← Seluruh

Membedah Realitas Pasar Karbon di Balik “Green Hype” – Catatan SIRD #95

[debug_author_post]

Daftar Isi

Bogor — SOCIALINVESTMENT.ID – Dalam upaya membedah dinamika ekosistem pasar karbon Indonesia yang semakin kompleks, Social Investment Roundtable Discussion (SIRD) seri ke-95 (10/4/2026) mengangkat tema “Beyond the Green Hype: Membedah Kompleksitas, Paradoks, dan Keadilan dalam Ekosistem Pasar Karbon Indonesia.” Diskusi ini menghadirkan Dr. Riza Suarga (Indonesia Carbon Trade Association), Mulkan (BPDLH Kemenkeu RI), serta Jalal (Social Investment Indonesia) yang juga membedah buku Climate Capital karya Tom Chi.

Indonesia diposisikan sebagai pemain kunci dalam pasar karbon global dengan potensi besar dari hutan tropis, gambut, dan ekosistem pesisir. Namun di balik peluang ekonomi yang menjanjikan, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang menikmati manfaat, dan apakah sistem ini sudah adil bagi masyarakat lokal?

Dr. Riza Suarga menilai pasar karbon Indonesia masih berada pada tahap awal dan penuh kompleksitas. Proses proyek karbon yang bisa memakan waktu hingga 7–8 tahun serta perdebatan berkepanjangan soal penerima manfaat justru menghambat implementasi. Ia menekankan pentingnya penyederhanaan regulasi dan percepatan proses agar manfaat bisa dirasakan lebih cepat. Selain itu, pelaku skala kecil seperti hutan desa membutuhkan pendekatan agregasi dan dukungan investor, karena sulit bersaing sendiri di pasar. Bagi Riza, integritas menjadi fondasi utama—tanpa transparansi dan kepercayaan, pasar karbon rentan terhadap praktik seperti greenwashing dan kehilangan kredibilitas global.

Dari sisi pemerintah, Mulkan menjelaskan bahwa BPDLH berperan sebagai jembatan pendanaan, bukan sekadar penyalur dana. Dengan keterbatasan anggaran dibanding kebutuhan transisi energi yang sangat besar, kolaborasi menjadi kunci untuk menarik pendanaan global. Ia juga menegaskan pentingnya high integrity carbon, yaitu karbon yang tidak hanya valid secara teknis, tetapi juga memenuhi aspek sosial dan biodiversitas. Inovasi pembiayaan seperti skema Green Peatland Economy menunjukkan upaya pemerintah mengatasi tantangan biaya awal yang tinggi dan lamanya proses proyek karbon.

Sementara itu, Jalal mengingatkan bahwa krisis iklim merupakan kegagalan desain sistem yang terlalu berorientasi pada keuntungan. Ia mengangkat konsep 4C—Critical Thinking, Creativity, Compassion, dan Community—sebagai kerangka perubahan menuju sistem yang lebih regeneratif. Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat adat sebagai penjaga ekosistem yang seringkali belum mendapatkan manfaat yang adil dalam skema karbon.

Diskusi ini menegaskan bahwa masa depan pasar karbon Indonesia tidak hanya bergantung pada mekanisme ekonomi, tetapi pada kemampuan menghadirkan keadilan, inklusivitas, dan integritas dalam praktiknya. [PAI]

 

📥 Download Materi SIRD #95

 

Ditulis Oleh

Dewan Redaksi

Penanggung Jawab:

Fajar Kurniawan, MM

Pimpinan Redaksi:

Dr. Ivanovich Agusta

Wakil Pimpinan Redaksi:

Purnomo

Redaktur Pelaksana:

Paimun Karim, S.Si.

Dewan Redaksi:

  1. Jalal, SP
  2. Wahyu Aris Damono, SP
  3. Drs. Sonny S. Sukada, M.Sc.
  4. Mahmudi Siwi, M.Si.

Tim Lay Out dan Media Sosial:

Rizal Choirul Insani, S.Si.

Unduh Disini

Bagikan Ini