SOCIALINVESTMENT.ID – Bogor, 28 Oktober 2026 – Konflik sosial tidak selalu menjadi ancaman bagi perusahaan. Dengan pendekatan yang tepat, konflik justru dapat menjadi momentum untuk membangun kepercayaan, memperkuat hubungan dengan masyarakat, serta menciptakan keberlanjutan usaha. Social Investment Indonesia (SII) kembali menyelenggarakan Training Conflict Management Batch 3 pada 27–28 Oktober 2026. Pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas profesional dalam memahami, menganalisis, dan mengelola konflik sosial secara sistematis, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi jangka panjang.

Menghadirkan Fredian Tonny Nasdian, akademisi IPB University sekaligus pakar sosiologi pedesaan dan pengembangan masyarakat, pelatihan ini mengupas dinamika konflik melalui perspektif teori sosial, analisis kepentingan, hingga strategi penyelesaian konflik yang relevan dengan tantangan dunia usaha.
Selama dua hari, peserta mempelajari teori konflik Karl Marx, Ralf Dahrendorf, dan Lewis Coser, lanskap konflik industri ekstraktif, mekanisme pengaduan masyarakat (grievance mechanism), serta pendekatan negosiasi dan mediasi.
Pembelajaran dirancang secara interaktif melalui diskusi kelompok, analisis kasus sengketa lahan akibat aktivitas pertambangan nikel, serta simulasi (role playing). Melalui metode ini, peserta berlatih mengidentifikasi akar konflik, memetakan pemangku kepentingan, memahami eskalasi konflik, dan merumuskan strategi penyelesaian yang konstruktif.

Pelatihan mendapat apresiasi positif dari peserta. Sigit Bandoro dari PT Dewata Sawit Nusantara mengungkapkan bahwa kegiatan ini menginspirasi pengelolaan konflik yang lebih sistematis sekaligus memperkaya strategi penanganan konflik di perusahaan.
Apresiasi serupa disampaikan Wenni Puspa Sari dari PT Great Giant Pineapple. “Sangat berkesan, dan strategi serta cara pendekatan yang dipaparkan dalam pelatihan ini bisa saya terapkan di lapangan,” ungkapnya.
Kedua testimoni tersebut menunjukkan pentingnya pembelajaran yang menghubungkan pemahaman konseptual dengan keterampilan praktis dalam menghadapi kompleksitas konflik sosial.
Melalui pelatihan ini, SII terus mendorong perubahan paradigma dari penanganan konflik yang reaktif menuju pengelolaan risiko sosial yang preventif, partisipatif, dan berkelanjutan.
SII meyakini bahwa keberhasilan manajemen konflik bukan sekadar mengakhiri perselisihan, melainkan membangun hubungan yang lebih adil, harmonis, dan saling percaya antara perusahaan dan masyarakat.

Menghadirkan **Fredian Tonny Nasdian**, akademisi IPB University sekaligus pakar sosiologi pedesaan dan pengembangan masyarakat, pelatihan ini mengupas dinamika konflik melalui perspektif teori sosial, analisis kepentingan, hingga strategi penyelesaian konflik yang relevan dengan tantangan dunia usaha.
Selama dua hari, peserta mempelajari teori konflik Karl Marx, Ralf Dahrendorf, dan Lewis Coser, lanskap konflik industri ekstraktif, mekanisme pengaduan masyarakat (*grievance mechanism*), serta pendekatan negosiasi dan mediasi.
Pembelajaran dirancang secara interaktif melalui diskusi kelompok, analisis kasus sengketa lahan akibat aktivitas pertambangan nikel, serta simulasi (*role playing*). Melalui metode ini, peserta berlatih mengidentifikasi akar konflik, memetakan pemangku kepentingan, memahami eskalasi konflik, dan merumuskan strategi penyelesaian yang konstruktif.
Pelatihan mendapat apresiasi positif dari peserta. **Sigit Bandoro dari PT Dewata Sawit Nusantara** mengungkapkan bahwa kegiatan ini menginspirasi pengelolaan konflik yang lebih sistematis sekaligus memperkaya strategi penanganan konflik di perusahaan.
Apresiasi serupa disampaikan **Wenni Puspa Sari dari PT Great Giant Pineapple**. *”Sangat berkesan, dan strategi serta cara pendekatan yang dipaparkan dalam pelatihan ini bisa saya terapkan di lapangan,”* ungkapnya.
Kedua testimoni tersebut menunjukkan pentingnya pembelajaran yang menghubungkan pemahaman konseptual dengan keterampilan praktis dalam menghadapi kompleksitas konflik sosial.
Melalui pelatihan ini, SII terus mendorong perubahan paradigma dari penanganan konflik yang reaktif menuju pengelolaan risiko sosial yang preventif, partisipatif, dan berkelanjutan.
**SII meyakini bahwa keberhasilan manajemen konflik bukan sekadar mengakhiri perselisihan, melainkan membangun hubungan yang lebih adil, harmonis, dan saling percaya antara perusahaan dan masyarakat.**

