Oleh:
Jalal – Chairperson of Advisory Board
Social Investment Indonesia
Kita hidup di era di mana ‘keberlanjutan’ telah menjadi salah satu kata yang paling sering diucapkan di ruang rapat direksi. Namun, ironisnya, itu mungkin juga menjadi kata yang paling sedikit dipahami dengan benak maupun hati. Ada keletihan yang nyata saya bisa saksikan di wajah para eksekutif. Data emisi karbon sudah jelas, grafik kenaikan suhu bumi sudah terpampang bak detak jantung pasien yang kritis, namun kesenjangan antara mengetahui (Open Mind, OM) dan melakukan (Open Will, OW) terasa seperti jurang yang tak terjembatani.
Agaknya, tantangan terbesar buku-buku bisnis modern saat ini bukanlah sekadar memberikan kita lebih banyak statistik yang menakutkan. Kita sudah cukup ketakutan dengan beragam situasi mutakhir. Tantangannya adalah menemukan pustaka yang mampu melakukan trik sulap langka: memuaskan rasa ingin tahu intelektual kita, menyentuh hati (Open Heart, OH) agar kita tidak jatuh pada nihilisme, dan yang terpenting, juga menjadi sebuah dorongan untuk segera setelah meletakkan buku kita mulai mengubah cara bekerja.
OM, OH dan OW adalah istilah yang diperkenalkan oleh guru saya di MIT, Otto Scharmer dalam Teori U-nya yang sangat terkenal. Dia tak bicara soal pustaka, melainkan tentang proses internal para pembawa perubahan sosial yang berhasil. Ketika beberapa tahun yang lampau saya sampaikan kepada dia bahwa saya menilai setiap buku dengan tiga kriteria itu, karena memang saya melihat buku seharusnya adalah alat komunikasi perubahan sosial, dia tertawa dan menyetujui pendapat itu. Jadilah saya terus menggunakannya untuk menilai buku sejak saat itu.
Saya membaca lebih dari seratus judul buku setiap tahunnya. Tak semuanya soal bisnis, keberlanjutan, atau keduanya. Tahun ini saya tak menghitung berapa judul yang saya telah baca, tapi di antara yang ada, saya kemudian mulai memilih 10 yang saya rasakan paling memuaskan kombinasi OM, OH, dan OW-nya. Setelah memutuskan literatur terbaru yang paling otoritatif itu, saya lalu menyusun hierarki di antara mereka. Jelas bukan dari yang terburuk ke terbaik—karena semuanya adalah karya brilian—tetapi mungkin dari yang punya kekuatan spesifik (biasanya di OM), menuju yang paling holistik dan transformatif di mana ketiga kriteria benar-benar terpenuhi.
Inilah urutan perjalanan buku-buku terbaik keberlanjutan bisnis 2025, dari yang berhasil membuka benak dan menimbulkan kegelisahan menuju pencerahan dan urgensi bertindak.
Para Penjaga Kewaspadaan
Di awal daftar ini, saya menaruh buku-buku yang penting, namun fungsinya lebih sebagai alarm kebakaran daripada peta jalan menuju keselamatan kolektif. Mereka semua menggugah pikiran, tetapi mungkin membuat hati berdebar cemas, dan tangan cenderung menjadi lemas.
Di peringkat 10, saya taruh Empire of AI: Dreams and Nightmares in Sam Altman’s OpenAI karya Karen Hao. Hao, adalah salah seorang jurnalis teknologi yang paling tajam di generasinya. Ia membawa kita ke jantung Silicon Valley, tempat di mana masa depan sedang dituliskan kodenya. Mengapa buku ini ada di sini? Karena tidak ada diskusi keberlanjutan bisnis mutakhir yang relevan tanpa membahas Kecerdasan Buatan alias AI. Namun, bagi saya buku ini benar-benar pedang bermata dua. Di satu sisi, benak kita dipuaskan luar biasa dengan pemahaman tentang bagaimana AI melahap energi dan air dalam jumlah masif, serta bias yang tertanam dalam algoritma. Namun, dari sudut pandang hati, buku ini seperti menawarkan peluang mimpi buruk yang setara dengan, bahkan cenderung malah lebih berat daripada, janji-janji indah soal AI. Ia memicu kewaspadaan defensif alih-alih inspirasi untuk bertindak. Ini adalah bacaan wajib untuk memahami medan perang, tetapi jelas bukan buku yang akan membuat Anda merasa bakal selamat keluar dari peperangan itu.
