Skip to content

Hotline : +62 813-1724-5657

Email: [email protected]

  • BERANDA
  • Tentang Kami
    • Sambutan Direktur
    • Visi dan Misi
    • Prinsip dan Nilai
    • Kepemimpinan dan Tim Kami
    • Download Profil SII
    • Klien Kami
  • Layanan
    • Asesmen
    • Strategi
    • Implementasi
    • Monitoring, Evaluation dan Learning
    • Komunikasi dan Pelaporan
  • Agenda
  • Pengetahuan
    • Artikel KnowledgePod
    • Berita
    • E-book
    • Resensi
    • Presentasi
    • Studi Kasus
    • Jurnal Canting
  • Foundation
    • Yayasan Social Investment Indonesia
    • Yayasan Negeri Ternak Indonesia
  • Kontak SII
    • Bergabung Dengan SII
      • Sebagai Expert Associate
      • Sebagai Associate
    • Hubungi Kami

Pusat Publikasi Investasi Sosial

← Seluruh Artikel

Keberlanjutan Sedang Berada di Persimpangan Jalan

Membaca Survei Keberlanjutan Global 2026 dari Indonesia

  • Kategori : Artikel

DOI : 10.64895/sii.knowledge.2026-057

6 Article Views

[debug_author_post]

Daftar Isi

Fri, 23 October 2026

 

 

Abstrak :

Survei global Sustainability at a Crossroads 2026 mengungkapkan titik kritis keberlanjutan: 95% pakar menuntut perubahan arah karena pelaporan sukarela dan efisiensi inkremental dinilai gagal mengubah model bisnis. Ketika resistensi meningkat dan daya tawar argumen moral kian melemah—khususnya di kawasan Asia-Pasifik—fokus global kini bergeser dari sekadar komitmen sukarela menuju mandat kepatuhan dan insentif ekonomi riil.
Bagi Indonesia, momentum ini bertepatan dengan berlakunya mandat regulasi PSPK 1 dan PSPK 2 (selaras IFRS S1 dan S2) mulai 2027. Jurang kredibilitas nyata terlihat dari 981 emiten yang merilis laporan ESG tahun 2025, namun hanya 85 yang diverifikasi pihak ketiga. Menjadikan regulasi sekadar ajang kepatuhan administratif berisiko menjebak korporasi dalam pemborosan sumber daya tanpa dampak nyata. Artikel ini merumuskan delapan panduan strategis bagi korporasi Indonesia: memperkuat sistem data audit, mengintegrasikan lensa nilai finansial dan dampak sosial, mentransformasi rantai pasok dan dekarbonisasi terukur, serta menggeser narasi moralitas menuju pembuktian nilai bisnis konkret. Kepatuhan wajib diposisikan sebagai batas bawah, bukan target puncak, guna membangun kembali modal terlangka: kepercayaan pemangku kepentingan.
Keyword :
  • Akuntabilitas Laporan Keberlanjutan OJK, Business Case Keberlanjutan, Dampak Sosial SROI, IFRS S1 S2 Indonesia, Integrasi Dekarbonisasi Rantai Pasok, Kepatuhan Regulasi Keberlanjutan, Laporan ESG Indonesia, PSPK 1 dan PSPK 2, Sustainability at a Crossroads 2026

Oleh:
Jalal – Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia

 

Survei Global dan Momentum Domestik

Survei Sustainability at a Crossroads 2026 yang merupakan hasil kolaborasi GlobeScan, ERM Sustainability Institute, dan Volans menghimpun pandangan 610 pakar dari 57 negara antara 9 Juni dan 9 Agustus 2026 akhirnya terbit 15 Oktober lalu. Lebih dari tiga perempat responden berpengalaman lebih dari satu dekade; 44 persen berasal dari korporasi, tetapi hanya 17 persen dari Asia-Pasifik. Survei ini karenanya merupakan cermin persepsi komunitas praktisi global, bukan potret Indonesia.  Namun demikian, saya merasa perlu dan dapat dibaca dengan kacamata lokal.

Kacamata itu sedang bergeser cepat. Dewan Standar Keberlanjutan IAI mengesahkan PSPK 1 dan 2 pada 1 Juli 2025, selaras dengan IFRS S1 dan S2, dan berlaku efektif 1 Januari 2027. OJK menegaskan jadual itu pada Juli 2026 dan menargetkan POJK baru terbit sebelum akhir tahun. Rancangan aturan mengusulkan penahapan: emiten papan utama dan bank besar lebih dulu pada 2027, kelompok lain pada 2028-2029. Sementara itu, 981 emiten telah menerbitkan laporan ESG tahun buku 2025, tetapi baru 85 yang laporannya dinilai pihak ketiga: volume tinggi, kredibilitas belum teruji. Di pasar karbon, infrastruktur IDXCarbon sudah memadai, namun permintaan lemah selama belum ada batas emisi yang jelas, dan nilai transaksi Januari 2026 sangatlah kecil, hanya Rp4,7 miliar.

