Bisnis Sosial dan BoP – Bagian Pertama

Back to Pos

Bisnis Sosial dan BoP – Bagian Pertama

[fusion_builder_container type=”flex” hundred_percent=”no” equal_height_columns=”no” menu_anchor=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” class=”” id=”” background_color=”” background_image=”” background_position=”center center” background_repeat=”no-repeat” fade=”no” background_parallax=”none” parallax_speed=”0.3″ video_mp4=”” video_webm=”” video_ogv=”” video_url=”” video_aspect_ratio=”16:9″ video_loop=”yes” video_mute=”yes” overlay_color=”” video_preview_image=”” border_color=”” border_style=”solid” padding_top=”” padding_bottom=”” padding_left=”” padding_right=””][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ layout=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_color=”” border_style=”solid” border_position=”all” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding_top=”” padding_right=”” padding_bottom=”” padding_left=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” center_content=”no” last=”true” min_height=”” hover_type=”none” link=”” border_sizes_top=”” border_sizes_bottom=”” border_sizes_left=”” border_sizes_right=”” first=”true”][fusion_text columns=”” column_min_width=”” column_spacing=”” rule_style=”default” rule_size=”” rule_color=”” content_alignment_medium=”” content_alignment_small=”” content_alignment=”” hide_on_mobile=”small-visibility,medium-visibility,large-visibility” sticky_display=”normal,sticky” class=”” id=”” margin_top=”” margin_right=”” margin_bottom=”” margin_left=”” font_size=”” fusion_font_family_text_font=”” fusion_font_variant_text_font=”” line_height=”” letter_spacing=”” text_color=”” animation_type=”” animation_direction=”left” animation_speed=”0.3″ animation_offset=””]

Oleh: Jalal
Pimpinan Dewan Penasihat – Social Investment Indonesia

BoP (bottom of the pyramid atau base of the pyramid) adalah istilah yang dipergunakan oleh ahli manajemen CK Prahalad untuk menggambarkan kelompok sosial ekonomi yang hidup dengan pengeluaran setara dengan USD2,5 per hari. Bersama dengan Stuart Hart, di tahun 2004 Prahalad menulis buku fenomenal, The Fortune at the Bottom of the Pyramid, yang menggambarkan bahwa melayani kelompok tersebut sesungguhnya bisa menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Berkembang pesatnya bisnis keuangan mikro adalah salah satu wujud dari apa yang digambarkan Prahalad dan Hart itu.

Perusahaan-perusahaan sosial yang banyak di antaranya memang bekerja untuk melayani kelompok masyarakat miskin, tentu sangat bisa mengambil manfaat dari riset-riset bertemakan BoP. Karenanya, makalah yang dituliskan oleh Farley Nobre dan Rodrigo Morais-da-Silva, yang berjudul Capabilities of Bottom of the Pyramid Organizations (2021) sangatlah penting untuk disimak. Mereka melakukan kajian atas 188 studi yang merentang antara 1998 hingga 2019, dan menuliskan hasil-hasilnya.

Terdapat 22 kapabilitas kunci yang ditemukan oleh para peneliti di dalam organisasi yang menggunakan pendekatan BoP dalam bisnisnya. Tujuh di antaranya terkait dengan konsumsi (mis. penciptaan kemampuan membeli, pengembangan solusi lokal), dan enam di antaranya terkait dengan model bisnis (mis. kemitraan dan penciptaan nilai secara mutual). Ketiga belas kapabilitas ini disebut kapabilitas dasar. Kemudian, terdapat lima kapabilitas terkait manajemen (mis. CSR dan penilaian dampak), dan empat kapabilitas inovasi (mis. inovasi sosial dan ekosistem inovasi). Kesembilan kapabilitas ini dinyatakan sebagai kapabilitas lanjut.

Dari situ, Nobre dan Morais-da-Silva menemukan bahwa riset-riset BoP lebih memfokuskan perhatian pada kapabilitas konsumsi dan model bisnis, dan lebih sedikit perhatian pada manajemen dan inovasi. Alasannya adalah karena dua kapabilitas yang pertama itu terkait dengan bagaimana bisnis bisa bertahan dalam jangka pendek, kemudian mengembangkannya secara inkremental. Sebaliknya, perhatian pada manajemen dan inovasi memang sangat terkait dengan kapabilitas jangka panjang dan radikal, yang baru akan muncul ketika organisasi BoP sudah beroperasi lebih lama.

Namun demikian, sesungguhnya di antara kapabilitas dasar dan lanjut tidaklah terpisah sama sekali. Organisasi yang memiliki kapabilitas lanjut, yaitu yang memfokuskan pada manajemen dan inovasi, sesungguhnya selalu mengandung kapabilitas dasar, yaitu konsumsi dan model bisnis. Dalam situasi seperti ini, kapabilitas dasar menjadi lebih bersifat dinamis, dibandingkan ketika organisasi memang hanya memiliki kapabilitas dasar.

Organisasi BoP yang mengumpulkan pengalaman dengan sungguh-sungguh lalu mengisi basis mereka dengan kapabilitas konsumsi dan model bisnis yang semakin baik berdasarkan pengalamannya adalah yang paling mungkin mengembangkan kapabilitas lanjut. Jadi, organisasi BoP sangatlah penting untuk menjadikan dirinya sebagai organisasi pembelajar (learning organization) yang akan dapat mentransformasikan kapabilitasnya dan membuat dirinya naik kelas.

Kalau organisasi BoP hanya berorientasi untuk mengembangkan kapabilitas dasar, mereka kemungkinan besar hanya akan menghasilkan kinerja berjangka pendek. Pada tingkat ini, organisasi BoP sedang berfokus untuk mengurangi ketegangan internal, menciptakan keunggulan kompetitif secara inkremental, dan untuk mengatasi masalah BoP jangka pendek.

Organisasi BoP dengan kapabilitas lanjut kemungkinan besar akan menghasilkan hasil jangka panjang. Pada tahap ini, organisasi BoP sudah tidak lagi berfokus pada ketegangan internal, melainkan sudah dapat mengejar kapabilitas radikal untuk meredakan ketegangan eksternal, untuk menciptakan nilai-nilai berkelanjutan bagi pemangku kepentingan, dan untuk mengatasi masalah BoP jangka panjang.

Karena organisasi BoP yang memiliki kapabilitas manajemen dan inovasi sesungguhnya sudah mengandung kapabilitas konsumsi dan model bisnis yang dikembangkan lebih lanjut, maka organisasi seperti itu akan dapat menciptakan nilai keberlanjutan di dalam organisasi dan di seluruh ekosistem BoP yang dilayaninya. Artinya, organisasi BoP dengan kapabilitas lanjut kemungkinan besar akan berhasil dalam menyelesaikan masalah BoP yang hendak diselesaikannya.

Bagaimana organisasi BoP—termasuk dan terutama perusahaan sosial—dapat menjinakkan ketegangan-ketegangan yang ditemukan sepanjang mereka mulai berusaha dan baru memiliki kapabilitas dasar, sehingga akhirnya mereka bisa naik kelas menjadi organisasi dengan kapabilitas lanjut? Pertanyaan penting tersebut akan kami jawab pada artikel berikutnya.

–##–

Artikel ini dirilis juga pada epaper Kontan pada tanggal 29 April 2021

[/fusion_text][/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

Share this post

Tinggalkan Balasan

Back to Pos
%d blogger menyukai ini: