Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board – Social Investment Indonesia
Member of Board of Experts – Social Value Indonesia
Dalam lima tahun terakhir, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI) untuk mengukur kinerja dari berbagai program pengembangan masyarakat dan inisiatif corporate social responsibility (CSR) lainnya yang mereka lakukan. Dari perusahaan tambang di pedalaman Kalimantan hingga bank di Jakarta, dari perusahaan perkebunan di Sumatera Utara hingga produsen barang konsumsi di Jawa Barat—SROI kini bukan lagi sekadar alat evaluasi tambahan, melainkan mulai menjadi salah satu yang paling penting. Kegunaan SROI yang lain, sebagai alat perencanaan, dalam pengamatan saya, agaknya belum cukup popular.
Namun, di tengah antusiasme tersebut, masih ada perdebatan yang cukup kuat mengenai ruang lingkup perhitungan SROI. Salah satu pertanyaan yang paling sering saya dengar dalam berbagai forum adalah: apakah manfaat yang diperoleh oleh perusahaan sendiri—baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung—seharusnya dihitung sebagai bagian dari SROI? Tidak sedikit yang beranggapan bahwa SROI seharusnya hanya mencakup perubahan yang terjadi pada masyarakat penerima manfaat projek atau program. Sebaliknya, ada juga yang berpendapat bahwa manfaat bagi perusahaan harus dihitung, karena pada kenyataannya, banyak program pengembangan masyarakat memang memberikan nilai strategis bagi perusahaan. Tetapi, pada kelompok yang belakangan ini juga terdapat keraguan apa saja manfaat yang perlu dan dapat dihitung.
Alasan Mengukur
Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus kembali ke prinsip dasar SROI. Konsep SROI sejak awal dikembangkan sebagai sebuah pendekatan yang inklusif. Artinya, semua nilai perubahan yang tercipta akibat suatu projek atau program, baik positif maupun negatif, bagi semua pemangku kepentingan yang relevan, layak dan seharusnya dihitung. Jadi, yang diukur bukan hanya dampak bagi komunitas penerima manfaat langsung, melainkan juga bagi perusahaan pelaksana, pemerintah daerah, mitra pelaksana, bahkan dalam beberapa kasus, lingkungan dan masyarakat yang lebih luas. Selama perubahan tersebut dapat dikaitkan secara langsung dengan kegiatan yang dilakukan, maka manfaat tersebut sah untuk dihitung dalam SROI.
Buat saya, beberapa alasan yang sangat kuat mengapa manfaat yang diterima perusahaan perlu dihitung. Pertama, dari sisi metodologis, ini menjaga konsistensi prinsip stakeholder inclusiveness yang menjadi pilar utama SROI. Kedua, dari sisi transparensi, mencatatkan manfaat perusahaan secara terbuka justru memerkuat kredibilitas laporan SROI, sekaligus menghindari kecurigaan bahwa perusahaan sekadar melakukan window dressing melalui projek sosial atau lingkungannya. Ketiga, penghitungan manfaat bagi perusahaan memungkinkan manajemen untuk memahami bahwa investasi sosial bukan semata-mata kewajiban di bawah regulasi tertentu, atau bahkan sumbangan, melainkan juga sebuah investasi yang menciptakan nilai bagi perusahaan itu sendiri. Inilah yang membangun apa yang kita kenal sebagai business case bagi investasi sosial.
Ada satu hal lain yang terpikirkan oleh saya mengapa penghitungan manfaat untuk perusahaan sangat perlu dilakukan, yaitu soal keadilan. Dalam beberapa kasus, saya mencurigai bahwa sesungguhnya manfaat untuk perusahaan sesungguhnya lebih besar dibandingkan dengan yang diterima oleh mereka yang dinyatakan sebagai kelompok penerima manfaat. Dalam idealisme investasi sosial, sesungguhnya manfaat perlu terlebih dahulu dan lebih banyak diterima oleh investe, bukan oleh investornya. Jadi, hanya dengan membuka nilai manfaat di kedua sisi ini sajalah akan memungkinkan perusahaan menaruh timbangan yang lebih sesuai dengan ide dasar investasi sosial.
Beberapa Contoh dari Lapangan
Untuk memahami lebih konkret seperti apa manfaat perusahaan yang sering muncul dalam SROI, saya terpikir beberapa contoh. Dalam sebuah program penguatan ekonomi lokal yang dilakukan oleh perusahaan tambang besar di Kalimantan, peningkatan pendapatan dan pemberdayaan kelompok wirausaha lokal ternyata memberikan efek domino. Tidak hanya masyarakat yang merasakan manfaat ekonomi, perusahaan juga melaporkan penurunan tensi sosial di sekitar tambang, berkurangnya protes, serta proses perizinan baru yang berjalan lebih lancar karena pemerintah daerahnya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh perusahaan. Ini artinya, perusahaan merasakan manfaat dalam bentuk pengurangan risiko sosial, yang pada akhirnya mengurangi biaya operasional terkait pengamanan, selain memercepat pengembangan projek yang sedang mereka lakukan.