 

Temuan Terpenting

Bagi saya, survei ini jelas sekali punya enam temuan terpentingnya. Pertama, tuntutan perubahan makin keras. Sebanyak 59 persen pakar menghendaki revisi radikal atas agenda keberlanjutan (56 persen pada 2025), 95 persen menghendaki perubahan dalam bentuk apa pun, dan hanya 4 persen puas dengan keadaan sekarang. Alasan utamanya: pelaporan, komitmen sukarela, dan efisiensi inkremental dianggap menggeser implementasi, sementara insentif ekonomi tidak berubah. Responden korporasi lebih moderat (49 persen menginginkan revisi radikal) dibanding akademisi (77 persen) dan LSM (69 persen).  Kedua, resistensi kini seperti menjadi kondisi permanen. Tujuh dari sepuluh pakar melaporkan backlash signifikan di negaranya, naik dari 57 persen pada 2024. Amerika Utara (84 persen) dan Eropa (77 persen) tertinggi; Asia-Pasifik terendah, sekitar 44 persen. Namun 78 persen pakar Asia-Pasifik menilai argumen moral kini kurang ampuh dibanding lima tahun lalu, angka tertinggi di antara semua kawasan.

Ketiga, kepercayaan pada gagasan melampaui kepercayaan pada pelaksananya. Sebanyak 52 persen menilai business case keberlanjutan kuat, tetapi hanya 10 persen yang yakin bahwa target net zero 2050 bakal tercapai, dan 5 persen yakin sebagian besar perusahaan memenuhi target iklim 2030. Hanya 8 persen menilai pemerintah nasional berkinerja sangat baik, 14 persen investor institusional, dan 19 persen sektor swasta; LSM (48 persen) dan akademia (46 persen) teratas.  Keempat, pusat gravitasi bergeser dari sukarela ke wajib dan dari pelaporan ke perubahan insentif. Intervensi berdampak tertinggi adalah subsidi dan pajak (77 persen), inovasi teknologi (74 persen), integrasi keberlanjutan dalam perusahaan (70 persen), serta harga karbon, komersialisasi produk berkelanjutan, dan kinerja rantai pasok (masing-masing 69 persen). Pelaporan sukarela hanya dinilai berdampak oleh 15 persen, padahal kelayakannya naik menjadi 45 persen. Artinya: mudah dilakukan namun nyaris tak berdampak. Hal serupa berlaku bagi pemeringkatan dan kepatuhan pelaporan wajib, yang kelayakannya naik 13 dan 10 poin sementara persepsi dampaknya datar. Impact investing kehilangan 10 poin persepsi dampak.

Kelima, ada jurang antara dampak dan kelayakan. Tidak ada satu pun intervensi yang dinilai sangat mungkin ditingkatkan skalanya; yang tertinggi, AI, hanya 59 persen. Mengintegrasikan modal alam, sosial, dan manusia ke dalam sistem akuntansi dinilai berdampak oleh 66 persen, tetapi dinilai layak hanya oleh 27 persen. Teknologi dipandang sebagai pemungkin, bukan pengganti aksi kolektif: hanya 28 persen menempatkannya di atas aksi kolektif, sementara kelayakan kolaborasi lintas sektor naik 10 poin menjadi 47 persen.  Keenam dan terakhir, tekanan eksternal membentuk hasil. Polarisasi politik (88 persen), ketidakpastian regulasi (86 persen), otoritarianisme, dan konflik geopolitik (masing-masing 83 persen) dinilai paling merugikan, sedangkan akses energi terbarukan (78 persen) paling mendukung. Di Asia-Pasifik, hambatan teratas adalah ketegangan geopolitik (86 persen), disusul biaya hidup (85 persen). Hampir separuh pakar (49 persen) juga menilai agenda terlalu berfokus pada lingkungan dan kurang pada aspek sosial-ekonomi.

 

Implikasi bagi Indonesia

Gelombang kepatuhan yang bakal menguat di tahun 2027 adalah peluang sekaligus jebakan. Peluangnya: data keberlanjutan akan dibaca investor sebagai informasi tentang pengaruh isu keberlanjutan terhadap nilai dan prospek keuangan perusahaan. Jebakannya persis yang diperingatkan survei: kepatuhan yang menyerap sumberdaya tanpa mengubah cara perusahaan menghasilkan laba. Rasio 981 laporan berbanding 85 penilaian pihak ketiga menunjukkan kita masih berada di era pengungkapan, belum benar-benar sampai pada akuntabilitas.

