Oleh:
Purnomo – Senior Advisor
Social Investment Indonesia
Pendahuluan: Ketika Angka Terlihat Lebih Meyakinkan daripada Realitas
Dalam praktik investasi sosial, ada kecenderungan yang semakin menguat untuk mencari jawaban yang sederhana atas pertanyaan yang sesungguhnya kompleks. Pertanyaan seperti “seberapa besar dampak yang dihasilkan?” sering kali diakhiri dengan satu angka yang tampak pasti dan meyakinkan. Angka tersebut kemudian berfungsi sebagai ringkasan, representasi, bahkan legitimasi dari keseluruhan proses intervensi sosial yang dilakukan.
Di sinilah Social Return on Investment (SROI) mendapatkan relevansinya. Ia menawarkan cara untuk menerjemahkan dampak sosial ke dalam bahasa ekonomi yang lebih familiar bagi pengambil keputusan. Dengan satu rasio, organisasi dapat menjelaskan nilai dari program yang dijalankan, membandingkannya dengan investasi yang dikeluarkan, dan menggunakannya sebagai dasar untuk komunikasi strategis.
Namun, justru karena kemampuannya menyederhanakan kompleksitas, SROI juga membawa risiko yang tidak kecil. Angka yang dihasilkan dapat terlihat lebih pasti daripada realitas yang sebenarnya. Ia dapat memberikan rasa kejelasan, padahal di baliknya terdapat berbagai asumsi yang tidak selalu terlihat. Dalam konteks Indonesia, di mana praktik SROI semakin luas digunakan, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi sekadar “berapa besar SROI yang dihasilkan,” melainkan “sejauh mana angka tersebut benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.”
SROI sebagai Kerangka Reflektif: Dari Pemahaman ke Penyederhanaan
Secara ideal, SROI bukan sekadar alat hitung, melainkan kerangka berpikir. Ia dirancang untuk membantu organisasi memahami bagaimana perubahan terjadi, siapa yang mengalami perubahan tersebut, dan faktor apa saja yang memengaruhinya. Dalam proses ini, organisasi diajak untuk membangun hubungan yang jelas antara input, output, outcome, hingga impact, sekaligus menguji asumsi yang mendasarinya.
Pendekatan ini pada dasarnya bersifat reflektif. Ia tidak berhenti pada hasil akhir, tetapi menekankan pentingnya proses. Nilai SROI bukan hanya terletak pada angka yang dihasilkan, melainkan pada pemahaman yang diperoleh selama proses tersebut.
Namun dalam praktik, kebutuhan untuk menghasilkan angka sering kali lebih dominan daripada kebutuhan untuk memahami proses. Tekanan untuk menunjukkan keberhasilan, memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan, atau menyederhanakan komunikasi kepada manajemen membuat SROI bergeser fungsi. Ia tidak lagi sepenuhnya digunakan sebagai alat refleksi, tetapi sebagai alat pembuktian.
Pergeseran ini tidak selalu disadari. Ia terjadi secara gradual, melalui keputusan-keputusan kecil dalam proses pengukuran—memilih indikator yang lebih mudah diukur, menggunakan asumsi yang lebih sederhana, atau mengabaikan faktor yang dianggap sulit dihitung. Pada akhirnya, proses yang seharusnya membantu memahami realitas justru berpotensi mereduksi realitas tersebut.
Ilusi Presisi: Ketika Angka Terlihat Lebih Pasti daripada Prosesnya
Salah satu daya tarik utama SROI adalah kemampuannya menghasilkan angka yang tampak presisi. Rasio seperti 1:7 atau 1:10 memberikan kesan bahwa dampak sosial dapat dihitung secara objektif dan terukur. Angka tersebut mudah dipahami, mudah dikomunikasikan, dan memberikan rasa kepastian.
Namun, jika dilihat lebih dalam, angka tersebut tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari serangkaian keputusan metodologis yang kompleks. Nilai dampak sosial tidak memiliki harga pasar yang pasti, sehingga harus ditentukan melalui proxy. Perubahan yang terjadi tidak selalu dapat diisolasi, sehingga memerlukan asumsi tentang hubungan sebab-akibat. Bahkan durasi dampak pun sering kali harus diperkirakan.