Naik sedikit ke peringkat 9, saya menemukan Science Under Siege: How to Fight the Five Most Powerful Forces That Threaten Our World oleh Michael E. Mann dan Peter Hotez. Dua ilmuwan kelas berat ini—satu di bidang iklim, satu di kesehatan—menulis sebuah manifesto pertahanan. Judulnya saja, yang menggunakan kata Siege (Pengepungan) dan Fight (Lawan), menyiratkan nada buku ini: ini adalah perang. Sama dengan karya Hao barusan. Secara intelektual, buku ini adalah amunisi brilian melawan disinformasi anti-sains. Namun, energi yang dipancarkannya adalah energi konfrontatif. Untuk urusan OW, ia mengajarkan kita cara bertahan dan menyerang balik, bukan cara merangkul atau menyembuhkan. Ini adalah buku bagi mereka yang lelah berdebat dengan penyangkal iklim, sebuah buku taktik untuk prajurit yang merasa harus memenangkan setiap pertempuran berikutnya, atau bakal melihat dunia yang penuh petaka.
Di peringkat 8, saya memilih meletakkan Consumed: How Big Brands Got Us Hooked on Plastic karya Saabira Chaudhuri. Chaudhuri telah melakukan pekerjaan detektif lingkungan yang memukau. Ia membongkar bagaimana para raksasa Fast-Moving Consumer Goods (FMCGs) secara sistematis membuat kita kecanduan pada kenyamanan kemasan sekali pakai. Nilai OM-nya tak terbantahkan. Setelah membacanya, mustahil kita melihat botol atau saset sampo dengan cara yang sama lagi. Namun, buku ini menderita apa yang sering dialami hasil jurnalisme investigatif di bidang lingkungan: ia meninggalkan pembaca dengan perasaan bersalah yang mendalam. OH di sini terhimpit oleh beratnya sampah plastik yang kita turut hasilkan sendiri. Ia menunjukkan masalah dengan sangat jernih, namun solusinya terasa berat di tangan konsumen individual, walaupun ia menunjukkan perusahaan raksasalah biang keladinya.
Para Arsitek Sistem
Bergerak ke papan tengah, saya menemukan buku-buku yang mulai menawarkan diagnosis sistemik yang lebih luas. Mereka tidak hanya menunjuk pada satu masalah (seperti plastik atau AI), tetapi pada sistem operasi, yaitu Kapitalisme itu sendiri.
Di peringkat 7, saya dudukkan Enshittification: Why Everything Suddenly Got Worse and What to Do About It oleh Cory Doctorow. Doctorow, dengan gaya prosanya yang khas—campuran antara aktivis siber dan filsuf punk—menciptakan istilah enshittification untuk menjelaskan pembusukan platform digital. Ini adalah analisis OM yang brilian tentang bagaimana monopoli akhirnya membunuh kualitas demi laba. Buku ini menawarkan jalan keluar (OW) utamanya dalam bentuk regulasi, namun emosi dominannya adalah kemarahan, yang jelas valid. Doctorow jelas ingin pembacanya juga marah, dan kemarahan adalah bahan bakar yang kuat, tetapi sayangnya cepat habis. Buku ini penting untuk memahami mengapa segalanya terasa cepat rusak dan semakin rusak, namun mungkin kurang memberikan visi bagaimana membangun kembali dengan penuh kasih.
