← Seluruh

SII Dorong Ekonomi Perilaku dan Sosial-Ekonomi Masuk Kurikulum Sosiologi Pedesaan IPB

[debug_author_post]

Daftar Isi

[socialinvestment.id]Bogor, 16 Juli 2026Social Investment Indonesia (SII) mendorong Program Studi Sosiologi Pedesaan (SPD) IPB University memasukkan ekonomi perilaku dan sosial-ekonomi ke kurikulum magister dan doktornya. Dorongan itu disampaikan Chairperson of Advisory Board SII, Jalal, dalam Lokakarya Akademik bertajuk “Ekonomi Perilaku, Ke-Sosek-an, dan Konsekuensinya pada Kurikulum” yang digelar Program Studi Sosiologi Pedesaan IPB, Kamis (16/7/2026).

Lokakarya berlangsung hibrid, melalui Zoom dan tatap muka di Ruang Rabuan, KPM-414, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB, pukul 09.30–10.00 WIB. Jalal diundang oleh Ketua Program Studi Sosiologi Pedesaan IPB, Dr. Ivanovich Agusta, S.P., M.Si., sebagai bagian dari refleksi rutin program studi untuk pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas dosen, dan penguatan pembelajaran mahasiswa.

Dalam paparannya, Jalal menegaskan bahwa usulan SII bukan sekadar menambah mata kuliah, melainkan menyempurnakan cara sosiologi pedesaan memahami perilaku ekonomi warga desa. “Sosiologi pedesaan Indonesia, sejak Sajogyo, sebetulnya sudah lama berdiri tepat di persimpangan dua bidang ini,” katanya, merujuk pada tokoh yang tahun ini genap 100 tahun sejak kelahirannya dan dikenal sebagai Bapak Sosiologi Pedesaan sekaligus Bapak Ekonomi-Sosiologi Indonesia.

 

Empat Pilar Ekonomi Perilaku

Jalal menguraikan ekonomi perilaku sebagai cabang ilmu yang melonggarkan asumsi rasionalitas tak terbatas ala Homo economicus, bertumpu pada empat pilar: rasionalitas terbatas dari Herbert Simon, heuristik dan bias dari Amos Tversky serta Daniel Kahneman, teori prospek yang melahirkan konsep loss aversion, dan arsitektur pilihan (nudge) dari Richard Thaler bersama Cass Sunstein. Tiga nama pertama membawa disiplin ini meraih tiga penghargaan Nobel Ekonomi, sementara perkembangan terbaru memunculkan sub-bidang ekonomi perilaku pertanian.

Sosial-ekonomi, menurut Jalal, mengganti asumsi individu yang teratomisasi dengan manusia yang melekat dalam jaringan sosial — merujuk konsep keterlekatan (embeddedness) dari Karl Polanyi dan Mark Granovetter, serta paradigma “I-and-We” dari Amitai Etzioni. Ia turut menyinggung buku terbaru Lester Hadsell, Social Economies: How Society Shapes and is Shaped by Economic Thinking (2026), yang menurutnya mendudukkan kembali ekonomi sebagai ilmu sosial yang tak terpisahkan dari psikologi, sosiologi, filsafat, bahkan biologi.

 

Bukti dari Lapangan Indonesia

Jalal menautkan kedua bidang itu dengan tradisi sosiologi pedesaan lewat konsep moral economy dari E.P. Thompson dan James Scott, teori usaha tani keluarga dari A.V. Chayanov, serta tata kelola sumberdaya bersama ala Elinor Ostrom. Argumen ini ia perkuat dengan tiga temuan empiris terbaru dari lapangan Indonesia: adopsi sistem fertilisasi digital di Yogyakarta, Sumatra Utara, dan Kalimantan Tengah; dinamika petani kopi Arabika di Kerinci, Jambi; serta kaitan antara adopsi teknologi dan kesejahteraan subjektif petani.

“Adopsi teknologi pertanian bukan sekadar respons atas insentif ekonomi, melainkan proses psiko-behavioral yang dimediasi kepercayaan dan jaringan sosial,” kata Jalal.

Ia menekankan tiga wajah keadilan yang perlu melekat pada kurikulum ke depan — distributif, prosedural, dan epistemik — beriringan dengan keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologis. Petani yang tampak “tidak rasional” secara neoklasik, kata Jalal, kerap justru menjalankan strategi rasional dalam mengelola risiko subsistensi — logika yang menurutnya layak mendapat penghormatan analitis setara subjek riset laboratorium.

 

Rekomendasi untuk Kurikulum

Menjelang akhir sesi, Jalal merekomendasikan agar IPB mengintegrasikan ekonomi perilaku dan sosial-ekonomi ke kurikulum magister dan doktor lewat kerangka Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Outcome-Based Education (OBE), dan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang sudah berjalan di kampus tersebut. Ia menyebut transformasi Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) menjadi FISEMA pada Mei 2026 lengkap dengan berdirinya Departemen Sosiologi Pedesaan tersendiri sebagai momentum tepat untuk reorientasi ini.

Ivanovich Agusta menyambut paparan tersebut sebagai bahan reflektif yang akan ditindaklanjuti dalam pembahasan kurikulum program studi. Menurutnya, lokakarya semacam ini rutin digelar sebagai bagian dari siklus evaluasi tahunan, khususnya menjelang penyusunan rencana pembelajaran semester baru bagi mahasiswa magister dan doktor.

Lokakarya yang berlangsung setengah jam itu ditutup dengan harapan agar diskusi dirumuskan lebih lanjut menjadi mata kuliah dan capaian pembelajaran lulusan yang konkret, sejalan dengan visi menjadikan sosiologi pedesaan sebagai disiplin yang berpijak pada bukti, adil, dan berkelanjutan.

 

Momentum Istimewa dan Komitmen Berkelanjutan SII

Bagi Jalal, keterlibatannya sebagai narasumber bukan yang pertama kali menyentuh isu ekonomi perilaku dan pembangunan pedesaan. Namun momentum kali ini istimewa, bertepatan dengan seratus tahun kelahiran Sajogyo dan babak baru kelembagaan FISEMA. “Semoga forum-forum akademik seperti ini terus berlanjut untuk menjembatani riset mutakhir dengan kebutuhan kurikulum di lapangan,” ujarnya.

Media Contact:

Paimun Karim
Knowledge Management Manager
Social Investment Indonesia (SII)
📱 +62 813-8808-511
📧 [email protected]
🌐 https://socialinvestment.id