Setiap keputusan dalam proses ini membawa konsekuensi terhadap hasil akhir. Ketika asumsi-asumsi tersebut tidak diungkap secara jelas, angka yang dihasilkan menciptakan ilusi presisi. Ia terlihat pasti, padahal sangat bergantung pada cara perhitungan.
Masalahnya menjadi lebih serius ketika angka tersebut digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam banyak organisasi, hasil SROI tidak hanya dilaporkan, tetapi juga dijadikan dasar untuk menentukan strategi, alokasi anggaran, hingga ekspansi program. Dalam situasi seperti ini, ketidakakuratan dalam angka tidak lagi bersifat teknis, melainkan strategis.
Membaca Praktik dengan Kehati-hatian: Catatan Reflektif
Dalam konteks Indonesia, praktik SROI berkembang dalam kondisi yang dinamis. Banyak organisasi mulai mengadopsinya sebagai bagian dari pelaporan keberlanjutan maupun evaluasi program sosial. Namun, seiring dengan perkembangan tersebut, muncul sejumlah catatan reflektif yang layak dipertimbangkan.
Pengamatan ini tidak dimaksudkan sebagai generalisasi, melainkan sebagai refleksi berbasis praktik yang masih memerlukan penguatan melalui studi empiris yang lebih sistematis.
Dalam beberapa konteks, pelibatan pemangku kepentingan dalam mendefinisikan dampak tampak masih terbatas. Hal ini dapat dipahami mengingat keterbatasan waktu, sumber daya, dan kapasitas metodologis. Namun konsekuensinya adalah definisi dampak yang digunakan belum tentu sepenuhnya mencerminkan pengalaman nyata penerima manfaat.
Selain itu, terdapat kecenderungan untuk memposisikan program sebagai faktor utama perubahan, sementara kontribusi faktor eksternal tidak selalu dianalisis secara mendalam. Padahal dalam realitas sosial, perubahan hampir selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor—baik dari program, kebijakan publik, maupun dinamika ekonomi dan sosial yang lebih luas.
Penggunaan financial proxy juga menunjukkan variasi yang cukup besar. Dalam kondisi keterbatasan data lokal, praktisi sering kali menggunakan pendekatan yang bersifat adaptif. Hal ini dapat dimengerti, namun sekaligus membuka ruang bagi variasi interpretasi yang signifikan dalam menentukan nilai dampak.
Di sisi lain, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar mengenai fungsi SROI dalam organisasi. Apakah ia digunakan sebagai alat pembelajaran, atau lebih sebagai instrumen pelaporan? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan bagaimana SROI dijalankan dan dimanfaatkan.
Studi Kasus: Dua Cara Membaca Program yang Sama
Untuk memahami bagaimana perbedaan pendekatan memengaruhi hasil, bayangkan sebuah program pemberdayaan UMKM di wilayah pedesaan Indonesia. Program ini dirancang dengan pendekatan yang cukup umum: pelatihan kewirausahaan, bantuan modal usaha, dan pendampingan selama satu tahun. Sebanyak 200 peserta direkrut, dengan total investasi sebesar Rp 2 miliar.
Pada tahap awal, program ini tampak berjalan dengan baik. Peserta mengikuti pelatihan, menerima modal, dan mulai menjalankan usaha. Pada akhir periode, organisasi ingin mengetahui dampak yang dihasilkan, sehingga dilakukan pengukuran SROI.
Dalam pendekatan pertama, proses pengukuran dilakukan secara cepat dan agregatif. Seluruh peserta dianggap sebagai penerima manfaat aktif, tanpa membedakan tingkat partisipasi atau keberlanjutan usaha. Data peningkatan pendapatan dikumpulkan melalui survei akhir program, dan rata-rata peningkatan tersebut kemudian dikalikan dengan jumlah peserta.
Seluruh perubahan yang terjadi diasumsikan sebagai hasil dari program. Tidak ada penyesuaian terhadap faktor eksternal, tidak ada analisis terhadap kontribusi pihak lain, dan tidak ada koreksi terhadap kemungkinan perubahan yang akan terjadi tanpa intervensi. Dengan pendekatan ini, total nilai sosial yang dihasilkan terlihat sangat besar, menghasilkan rasio SROI sekitar 1:7. Angka ini memberikan kesan keberhasilan yang kuat. Program terlihat efektif, dan secara logis dapat direkomendasikan untuk diperluas.
