktikan bahwa transisi energi bukan utopia—ia terukur, replikatif. Program ini mengurangi emisi karbon sambil meningkatkan produktivitas petani, sebuah win-win yang jarang terjadi dalam konteks pembangunan. Yang lebih dalam: PLN tidak hanya menjual listrik; ia menjual visi tentang masa depan pertanian Indonesia yang hijau dan produktif.

BRI masuk dengan BRInita, sebuah intervensi urban farming yang menargetkan perempuan perkotaan. Di Jakarta Timur, Kelompok Wanita Tani D’Shafa meningkatkan omzet dari Rp80 juta menjadi Rp125 juta per bulan melalui smart farming. Program ini menyentuh 615 orang, mengurangi stunting sebesar 11,27%, dan menghasilkan 3.064 kg sayuran—angka-angka yang kecil dalam skala nasional, namun monumental bagi keluarga-keluarga yang terlibat. BRInita membuktikan bahwa ketahanan pangan di perkotaan bukanlah fantasi; ia hanya memerlukan tanah, pengetahuan, dan—yang terpenting—kemauan perusahaan untuk mewujudkan visi bahwa masa depan pertanian di antaranya perlu dibangun di perkotaan.

Astra membentangkan programnya ke 1.280 desa di 35 provinsi melalui Desa Sejahtera Astra. Dengan menyerap 23.993 tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 95,33%, Astra menciptakan ekosistem ekonomi yang—setidaknya di atas kertas—mandiri dan berkelanjutan. Desa Tajurhalang di Bogor menjadi laboratorium: pertanian organik dan industri arang berbasis komunitas menghasilkan ekspor senilai Rp2,52 miliar. Namun, yang lebih menarik adalah perhitungan Social Return on Investment (SROI) di 2023: setiap Rp1 menghasilkan nilai sosial Rp3,01—sebuah metrik yang menerjemahkan apa yang tadinya dianggap sebagai altruisme perusahaan menjadi bahasa yang dipahami boardroom.

Pelindo mengambil rute berbeda dengan fokus pada pariwisata budaya di Desa Penglipuran, Bali. Desa yang diakui UNWTO sebagai Best Tourism Village 2023 ini menerima 800.000 wisatawan di 2023—angka yang fantastis namun mengandung benih destruktif bernama over-tourism. Pelindo mencoba menyeimbangkan komersialisasi dan preservasi, bagaikan berlayar di antara dua karang yang masih perlu ditunggu tingkat keberhasilannya dalam jangka panjang. Revitalisasi hutan bambu dan SROI 1:10,21 memang menunjukkan dampak sosial dan finansial yang meyakinkan, tetapi pertanyaan yang menggantung: pada titik mana autentisitas budaya bakal tererosi oleh arus wisatawan?

Pertamina Gas Negara membawa pembaca ke Desa Pagar Dewa dengan projek Mas Tani Tampan—akronim yang mengundang senyum, sekaligus bisa membuat orang melupakan substansi programnya sendiri. Di tengah fluktuasi harga karet dan krisis pupuk, PGN membangun Koperasi Padetra Artomulyo yang menyediakan modal, lapak karet, dan pupuk organik. Program ini juga membentuk Kelompok Tani Siaga untuk mitigasi kebakaran hutan—sebuah pengakuan bahwa risiko lingkungan dan ketahanan ekonomi tidak terpisahkan. Yang menonjol: pendekatan holistik yang tidak hanya memberi ikan, tetapi mengajarkan cara menangkap, mengolah, dan menjual ikan, sekaligus melindungi kolamnya.

Kilang Pertamina Internasional hadir di buku ini lewat Desa Energi Berdikari, membawa energi terbarukan ke wilayah 3T. Dengan 55 kWh dan 100,1 kWp tersebar di 940 keluarga, program ini mengurangi 115,51 ton CO2e per tahun. Desa Kalijaran di Cilacap menjadi poster child-nya: PLTS yang menghasilkan daya maksimum 10.750 watt meningkatkan frekuensi panen dari dua menjadi tiga kali setahun, pendapatan petani naik 50%. Ini adalah sebuah tindakan penanganan dampak iklim yang dikemas sebagai pemberdayaan ekonomi—strategi yang seharusnya bisa dilakukan oleh seluruh industri ekstraktif di Indonesia.

Adaro menutup kasus di buku ini dengan projek PAUD Berkarakter, sebuah investasi jangka panjang untuk Generasi Alpha. Dengan 275 PAUD binaan dan 10.271 siswa, Adaro berinvestasi pada pendidikan anak usia dini sebagai fondasi pembangunan manusia. Program ini tidak sekadar membangun gedung; ia melatih 2.642 guru, mengintegrasikan 9 Pilar Karakter, dan—yang krusial dan sangat jarang ditemukan pada projek sejenis—melibatkan komunitas adat sebagai fasilitator. Ini bisa dikatakan sebagai nation-building yang dimulai dari TK, sebuah visi yang ambisius namun bisa rentan bila tetiba Adaro kehilangan minat untuk menopangnya lagi.