Di peringkat 6, saya kemudian menaruh A Concise Business Guide to Climate Change: What Managers, Executives, and Students Need to Know karya J. Gunnar Trumbull. Sekitar satu dekade lalu saya bertemu dengan dia, dan menyarankan agar kuliahnya soal bisnis dan iklim di Universitas Harvard bisa dibukukan. Saya sangat gembira akhirnya melihat karya ini terbit. Jika daftar ini adalah menu makan malam di restoran fine dining (saya ingat tempat waktu kami berbincang), buku Trumbull adalah sayuran hijaunya: sangat sehat, sangat penting, namun mungkin bukan alasan utama untuk datang ke restoran. Ini adalah panduan taktis yang luar biasa. Trumbull, berhasil memadatkan kompleksitas sains iklim ke dalam bahasa yang dimengerti oleh para CFO. OW di sini sangat tinggi, terutama dalam hal teknis—apa yang harus diukur, apa yang harus dilaporkan. Namun, sifat bukunya yang ringkas dan pragmatis berarti ia kurang memiliki narasi emosional, OH, yang membuat pembaca jatuh cinta pada misi penyelamatan Bumi. Ini adalah jenis buku untuk diletakkan di meja kerja, dibaca mana kala butuh daftar periksa, namun bukan diletakkan di nakas sebelah tempat tidur.
Masuk ke peringkat 5, saya pilihkan Terrible Beauty: Reckoning with Climate Complicity and Rediscovering Our Soul oleh Auden Schendler. Di sinilah nada mulai berubah. Schendler adalah orang dalam korporasi. Ia adalah VP keberlanjutan di Aspen Skiing Company yang berani bicara blak-blakan. Ia berbicara tentang keterlibatan kita semua membuat Bumi jadi centang perenang. Buku ini sangat kuat di urusan OH karena kejujurannya yang brutal tentang kegagalan inisiatif keberlanjutan perusahaan yang kebanyakannya memang dangkal. Ia mengajak kita menemukan kembali jiwa kita. Namun, proses reckoning atau perhitungan dosa ini bisa terasa menyakitkan. Ini adalah buku transisi yang sempurna: menghancurkan ilusi lama, sebelum kita bisa membangun yang baru. Menurut Scharmer, hanya bila kita bisa letting go saja maka kita bisa optimal dalam letting come.
Di peringkat 4, saya taruh kitab Business School and the Noble Purpose of the Market karya Andrew Hoffman. Hoffman juga adalah figur yang saya kenal sejak lama. Kami pernah menulis 2 artikel opini bersama yang inti pemikirannya masuk ke salah satu bukunya yang terbit beberapa tahun lampau. Di buku terbarunya ini ia mengajukan tesis yang provokatif: jika kita ingin memerbaiki bisnis, kita harus memerbaiki tempat di mana para pebisnis dicetak. Ia menyerang doktrin primasi pemegang saham langsung ke jantung akademisnya, yaitu sekolah-sekolah bisnis. Ini adalah OM tingkat dewa—dan ia memang adalah salah satu dewa dalam pendidikan bisnis, yang tahun ini dinyatakan sebagai profesor bisnis terbaik di dunia. Bagi siapa pun yang pernah merasa ada yang salah dengan kurikulum MBA mereka, buku ini adalah validasi yang ‘melegakan’. OW-nya tertuju pada reformasi pendidikan dan pemikiran manajemen. Namun, ia tak bisa masuk ke tiga besar hanya karena nadanya yang sedikit terlampau akademis dibandingkan tiga buku berikutnya yang lebih mudah diakses dan memang lebih berimbang dalam ketiga kriteria.
Para Alkemis Perubahan
Kini kita tiba di puncak. Para penulis ketiga buku ini adalah alkemis; mereka berhasil mengubah data yang seperti mineral kering menjadi kilauan emas inspirasi. Mereka menyeimbangkan kecerdasan, emosi, dan tindakan dengan harmoni yang nyaris sempurna.