Contoh lain datang dari sebuah perusahaan energi yang menjalankan program beasiswa untuk pendidikan STEM (science, technology, engineering, math) untuk anak-anak muda di sekitar lokasi projeknya, juga di Kalimantan. Setelah tiga tahun program berjalan, perusahaan melaporkan peningkatan reputasi perusahaan di tingkat lokal dan provinsi, terutama di kalangan pemuda dan pemangku kepentingan pendidikan. Data survei persepsi publik menunjukkan peningkatan skor Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) dan Social License to Operate (SLO), yang kemudian membantu perusahaan dalam mendapatkan pembiayaan untuk projek baru yang semakin memersyaratkan penilaian ESG (environmental, social, governance) yang baik. Di sisi lain, perusahaan juga melaporkan semakin mudahnya merekrut talenta lokal terbaik, karena program beasiswa telah menyaring dan membangun hubungan dengan mereka. Dalam hal ini, reputasi yang diperoleh lewat program pengembangan masyarakat secara langsung membantu menciptakan peluang bisnis baru dan membantu perusahaan memenangkan war for talent.
Di sektor perbankan, ada pula contoh menarik. Sebuah bank nasional menjalankan program literasi keuangan untuk pelaku UMK di pasar-pasar pedesaan. Tidak hanya komunitas yang merasakan manfaat peningkatan literasi, melainkan bank tersebut juga mencatat peningkatan penggunaan produk perbankan formal di komunitas sasaran. Portofolio kredit mikro meningkat, NPL (non-performing loan) menurun di daerah sasaran, dan hubungan jangka panjang dengan nasabah baru pun terbangun. Ini jelas menunjukkan manfaat bisnis yang konkret sebagai hasil dari program sosial.
Saya meminta mesin Kecerdasan Buatan Perplexity untuk memeriksa sumber pustaka yang otoritatif lalu menuliskan apa saja manfaat bagi perusahaan yang dapat diukur dengan SROI, dan hasilnya—setelah saya sunting—adalah sebagai berikut:
| Manfaat bagi Perusahaan | Deskripsi Manfaat | Cara Pengukuran dalam SROI |
| Peningkatan Reputasi Perusahaan | CSR meningkatkan reputasi positif di mata publik, memperkuat merk, dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan. | Mengukur perubahan persepsi masyarakat melalui survei, media monitoring, dan valuasi moneternya. |
| Meningkatkan Loyalitas dan Kepuasan Pelanggan | Konsumen lebih memilih dan loyal pada perusahaan yang peduli sosial/lingkungan; bahkan bersedia membayar lebih. | Mengukur peningkatan penjualan, retensi pelanggan, atau willingness to pay yang diatribusikan pada program CSR. |
| Meningkatkan Keterlibatan dan Retensi Karyawan | Karyawan lebih terlibat, bangga, dan cenderung bertahan lebih lama jika perusahaan aktif dalam CSR. | Survei kepuasan dan retensi karyawan, lalu mengonversi dampaknya ke nilai ekonomi (misal, penghematan dalam biaya rekruitmen). |
| Menarik Talenta Baru | CSR menjadi daya tarik bagi calon karyawan yang ingin bekerja di perusahaan beretika dan berdampak. | Mengukur jumlah pelamar, kualitas rekruitmen, serta valuasi penghematan biaya rekruitmen dan pelatihan. |
| Membuka Akses Pasar dan Kerja Sama Baru | CSR membuka peluang pasar baru dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, swasta dan masyarakat. | Mengukur nilai kontrak baru, kemitraan, atau ekspansi pasar yang secara eksplisit dihasilkan dari pertimbangan atas kinerja sosial dan lingkungan perusahaan. |
| Mengurangi Risiko Bisnis dan Regulasi | Hubungan baik dengan regulator dan masyarakat mengurangi risiko konflik, protes, atau sanksi hukum. | Menghitung penghematan biaya akibat penurunan insiden, denda, atau gangguan operasional. |
| Meningkatkan Hubungan dengan Pemangku Kepentingan | CSR memperkuat komunikasi dan kepercayaan dengan pemangku kepentingan internal maupun eksternal. | Survei pemangku kepentingan, analisis perubahan tingkat kepercayaan, dan valuasi dampaknya. |
| Menarik Investor dan Akses Pendanaan | Perusahaan dengan kinerja sosial dan lingkungan yang baik lebih menarik bagi investor dan lembaga keuangan. | Mengukur peningkatan nilai perusahaan, akses pendanaan, atau penurunan cost of capital. |
| Optimalisasi Sumberdaya & Efisiensi Operasional | Program lingkungan dapat mengurangi limbah, konsumsi energi, dan biaya operasional. | Menghitung penghematan biaya operasional dan valuasi dampak lingkungan yang dihasilkan. |
Mengatasi Tantangan
Salah satu tantangan yang sering dihadapi dalam perhitungan SROI adalah bagaimana mengukur manfaat yang bersifat intangible, seperti reputasi atau goodwill. Banyak perusahaan merasa kesulitan mengkuantifikasikan nilai-nilai semacam ini. Namun sebenarnya ada sejumlah pendekatan praktis yang bisa digunakan. Pertama, manfaat intangible tetap bisa dipetakan secara sistematis melalui proses stakeholder engagement yang baik. Survei persepsi publik, wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan utama, dan analisis media bisa memberikan gambaran perubahan persepsi sebelum dan sesudah pelaksanaan program. Data tersebut kemudian bisa dimanfaatkan untuk lebih mendetailkan lagi jenis manfaat yang diterima oleh perusahaan.
