Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board – Social Investment Indonesia
Beberapa tahun yang lampau saya membaca sebuah penelitian jangka panjang yang dipimpin oleh seorang guru besar dari MIT. Temanya adalah tentang peluang kesuksesan. Penelitian itu menyimpulkan bahwa individu yang sukses itu menunjukkan kemampuan berbicara yang menarik, menulis dengan jelas, dan berpikir secara original. Dan begitulah urutan yang menentukannya.
Apa artinya? Sangat mungkin mereka yang sebetulnya tak punya pemikiran original jadi lebih sukses bila bisa mengungkapkan gagasan yang dipinjam dari orang lain dengan cara yang lebih baik dari si empunya gagasan. Demikian juga kalau ia bisa meminjam pikiran lalu menuliskan dengan cara yang membuat pembaca tertarik untuk mengikuti alurnya hingga selesai. Tentu, memiliki pemikiran original sendiri sangat penting, karena pada akhirnya akan membedakannya dari orang-orang lain yang hanya meminjam pemikiran.
Saya sendiri berpendirian bahwa seyogianya setiap orang yang memerjuangkan keberlanjutan bisa mengasah dirinya dalam ketiga ranah itu. Ini bukan demi kesuksesan pribadi, seperti dalam penelitian itu, tetapi benar-benar untuk kesuksesan kita semua, umat manusia, untuk sintas dan berkembang menjadi lebih baik di masa mendatang. Tanpa komunikasi lisan dan tulisan, serta kebaruan gagasan, tujuan itu mustahil dicapai. Dan, kalau demikian, seperti hasil pemodelan yang dipimpin Donella Meadows, dari kampus MIT juga, umat manusia bakal berhadapan dengan krisis eksistensial kurang dari separuh abad lagi.
Kalaulah ada yang ‘kurang idealis’ dari alasan mengapa ketiganya itu sangat perlu diasah, mungkin itu adalah alasan pemasaran jasa. Sebagai konsultan, agaknya sangat sulit untuk memasarkan jasa secara hard sell. Maka, konsultan-konsultan yang mau berbagi pemikiran di ruang publik, menjangkau pemirsa dan pembaca yang lebih luas, akan punya peluang lebih besar untuk dikenal dan menarik bakal klien. Tentu saja, semakin banyak klien bisa dilayani, apalagi yang memiliki pengaruh besar, semakin besar pula pengaruh konsultan pada keberlanjutan.
Fungsi pertama dari konsultan keberlanjutan yang menulis tentu saja adalah menunjukkan pemahamannya atas isu-isu keberlanjutan dan bagaimana ia berkontribusi di dalamnya. Mengingat isu keberlanjutan sangatlah luas, maka setiap konsultan perlu menunjukkan keluasan pemahaman, terutama kesalingterkaitan antar-isu. Tetapi juga ia perlu menunjukkan kedalaman di beberapa isu yang benar-benar dikuasainya.
Untuk bisa demikian, menurut hemat saya, konsultan keberlanjutan musti menunjukkan bahwa dia memahami berbagai literatur keberlanjutan ‘klasik’ hingga perkembangan terbaru. Bacaan seperti Silent Spring, Brundtland Report hingga dokumen WCED bisa ditunjukkan sebagai dasar pemahaman yang kokoh. Sementara, bacaan yang lebih baru soal ekonomi donat, ekonomi sirkular, berbagai standar dan kerangka keberlanjutan atau laporan SDGs mutakhir perlu dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa ia memang terus mengikuti perkembangan. Bagaimanapun, tak ada klien serius yang bakal percaya kepada konsultan bila pemahaman dasar dan mutakhir tak dikuasai betul.
Tetapi, tentu saja menjadi konsultan tak cukup hanya menguasai teori dan konsep. Implementasi adalah hal yang paling dibutuhkan klien. Dan, dengan demikian ketika menulis, konsultan perlu menunjukkan bahwa dia memiliki pengamatan lapangan yang tajam, yang kemudian dia dialogkan dengan sumber klasik dan mutakhir yang saya sebutkan terlebih dahulu itu. (Calon) klien akan jauh lebih teryakinkan bila tulisan konsultan itu memberikan nuansa konseptual dan implementasi yang cenderung sama kuatnya, atau malah lebih berat pada implementasi.
