Jalal
Chairperson of Advisory Board Social Investment Indonesia

Tahun 2019 ditandai dengan semakin pentingnya keberlanjutan sebagai tujuan perusahaan beroperasi. Hal tersebut juga sangat terkait dengan semakin ditanggalkannya shareholder primacy sebagai ideologi perusahaan. Setelah beberapa dekade perdebatan terjadi di ranah akademis, di tahun lalu pemenang perdebatannya menjadi jelas. Para CEO perusahaan terbesar di Amerika Serikat yang tergabung dalam Business Roundtable bersepakat merevisi pernyataan tujuan perusahaan pada bulan Agustus. Di penghujung tahun, World Economic Forum (WEF) mengumumkan juga hal yang sama. Konferensi tahunan WEF yang sedang berlangsung menegaskan tujuan bersama: cohesive and sustainable world.

Baik Business Roundtable maupun WEF kini menekankan bahwa tujuan perusahaan bukanlah lagi menghasilkan keuntungan maksimal untuk pemilik modal, melainkan menghasilkan manfaat optimal untuk seluruh pemangku kepentingan. Dengan tujuan seperti itu, jarak pandang perusahaan juga berubah, dari jangka pendek setahunan atau bahkan kuartalan, menjadi jangka yang jauh lebih panjang. Perusahaan juga tak bisa lagi menganggap dampak ekonomi, sosial dan lingkungan yang dihasilkanya sebagai eksternalitas, melainkan harus diinternalisasi.

Tetapi, penerimaan secara formal keberlanjutan sebagai tujuan perusahaan secara umum sendiri masih perlu dibuktikan dengan kebijakan, strategi, sumberdaya dan kinerja yang sesuai. Hal ini masih membutuhkan beberapa tahun ke depan untuk melihat hasil dari apa yang dinyatakan di tahun lalu itu. Selain itu, perusahaan-perusahaan yang selama ini dianggap sebagai pemimpin dalam keberlanjutan kebanyakan berasal dari Eropa atau Amerika Serikat. Sehingga gambaran masa depan seluruh perusahaan kerap digambarkan sebagai perusahaan-perusahaan terkemuka dari kedua benua itu.

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir kita bisa melihat geliat beberapa perusahaan di Asia yang sangat membanggakan dalam upaya menggapai keberlanjutan. CLP, perusahaan listrik yang berbasis di Hong Kong kerap dipandang sebagai salah satu perusahaan dalam industri itu yang paling serius dalam menurunkan emisi per KWH listrik yang dihasilkan. Dari Singapura ada CDL yang makin terkemuka sebagai perusahaan konstruksi dan real estate berkelanjutan. Sementara, Kao, salah satu perusahaan tertua di Jepang diam-diam juga sudah berkembang menjadi pemuka keberlanjutan di industri kimia, perawatan kesehatan, kosmetika, dan kebersihan rumah tangga.

Berdiri pada tahun 1887 dan masih eksis hingga sekarang sesungguhnya sudah menunjukkan kapasitas adaptif yang luar biasa dari Kao. Sebagai bagian dari adaptasi itu, isu-isu keberlanjutan sudah lama diperhatikan, hingga akhirnya pada tahun 2004 dinyatakan secara formal sebagai misi perusahaan. “Our mission is to strive for the wholehearted satisfaction and enrichment of the lives of people globally and contribute to the sustainability of the world,” demikian misi yang masih berlaku hingga sekarang.

Salah satu isu keberlanjutan material dari industri di mana Kao berada adalah pemanfaatan plastik sebagai pembungkus produknya. Hal ini sudah disadari oleh Kao sejak dekade 1990an, jauh hari sebelum perusahaan-perusahaan lain dan para pemangku kepentingan global melihat permasalahan plastik seperti sekarang. Upaya Kao dalam mengurangi penggunaan plastik ini telah menunjukkan hasil yang mencengangkan. Dibandingkan skenario business as usual (BAU), berdasarkan data tahun 2017, Kao telah berhasil menekan 74% penggunaan plastik.

Tiga dari empat strategi utama yang dipergunakan Kao untuk mengurangi penggunaan plastik itu sesungguhnya sudah banyak diketahui dan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lain: ReduceReuse dan Recycle (3R). Hanya saja, kesungguhan Kao dalam menjalankannya telah membuahkan kinerja yang jauh lebih tinggi dibandingkan kebanyakan perusahaan. Strategi yang lain, Replace, berusaha mencari alternatif yang lebih baik dibandingkan plastik yang berasal dari bahan bakar fosil, termasuk di dalamnya pemanfaatan hasil daur ulang.

Kini, Kao memerkenalkan strategi baru yang diberi nama RecyCreation atau Create New Value. Pada strategi ini Kao menantang dirinya sendiri untuk menciptakan berbagai barang yang nilainya lebih tinggi daripada pembungkus plastik yang dikembalikan oleh para konsumen. Pembungkus plastik yang dibersihkan dan dicacak kemudian diubah menjadi pelet, dan akhirnya menjadi material konstruksi dan alat-alat edukasi.

Tetapi, urusan keberlanjutan di Kao itu jauh melampaui apa yang mereka sudah buktikan dalam isu pemanfaatan plastik. Tahun 2019 Kao masuk ke dalam indeks FTSE4Good, juga tetap bercokol di Dow Jones Sustainability Index selama 6 tahun terakhir. Di awal tahun 2020 ini, Kao juga dinyatakan masuk ke dalam daftar Global 100, yaitu 100 perusahaan yang dinyatakan paling tinggi kinerja keberlanjutannya oleh Corporate Knights. Apa saja inisiatif yang membuat Kao bisa mendapatkan posisi terhormat tersebut, bagaimana rencana Kao ke depan agar terus menjadi pemimpin dalam keberlanjutan, serta pelajaran yang bisa diambil oleh perusahaan komersial dan sosial di Indonesia akan menjadi tema tulisan selanjutnya.

Tulisan ini telah terbit di Harian KONTAN pada tanggal 23 Januari 2020.