Kedua, manfaat seperti reputasi bisa dikaitkan dengan variabel bisnis yang lebih mudah diukur. Misalnya, peningkatan skor persepsi publik bisa dihubungkan dengan peningkatan loyalitas pelanggan, penurunan biaya akuisisi talenta lokal, atau kemudahan dalam proses perizinan yang sebelumnya lebih kompleks. Bahkan, beberapa perusahaan menggunakan pendekatan willingness-to-pay atau avoided cost untuk mengestimasi nilai dari manfaat yang intangible. Contohnya, berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk mencapai tingkat persepsi positif yang sama melalui kampanye media massa dan media sosial saja? Bayangkan bukan hanya untuk mendapatkankannya sementara waktu (citra) dengan yang lebih ajeg (reputasi). Atau, berapa biaya litigasi atau penundaan projek—misalnya lantaran banyaknya demonstrasi—yang dapat dihindari berkat penerimaan masyarakat yang lebih baik? Pada kasus-kasus perusahaan ekstraktif, sangatlah mudah dihitung manfaat dari penurunan demonstrasi, karena harga yang harus dibayar lantaran demonstrasi yang mengganggu atau bahkan menutup operasi perusahaan per harinya sudah diketahui.
Perlu diingat bahwa dalam proses ini, prinsip kehati-hatian sangat penting. Perusahaan, serta mereka yang membantu menghitungnya, harus menghindari terjadinya double counting. Sebagai misal, jika peningkatan reputasi perusahaan berdampak pada kemudahan perizinan, maka manfaat tersebut jangan dihitung dua kali dalam dua kategori yang berbeda. Selain itu, penting untuk memastikan adanya causal link yang jelas antara manfaat yang dihitung dengan kegiatan program yang dilakukan, serta memertimbangkan attribution dan deadweight untuk memerhitungkan seberapa besar perubahan yang memang betul-betul dihasilkan oleh projek atau program, versus oleh faktor eksternal lainnya.
SROI sebagai Bagian Strategi Keberlanjutan
Menghitung manfaat bagi perusahaan dalam SROI, menurut hemat saya, juga membawa dampak positif bagi pengembangan strategi keberlanjutan perusahaan itu sendiri. Ketika manajemen memahami bahwa ada manfaat nyata yang diperoleh dari investasi sosial, maka komitmen internal untuk mendanai, mengembangkan, dan memerluas program-program serupa akan lebih kuat. Pemahaman ini akan mendorong perusahaan untuk tidak sekadar memandang CSR dari sisi pengeluaran atau kewajiban hukum belaka, melainkan sebagai investasi strategis yang terintegrasi dalam model bisnis perusahaan.
Di tengah meningkatnya tuntutan pelaporan keberlanjutan atau ESG yang lebih kredibel, pengawasan dari bank, investor institusional, serta perhatian masyarakat terhadap CSR, kemampuan perusahaan untuk menunjukkan bahwa program investasi sosialnya juga membawa manfaat nyata bagi perusahaan akan menjadi faktor yang sangat diperhitungkan. Ini bukan hanya soal meningkatkan skor ESG dalam jangka pendek, melainkan soal membangun hubungan jangka panjang yang sehat antara perusahaan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan yang akan membawa manfaat bagi semua pihak.
Dengan demikian, bagi saya, tidak ada alasan untuk mengabaikan manfaat yang diterima oleh perusahaan dalam penghitungan SROI. Justru sebaliknya, menghitung manfaat perusahaan secara transparan dan berbasis data justru akan memerkuat kredibilitas laporan SROI dan membantu memerjelas nilai strategis dari investasi sosial yang dilakukan. Apalagi, dalam banyak kasus di Indonesia, manfaat yang diperoleh perusahaan sesungguhnya tidaklah kecil. Dari pengurangan risiko sosial, penguatan hubungan dengan pemerintah, peningkatan loyalitas karyawan, hingga pembukaan pasar baru—semua itu adalah manfaat nyata yang layak dihitung.
Bagi para praktisi keberlanjutan perusahaan, CSR strategis, ESG, dan investasi sosial, memasukkan manfaat perusahaan dalam perhitungan SROI agaknya bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keniscayaan metodologis agar gambaran yang dihasilkan benar-benar utuh dan dapat dipertanggungjawabkan, dan menggambarkan situasi keberlanjutan perusahaan mutakhir. Bagi manajemen perusahaan, ini adalah kesempatan untuk lebih memahami bahwa investasi sosial bukan hanya urusan donasi, melainkan reputasi dan strategi bisnis jangka panjang.
Singapura, 29 Juni 2025