Di peringkat 3, ada karya legenda hidup di kalangan aktivis lingkungan Bill McKibben, Here Comes the Sun: A Last Chance for the Climate and a Fresh Chance for Civilization. McKibben telah menulis tentang iklim lebih lama dari siapa pun yang kini aktif di topik ini, dan biasanya berisi peringatan yang sangar. Namun alih-alih sangar, bukunya kali ini terasa segar. Ia tidak lagi sekadar berteriak tentang kiamat; ia menunjuk ke arah fajar keselamatan. OM di sini dipenuhi dengan perkembangan teknologi energi terbarukan yang menakjubkan. Namun, keunggulan utama buku ini adalah pada OH. McKibben membingkai transisi energi bukan sebagai pengorbanan, melainkan sebagai peluang yang benar-benar segar bagi peradaban baru. Ia membuat kita ingin hidup di masa depan yang ia gambarkan. OW-nya pun sedemikian jelas: pasang panel surya, dukung kebijakan hijau, dan sambut mentari pagi peradaban baru. Efek membaca buku ini sama dengan mendengarkan lagu legendaris The Beatles yang ia pinjam untuk judul.
Di peringkat 2, saya mau merayakan Beyond Profit: Purpose-Driven Leadership for a Wellbeing Economy karya bersama Victoria Hurth, Ben Renshaw, dan Lorenzo Fioramonti. Bagi siapapun yang ingin mencari buku panduan atau manual untuk menjadi CEO yang benar-benar kompatibel dengan masa depan, inilah bukunya. Ketiga penulis ini menggabungkan ekonomi makro (Fioramonti), strategi bisnis (Hurth), dan kepemimpinan (Renshaw). Mereka menawarkan kerangka kerja Ekonomi Kesejahteraan yang menggusur dan menggantikan obsesi patologis kita terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Benak kita terbuka lebar dengan logika ekonomi baru. Hati disentuh melalui fokus pada tujuan luhur (purpose) perusahaan yang autentik. Dan, tangan kita dituntun dengan panduan langkah demi langkah tentang bagaimana mentransformasi organisasi dari sekadar mesin pencetak uang menjadi organ vital untuk masyarakat dan Bumi yang sehat. Ini adalah cetak biru intelektual dalam pengertian yang paling lengkap.
Dan akhirnya, di peringkat 1, buku yang berdiri sendirian di kelasnya: Dirtbag Billionaire: How Yvon Chouinard Built Patagonia, Made a Fortune, and Gave It All Away yang ditulis jurnalis bisnis jempolan, David Gelles. Mengapa buku ini pantas menjadi juara? Karena dalam dunia yang penuh dengan teori, Yvon Chouinard adalah bukti empiris. Gelles, jurnalis The New York Times, tidak hanya menulis biografi; ia menulis hagiografi sekular tentang seorang pria yang menolak disebut pebisnis, namun menjadi pebisnis terbaik di antara semuanya.
Dari sisi OM, buku ini mengajarkan kita bahwa model bisnis yang menghargai kualitas di atas kuantitas, dan memerbaiki barang alih-alih membuangnya, adalah strategi yang menguntungkan secara finansial. Ini mematahkan mitos bahwa keberlanjutan adalah beban biaya. Dari sisi OH, kisah Chouinard—seorang pemanjat tebing pemarah yang lebih suka tidur di bawah bintang daripada di hotel bintang lima—sangatlah manusiawi. Kita tidak hanya bakal mengaguminya, melainkan juga merasakan koneksi emosional dengan filosofinya. Keputusannya untuk mendonasikan seluruh kepemilikannya di Patagonia kepada perwalian Bumi adalah klimaks emosional yang jarang ditemukan dalam buku bisnis.