Rendahnya backlash di Asia-Pasifik pun jangan dibaca sebagai tanda aman; bisa jadi agenda ini belum cukup menyentuh kepentingan mapan, dan daya moralnya justru paling melemah di kawasan kita. Survei juga memberi kompas prioritas: tuas berdampak tinggi yang kelayakannya membaik (integrasi ke dalam bisnis, rantai pasok, kolaborasi, serta pembinaan hubungan dengan pemangku kepentingan) lebih layak diutamakan daripada menambah komitmen sukarela, yang dinilai berdampak rendah (UN Global Compact hanya 16 persen). Perusahaan yang hanya mengejar kepatuhan akan setara dengan semua pesaingnya; yang membuktikan dampaknya akan berbeda.

Kalau kemudian saya ditanya dari wawasan yang kita dapatkan dari survei tersebut apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Indonesia, ada delapan butir yang sekiranya penting ditimbang:

  1. Jadikan 2027 tahun pembenahan sistem data, bukan sekadar penyusunan laporan. Lakukan gap assessment terhadap PSPK 1 dan 2 sekarang, bangun kepemilikan data lintas-fungsi, hitung emisi Cakupan 1, 2, dan 3 yang material dengan GHG Protocol, yang menjadi dasar pengukuran emisi dalam PSPK 2, dan siapkan kontrol internal serta jejak audit. Waktu persiapan emiten tinggal hitungan bulan, maka libatkan direktur keuangan dan manajemen risiko sejak awal. Selaraskan pula pesan di laporan tahunan, laporan keberlanjutan, dan komunikasi investor.
  2. Pertahankan dua lensa: nilai perusahaan dan dampak kepada masyarakat. PSPK menjawab kebutuhan investor akan risiko dan peluang keuangan; kerangka berbasis GRI lebih menyoroti dampak perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat. Jangan sampai perusahaan membuang yang kedua, lantaran itu adalah inti dari tanggung jawab sosial, dan pemangku kepentingan di tingkat tapak tetap menuntutnya, dan pembinaan hubungan dengan pemangku kepentingan kini dinilai makin layak (48 persen, naik 11 poin) dan penting untuk mencapai tujuan keberlanjutan.
  3. Tanamkan keberlanjutan dalam strategi, modal, dan insentif. Integrasi keberlanjutan dalam perusahaan (70 persen) dan kompensasi berbasis keberlanjutan (63 persen) termasuk tuas berdampak tinggi. Insentif yang tidak berubah adalah akar masalah yang paling sering disebut para pakar. Kaitkan KPI direksi dan manajemen dengan target terukur, masukkan risiko iklim dan sosial ke keputusan investasi, dan gunakan harga karbon internal sebagai alat skenario meski batas emisi nasional belum tegas. Fungsi keberlanjutan harus duduk dekat pengambil keputusan, bukan di pinggir.
  4. Bangun kinerja rantai pasok, terutama bersama UMKM dan pemasok hulu. Rantai pasok termasuk tuas dengan kenaikan persepsi dampak terbesar (69 persen, naik 9 poin). Mulailah dari komoditas dan pemasok yang paling material bagi risiko dan reputasi. Petakan pemasok kritis, tetapkan standar yang disertai pendampingan alih-alih sekadar sanksi, dan bangun ketertelusuran, karena pembeli dan investor global cenderung menuntut bukti, bukan klaim.
  5. Perkuat dimensi sosial dan buktikan dampaknya. Hampir separuh pakar menilai agenda terlalu lingkungan, padahal Indonesia punya tradisi TJSL dan investasi sosial yang kaya. Ubah laporan dari daftar kegiatan dan serapan anggaran menjadi bukti perubahan hidup masyarakat: ukur hasil dengan pendekatan seperti SROI, dan pelopori pengintegrasian modal sosial dan alam ke dalam sistem akuntansi dan keputusan, yang berdampak tinggi (66 persen) tetapi sulit dilakukan (27 persen). Di sinilah praktisi Indonesia bisa memimpin. Hormati hak masyarakat adat dan komunitas terdampak sejak perencanaan.
  6. Utamakan penurunan emisi nyata; perlakukan kredit karbon dengan hati-hati. Pasar karbon domestik masih kelewat tipis dan menunggu kepastian batas emisi serta insentif fiskal, sementara banyak pakar menilai perdagangan karbon hanya memberi ilusi solusi dan kerap menyasar wilayah masyarakat adat dan lokal yang kurang mendapatkan manfaat dari projek-projek itu. Prioritaskan efisiensi energi, transisi ke energi terbarukan, dan pengurangan emisi di rantai nilai. Jangan jadikan offset pengganti dekarbonisasi, dan ungkapkan kualitas, asal, serta dampak sosial setiap unit karbon yang dipakai.
  7. Ubah cara berkomunikasi: dari seruan moral ke manfaat nyata. Karena 69 persen pakar menilai argumen moral kurang ampuh, dan biaya hidup menjadi hambatan utama di kawasan kita, hubungkan keberlanjutan dengan ketahanan energi, biaya, kesehatan, lapangan kerja, dan kontinuitas usaha. Sajikan angka, baseline, dan batasan klaim; akui target yang meleset; hindari klaim absolut. Manfaatkan asurans dan penilaian pihak ketiga sebagai pembeda kredibilitas. Kejujuran tentang ketidaksempurnaan lebih meyakinkan daripada citra sempurna.
  8. Berkolaborasi, meregenerasi, dan beradvokasi secara konstruktif. Kolaborasi lintas-sektor dinilai berdampak oleh 67 persen pakar. Bangun kemitraan dengan universitas dan organisasi masyarakat sipil, dua kelompok yang paling dipercaya dalam survei, serta pemerintah daerah. Beri ruang kepemimpinan bagi generasi muda dan praktisi daerah (71 persen pakar Asia-Pasifik menghendaki regenerasi). Suarakan kepada regulator kebutuhan akan kepastian kebijakan, insentif, dan batas emisi yang jelas.