Namun, ketika pendekatan kedua digunakan—yang lebih bertahap dan kontekstual—gambaran yang muncul menjadi berbeda. Proses dimulai dengan melihat tingkat partisipasi secara lebih rinci. Dari 200 peserta, hanya sekitar 140 yang menyelesaikan pelatihan. Dari jumlah tersebut, sekitar 120 yang benar-benar menjalankan usaha hingga akhir program. Beberapa bulan setelah program selesai, jumlah peserta yang masih aktif turun menjadi sekitar 90 orang.
Dari 90 peserta tersebut, tidak semuanya mengalami peningkatan pendapatan yang konsisten. Sekitar 60 peserta menunjukkan peningkatan yang relatif stabil, sementara sisanya mengalami fluktuasi atau kembali ke kondisi awal. Variasi ini penting, karena menunjukkan bahwa dampak tidak terjadi secara merata.
Analisis kemudian dilanjutkan dengan melihat kondisi awal peserta. Sebagian dari mereka sudah memiliki usaha sebelum program dimulai, sehingga tidak seluruh peningkatan dapat dikaitkan dengan intervensi. Selain itu, selama periode yang sama, wilayah tersebut mengalami perubahan ekonomi—misalnya peningkatan akses pasar akibat pembangunan infrastruktur—yang turut memengaruhi kinerja usaha.
Untuk menghindari klaim yang berlebihan, hanya sebagian dari peningkatan pendapatan yang dikaitkan dengan program. Selain itu, diperhitungkan pula kemungkinan bahwa sebagian perubahan akan terjadi tanpa program, serta adanya penurunan dampak setelah pendampingan berakhir. Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, nilai sosial yang dihasilkan menjadi lebih konservatif. Rasio SROI yang semula 1:7 turun menjadi sekitar 1:2,8.
Perbedaan ini tidak menunjukkan bahwa program menjadi kurang berhasil. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa pemahaman terhadap program menjadi lebih mendalam. Angka yang lebih rendah justru memberikan gambaran yang lebih dekat dengan realitas.
Implikasi: Dari Klaim ke Pembelajaran
Perbedaan antara dua pendekatan tersebut membawa implikasi yang signifikan. Ketika organisasi hanya melihat angka yang tinggi, kecenderungannya adalah mempertahankan atau memperluas program tanpa perubahan berarti. Namun ketika organisasi melihat hasil yang lebih kontekstual, muncul ruang untuk bertanya dan belajar.
Mengapa sebagian peserta tidak bertahan? Apakah desain program sudah sesuai dengan kebutuhan lokal? Faktor apa yang paling menentukan keberhasilan? Pertanyaan-pertanyaan ini membuka peluang untuk perbaikan yang lebih substansial. Dalam konteks ini, SROI tidak lagi berfungsi sebagai alat untuk membuktikan keberhasilan, tetapi sebagai alat untuk memahami dan meningkatkan kualitas intervensi.
Penutup: Mengembalikan SROI ke Esensinya
Pada akhirnya, SROI bukan sekadar tentang angka, melainkan tentang cara organisasi memahami dampak. Angka yang tinggi dapat memberikan rasa puas, tetapi tanpa pemahaman yang kuat, ia berisiko menyesatkan.
Sebaliknya, pendekatan yang lebih hati-hati mungkin menghasilkan angka yang lebih rendah, tetapi memberikan dasar yang lebih kokoh untuk pengambilan keputusan. Dalam konteks yang kompleks seperti Indonesia, pendekatan semacam ini menjadi semakin penting.
Mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi “berapa besar SROI yang dihasilkan,” tetapi “apa yang kita pelajari dari proses tersebut, dan bagaimana pembelajaran itu digunakan untuk memperbaiki program ke depan.”
Di situlah SROI menemukan maknanya—bukan sebagai angka yang besar, tetapi sebagai alat untuk melihat realitas dengan lebih jernih.