Dan yang terpenting, OW. Tindakan Chouinard menantang setiap pembaca, dari manajer perusahaan kecil hingga CEO Fortune 500, dengan pertanyaan yang mengganggu namun penting: “Jika dia bisa memberikan semuanya, apa langkah berani yang bisa saya ambil?” Buku ini tidak hanya memberi tahu kita bahwa jalan itu ada; ia menunjukkan seseorang telah berjalan di sana dan kembali dengan selamat, menjadi pebisnis yang paripurna, dengan segala kekuarangan manusiawinya. Inilah kombinasi optimal itu, menurut hemat saya. Sebuah buku yang membuat benak kita dipenuhi pengetahuan, hati kita bergetar, dan tangan kita gatal untuk mulai bekerja. Di tengah kebisingan zaman ini, Dirtbag Billionaire adalah sinyal paling jernih bahwa bisnis bisa menjadi kekuatan untuk kebaikan, bukan sekadar mesin ekstraksi.

Pelajaran dari Sepuluh Kitab
Fitur yang paling mengganggu dari karya-karya ini bukanlah bahwa mereka mengungkap kejahatan korporasi—kita sudah lama tahu bahwa perusahaan cenderung bertindak rakus bila tanpa kendali—melainkan bahwa mereka mengungkap sesuatu yang lebih fundamental: sistem itu sendiri telah dirancang untuk menghasilkan kehancuran yang kini kita saksikan. Saabira Chaudhuri menunjukkan bahwa epidemi plastik global bukanlah hasil dari permintaan konsumen yang organik, melainkan kampanye rekayasa perilaku yang disengaja oleh perusahaan multinasional. Cory Doctorow memberikan nama untuk fenomena yang kita semua rasakan: bagaimana setiap platform digital yang kita cintai secara sistematis berubah menjadi mesin ekstraksi nilai yang mencekik penggunanya. Karen Hao mengungkap bahwa bahkan teknologi paling canggih kita dibangun di atas eksploitasi buruh tersembunyi dan ekstraksi sumberdaya yang luar biasa massif.
Namun, yang membuat kumpulan pustaka ini lebih dari sekadar katalog pemikiran menuju kiamat adalah pengakuan jujur dari para praktisi di dalamnya. Auden Schendler, setelah 25 tahun memimpin keberlanjutan di perusahaan terkemuka, mengaku bahwa sebagian besar gerakan keberlanjutan perusahaan sebenarnya masih lebih mirip glorified greenwashing sehingga tidak akan pernah menyelesaikan masalah sistemik seperti krisis iklim. Andrew Hoffman, profesor di sekolah bisnis terkemuka, menyatakan bahwa institusi pendidikan bisnis telah mengkhianati misi mereka dengan terus mengajarkan teori-teori usang yang memerlakukan kehancuran lingkungan dan ketimpangan sosial sebagai ‘eksternalitas’ yang dapat diterima.
Kesimpulan yang muncul dari karya-karya ini bukanlah nihilisme, melainkan kejelasan yang benar-benar brutal, yaitu bahwa solusi inkremental—daur ulang individu, efisiensi operasional, komitmen net-zero tanpa perubahan model bisnis—adalah strategi penundaan yang dirancang dengan rapi untuk melindungi status quo. Michael Mann dan Peter Hotez mendokumentasikan bagaimana industri fosil telah membangun infrastruktur disinformasi yang kini digunakan untuk menyerang sains di berbagai domain. Bill McKibben menawarkan harapan dalam bentuk fakta ekonomi: energi terbarukan kini lebih murah daripada fosil, dan transisi sedang terjadi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya—namun ia khawatir itu belum cukup cepat untuk menghindari bencana. Dan, Gunnar Trumbull menegaskan bahwa literasi iklim kini sama pentingnya dengan literasi keuangan bagi pemimpin bisnis. Namun literasi saja tidak cukup tanpa keberanian untuk menantang asumsi fundamental tentang tujuan korporasi dalam masyarakat.