Terakhir, saya ingin menegaskan bahwa sangat penting untuk diingat bahwa survei ini menyodorkan paradoks yang juga berlaku bagi Indonesia: keyakinan pada nilai keberlanjutan sebagai pendorong kinerja perusahaan yang semakin baik itu masih kuat, tetapi kepercayaan pada cara perusahaan menjalankanny sedang menipis. Kepatuhan pada PSPK atau regulasi apapun benar-benar perlu diperlakukan sebagai lantai dasar, bukan langit-langit. Perusahaan yang menjadikan 2027 momentum membenahi tata kelola, membuktikan dampak sosial dan lingkungan, serta berkomunikasi jujur akan memeroleh kembali hal paling langka dalam agenda ini: kepercayaan. Inisiatif keberlanjutan bertahan bukan karena moral atau regulasi semata, melainkan karena terbukti membuat bisnis dan masyarakat sama-sama lebih sejahtera dan tangguh.

Metrik Artikel

All Time Views : 6

Total Views 2026: —

PrevSebelumnyaIzin dari Pemerintah Tak Sama dengan Restu dari Masyarakat

Ditulis Oleh

Jalal
Jalal

Chairperson of Advisory Board

Social Investment Indonesia

Wahyu Aris Darmono

Senior Advisor

Social Investment Indonesia

Dewan Redaksi

Penanggung Jawab:

Fajar Kurniawan, MM

Pemimpin Redaksi:

Dr. Ivanovich Agusta

Wakil Pemimpin Redaksi:

Purnomo

Redaktur Pelaksana:

Paimun Karim, S.Si.

Dewan Redaksi:

  1. Jalal, SP
  2. Wahyu Aris Damono, SP
  3. Drs. Sonny S. Sukada, M.Sc.
  4. Mahmudi Siwi, M.Si.

Tim Lay Out dan Media Sosial:

Rizal Choirul Insani, S.Si.

Unduh Artikel Disini

Unduh

Bagikan Artikel Ini

Artikel Lainnya

Izin dari Pemerintah Tak Sama dengan Restu dari Masyarakat
13 October 2026
Urgensi Dekarbonisasi dalam Industri Semen
7 October 2026
Memahami Investasi Sosial sebagai Instrumen Pengelolaan Dampak
5 October 2026
Mengayuh di antara Karang Greenwashing dan Greenhushing
2 October 2026
Sains Keberlanjutan Masih Menunggu Kita Bertindak
28 September 2026
Siapa Bilang Alam Bukan Pemangku Kepentingan?
21 September 2026
Siapa yang Berhak Menentukan Dampak yang Baik? Lima Dimensi di Balik Standar SDG
16 September 2026
Rewriting the Rules
3 September 2026
Menelanjangi Konsultasi Setengah Hati
31 August 2026
SROI Sebagai Sistem Saraf, Bukan Rapor Akhir Tahun
28 August 2026
LFA dan SROI: Konvergensi dan Divergensi dalam Memahami Dampak
24 August 2026
CSR, ESG dan Keberlanjutan Perusahaan di Sektor Transportasi Maritim
22 August 2026
Show more
Pusat Pengetahuan