Dari pengalaman saya, agaknya ada sudut pandang khas yang sebaiknya diambil oleh konsultan keberlanjutan, atau konsultan apapun, yaitu fokus pada analisis atas masalah serta solusinya. Bayangkan, bila tulisan dari seorang konsultan hanyalah berisi rentetan masalah, dengan gerutuan tak henti seperti yang banyak kita baca di WA Groups. Adakah calon klien yang bakal mendekati konsultan ini?
Saya sendiri, ketika jauh lebih muda dibandingkan sekarang, punya kecenderungan untuk menuliskan masalah, lalu menunjuk hidung siapa yang menurut saya bersalah. Tulisan-tulisan itu banyak termuat di media massa ketika itu. Sampai kemudian mentor saya, Sonny Sukada, bertanya: “Elu mau dikenal sebagai pembawa kabar buruk atau pemberi solusi?” Tulisan-tulisan saya setelahnya tetap kritis, tetapi diupayakan memberi ide solusi. Kalaupun tidak di level praktis, saya perlu menunjukkan prinsip-prinsip penyelesaian masalahnya.
Belakangan, saya juga berpikir bahwa kalau yang saya sampaikan itu selalu masalah – solusi, maka kesannya adalah bahwa dunia keberlanjutan isinya hanya masalah, atau saya cenderung melihatnya demikian. Padahal, di balik kesulitan ada kemudahan. Di samping masalah, ada banyak peluang. Jadi, menunjukkan beragam peluang terkait keberlanjutan lewat tulisan itu juga tak kalah penting, agar para pembaca tahu bahwa keberlanjutan itu bisa didekati secara positif.
Tetapi, tentu saja, kita tak boleh terus menerus memberi angin surga. Mengungkapkan tantangan juga dilema, trilema, quadrilema, dan seterusnya, ketika kita hendak mencari solusi atau mewujudkan peluang tetaplah perlu dilakukan. Kita tak boleh memberi kesan bahwa majoritas isu keberlanjutan itu urusan mudah. Kalaulah mudah, masak dunia seberantakan sekarang? Lagipula kalau memang segala solusi dan peluang mudah saja diwujudkan, tentu (calon) klien tak butuh siapapun untuk membantu mereka.
Salah satu hal yang paling menyebalkan dalam dunia keberlanjutan adalah greenwashing dan beragam turunannya. Ini membuat komunikasi yang menunjukkan kemajuan jadi sering dicurigai sebagai tidak benar atau sekadar kebenaran parsial. Di samping itu, ada banyak hal tak elok yang dilakukan orang atas nama keberlanjutan. Oleh karena itu, salah satu hal penting yang juga perlu dilakukan oleh para konsultan keberlanjutan dalam tulisan-tulisan mereka adalah menyingkap praktik tak ideal itu. Alih-alih memberi kesan kemajuan yang palsu, sudah seharusnya konsultan keberlanjutan tak menoleransi penipuan seperti ini. Jujur pada kondisi, mengungkap ruang perbaikan serta bagaimana mengisinya adalah tindakan yang sepatutnya dilakukan.
Terakhir, dalam tulisan-tulisannya, para konsultan keberlanjutan perlu bersikeras pada trajektori dan target yang ambisius, yang memang dibutuhkan untuk memastikan keselamatan umat manusia. Banyak petunjuk sains soal ini, tidak semata yang terkait dengan emisi gas rumah kaca. Target-target SDGs, misalnya, perlu dianggap serius dalam besaran dan waktu pencapaian, karena itu adalah hasil dari negotiated science. Konsultan keberlanjutan tak boleh membantu kliennya untuk sekadar main gambar tempel dengan menaruh lambang Tujuan SDGs di kegiatan yang sudah ada, dan secara lebih luas tak boleh main-main dengan keselamatan seluruh umat manusia.
Menulis memaksa kita jauh lebih disiplin dalam berpikir, dibandingkan ketika berbicara. Dan tak ada pikiran yang benar soal keberlanjutan kalau tak disandarkan pada sains, dan tak mengakui kompleksitas bahkan sifat wicked dari beragam isunya. Barangsiapa yang bisa menuliskan gagasannya tanpa sugarcoating tetapi berhasil menunjukkan solusi dan peluang yang mungkin diraih, ia bukan saja akan menarik perhatian pembaca, melainkan juga berkontribusi dalam wacana dan praktik yang menyelamatkan kehidupan.
17 Maret 2025; Penerbangan Jakarta – Denpasar 11.22