 

Bahan Pelajaran Berharga

Kekuatan terbesar buku ini, menurut saya, adalah keberaniannya untuk tidak menggeneralisasi. Setiap projek dibedah dengan detail yang granular—angka-angka spesifik, nama-nama individu, geografi yang tertulis dengan presisi. Ini bukan snapshot projek yang sering memenuhi laporan keberlanjutan dalam kotak-kotak khusus; melainkan jurnalisme sosial yang jauh lebih serius.

Pendekatan multidimensional—ekonomi, sosial, lingkungan—yang diambil para penulisnya mencerminkan pemahaman bahwa pembangunan berkelanjutan tidaklah linear. Penggunaan beragam kerangka global seperti SROI, Creating Shared Value, dan SDGs memberikan struktur analitis yang memungkinkan pembaca melakukan komparasi lintas-projek. Jadi, walaupun ragam industri, projek, dan lokasinya cukup tinggi, benang merahnya tetap bisa ditarik lewat bantuan beragam kerangka itu.

Dan, yang paling saya sukai dan hargai, buku ini memberikan pengeras suara kepada para jawara di komunitas—Ibu Mina, Ade Nandang, Arga Suwitno—individu-individu yang kerap terlupakan dalam narasi keberlanjutan yang digaungkan perusahaan-perusahaan besar. Padahal para jawara itu mengingatkan kita bahwa program terbaik sekalipun bakal gagal tanpa partisipasi dan perasaan memiliki yang kuat di tingkat tapak. Infografis yang berkualitas yang ada juga memerkuat narasi, mengubah data menjadi cerita visual yang meyakinkan. Banyak fotografinya yang memerkuat cerita, walau agak banyak juga yang sifatnya ‘PR’ seperti foto pemberian penghargaan dan ‘cek’ raksasa.

 

Beberapa Ruang Perbaikan

Namun, buku ini bukan tanpa blind spots. Bagi saya, absennya perspektif kritis—suara skeptis, trade-offs yang tidak dibahas, dan mungkin juga kegagalan-kegagalan yang tidak diungkap—membuat narasi terasa terlalu halus, terlalu mulus, terlalu bersih. Semua projek digambarkan sukses; dan tidak ada diskusi soal seberapa mungkin projek itu tidak berlanjut manfaatnya setelah pendanaan dan sokongan sumberdaya lain dari perusahaan berakhir.

Saya juga akan lebih suka bila metodologi pengumpulan data dijelaskan dengan lebih transparan. SROI, misalnya, sangatlah sensitif terhadap asumsi yang digunakan—asumsi apa saja yang dipakai ketika melakukan pengukuran? Siapa saja yang memfasilitasi dan memvalidasi pengukuran? Ketiadaan analisis jangka panjang juga mengganggu benak saya. Dampak yang didiskusikan sebagian besar, rasanya, bersifat jangka pendek. Rasa penasaran saya soal scalability dan replicability, yang bakal muncul di benak siapapun yang bertungkus lumus mengurus dampak, rasanya juga belum dijawab dengan memuaskan.

Dan, akhirnya, dimensi tata kelola—akuntabilitas, transparansi, mekanisme grievance—hampir tidak tersentuh. Padahal, sebagai orang yang tahu persis bahwa projek-projek itu sangatlah popular di kalangan yang aktif dalam pengembangan masyarakat perusahaan, ada banyak yang bisa diceritakan soal tata kelola itu. Kalau mau lebih ‘nakal’, bisa juga kasus-kasus pada buku ini dilihat dengan kacamata terpenting dalam tata kelola: purpose. Apakah perusahaan-perusahaan itu sudah memiliki tujuan luhur yang sesuai dengan keberlanjutan dan tata kelola pemangku kepentingan (stakeholder governance), bagaimana tujuan luhur perusahaan membimbing mereka mengelola seluruh dampaknya, dan seberapa dekat projek-projek terpilih itu dengan tujuan luhur dan bisnis inti perusahaan?

*****

 

Dengan kekuatan besar yang dimilikinya, buku ini wajib dibaca oleh siapa pun yang terlibat dalam keberlanjutan perusahaan, CSR, dan pengembangan masyarakat di Indonesia. Bukan saja oleh mereka yang mengurusi hal-hal itu di dalam perusahaan, melainkan oleh seluruh pemangku kepentingan, terutama sebagai salah satu starting point untuk dialog yang kritis.

Pelajarannya jelas: dampak yang bermakna memerlukan komitmen jangka panjang, kemitraan yang autentik dengan komunitas dan mitra lainnya yang mau bersatu dalam tujuan, juga keberanian untuk mengukur bukan hanya output, apalagi sekadar pamer input finansial, melainkan hingga di level outcome dan impact. Bagi perusahaan yang serius tentang net-positive impact, buku ini menawarkan cetak biru yang menarik dan mendekati lengkap.

Yang dibutuhkan sekarang: keberanian untuk bergerak dari aspirasi ke aksi, dari pelaporan ke akuntabilitas, serta dari dampak di level projek dan program menuju perubahan transformatif perusahaan. Karena hanya lewat perubahan transformatif saja perusahaan bisa tiba di dampak positif terbesarnya: keberlanjutan masyarakat dan lingkungan di seluruh ruang pengaruhnya. Ini adalah kontrak sosial antara perusahaan dengan seluruh pemangku kepentingan yang kerap dilupakan, dan buku ini kembali mengingatkan kepada kita semua.

 

Makassar, 5 Desember 2925