Hitung SROI di Aplikasi

Digitalisasi perhitungan SROI akurat dan terpercaya

Coba Gratis
Linkedin Youtube Instagram Facebook

TENTANG Social Investment Indonesia

Menjadi mitra pilihan dalam pengembangan dan pelaksanaan program investasi sosial yang berkelanjutan dengan Menyediakan layanan konsultasi dan pendampingan, pelatihan dan pengembangan kapasitas, tenaga alihdaya yang handal hingga layanan penelitian terkait pelaksanaan CSR (tanggung jawab sosial) dan pengembangan masyarakat

Langganan Artikel dan Berita Keberlanjutan dari Kami

WAWASAN KEBERLANJUTAN
  • Artikel Keberlanjutan
  • Kabar Terbaru
  • Social Investment Roundtable Discussion
  • E-book
  • Download
LAYANAN
Asistensi Teknis dan Advisori
  • Technical Assisstance for Program Implementation
  • Technical Assisstance for ESG
  • Grant Making Strategy Development
  • System Monitoring & Evaluation
  • Conflict Management & Resolution
  • Strategic Communication
  • Reporting Development (CSR Reports, Sustainability Reports, Thematic Reports)
LAYANAN
Riset Pengembangan Sosial
  • Community Needs & Assets Assessment (Social Mapping)
  • Strategic Issues & Stakeholder Mapping
  • Study Multiflier Effect (Social Economic Impact)
  • Indeks Persepsi Masyarakat (IPM)
  • Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM)
  • Social License to Operate Indeks (SLTO Index)
  • Social Baseline Study
  • Impact Measurement Study – Social Return on Investment (SROI) Method
  • Impact Measurement Study – Sustainable Livelihood Impact Assessment (SLIA) Methods
PENGEMBANGAN KAPASITAS
Pelatihan Perencanaan Program
  • ISO 26000 SR
  • Sustainability & CSR Masterclass
  • Designing Social Investment Program Based-On Corporate Risk & Opportunity Assessment
  • Social Assessment and Stakeholders Management For Strategic Social Investment
  • Logical Framework Approach (LFA)
PENGEMBANGAN KAPASITAS
Pelatihan Pelaksanaan Program
  • Project Management for Social Investment Program
  • Social Investment for SDGs
  • Creating Shared Value (CSV)
Pelatihan Evaluasi Program
  • Social Return On Investment (SROI)
  • Social Livelihood Impact Assessment (SLIA)
  • Environmental, Social and Governance (ESG)
  • Technics Measuring the Impact of Social Investment Program
TENTANG KAMI
  • Sambutan Direktur
  • Visi dan Misi
  • Prinsip dan Nilai
  • Tim Kami
  • Profil Kami
  • Klien Kami
BERANDA
TENTANG KAMI
  • Sambutan Direktur
  • Visi dan Misi
  • Prinsip dan Nilai
  • Kepemimpinan dan Tim SII
  • Klien Kami
LAYANAN
  • Asesmen
  • Strategi
  • Implementasi
  • Monitoring, Evaluasi dan Learning
  • Komunikasi dan Pelaporan
PENGETAHUAN
  • Artikel - Knowledge Pod
  • Berita
  • Ebook
  • Presentasi
  • Studi Kasus
  • Jurnal Canting
FOUNDATION
  • Yayasan Social Investment Indonesia
HUBUNGI KAMI

© 2026 Social Investment Indonesia

Go to Top
0
  • BERANDA
  • Tentang Kami
    • Sambutan Direktur
    • Visi dan Misi
    • Prinsip dan Nilai
    • Kepemimpinan dan Tim Kami
    • Download Profil SII
    • Klien Kami
  • Layanan
    • Asesmen
    • Strategi
    • Implementasi
    • Monitoring, Evaluation dan Learning
    • Komunikasi dan Pelaporan
  • Agenda
  • Pengetahuan
    • Artikel KnowledgePod
    • Berita
    • E-book
    • Resensi
    • Presentasi
    • Studi Kasus
    • Jurnal Canting
  • Foundation
    • Yayasan Social Investment Indonesia
    • Yayasan Negeri Ternak Indonesia
  • Kontak SII
    • Bergabung Dengan SII
      • Sebagai Expert Associate
      • Sebagai Associate
    • Hubungi Kami