Yang paling menarik adalah model alternatif yang mereka tawarkan. Vicoria Hurth dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa perusahaan mungkin, bisa, dan perlu untuk menyatukan diri dalam gerakan mewujudkan Ekonomi Kesejahteraan, yang tak memisahkan kesehatan perusahaan, dengan kesehatan masyarakat dan kesehatan Bumi. David Gelles mendokumentasikan bagaimana Yvon Chouinard membangun Patagonia menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar sambil memertahankan integritas lingkungan, kemudian memberikan seluruh kepemilikannya untuk aktivisme regenerasi Bumi. Apa yang mengikat semua karya ini adalah pengakuan bahwa perubahan sejati memerlukan lebih dari niat baik atau kepemimpinan visioner—ia memerlukan transformasi struktural dalam kepemilikan, tata kelola, pendidikan, dan regulasi.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi perusahaan dan pemangku kepentingannya di Indonesia, sepuluh buku ini menawarkan peringatan sekaligus peta jalan yang sangat relevan. Indonesia tidak perlu mengulangi kesalahan Kapitalisme yang terjadi di Barat. Kita memiliki kesempatan langka untuk melompati model usang dan langsung membangun arsitektur ekonomi yang lebih adil dan regeneratif. Bagaimana caranya? Dari buku-buku itu, yang segera terpikirkan oleh saya adalah hal-hal sebagai berikut:
Pertama, perusahaan Indonesia harus menolak godaan untuk sekadar mengimpor tanpa kontekstualisasi praktik keberlanjutan perusahaan gaya Barat yang telah terbukti gagal. Alih-alih membeli kredit karbon atau menerbitkan laporan ESG yang rumit namun kosong, para pemimpin bisnis perlu bertanya: Apakah struktur kepemilikan kami memungkinkan pengambilan keputusan jangka panjang? Apakah model bisnis kami secara inheren regeneratif terhadap tenaga kerja, masyarakat dan lingkungan?
Kedua, Indonesia memiliki keunggulan geografis dalam revolusi energi surya yang didokumentasikan McKibben. Investasi dalam energi terbarukan bukan hanya masalah lingkungan—ini adalah peluang ekonomi generasional. Pemerintah dan sektor swasta harus berkolaborasi untuk memercepat transisi, bukan melindungi kepentingan fosil yang sudah ketinggalan zaman.
Ketiga, sekolah bisnis Indonesia harus segera merombak kurikulum mereka sesuai usulan Hoffman—bukan sekadar menambahkan satu atau dua mata kuliah terkait keberlanjutan dan tetap mengajarkan paradigma bisnis yang usang. Mahasiswa tidak boleh lagi diajar bahwa maksimalisasi pemegang saham adalah tujuan perusahaan yang sah. Mereka harus memahami ekonomi kesejahteraan, batas-batas planet, dan tanggung jawab sosial perusahaan dalam makna yang sesungguhnya.
Keempat, Indonesia perlu membangun koalisi lintas sektor—bisnis, pemerintah, masyarakat sipil, akademisi—untuk melawan disinformasi dan memerkuat literasi sains lingkungan dan sosial. Seperti yang ditunjukkan Mann dan Hotez, serangan terhadap kebenaran ilmiah adalah ancaman eksistensial yang benar-benar memerlukan respons yang terkoordinasi.
Akhirnya, Indonesia harus mengakui bahwa ia memiliki modal budaya yang kuat: tradisi gotong royong, sistem nilai yang menekankan harmoni komunal, dan pemahaman intuitif tentang interkoneksi antara manusia dan alam. Alih-alih mengabaikan warisan ini demi mengejar keuntungan dalam model Kapitalisme ekstraktif, Indonesia dapat menjadi laboratorium global untuk ekonomi kesejahteraan yang berakar pada kebijaksanaan lokal sambil memanfaatkan teknologi terbaik abad ke-21.
Saya menuliskan esai dengan harapan menjadi bagian yang mengisi benak. Merasakan urgensinya adalah langkah kita membuka hati. Namun, merentangkan tangan baru terjadi ketika kita benar-benar bekerja mewujudkan keberlanjutan. Dan saya berharap itu bisa segera diwujudkan segera setelah huruf terakhir tulisan ini terbaca.
Depok, 26 Desember 2025


