Oleh: Jalal
Chairperson of Advisory Board – Social Investment Indonesia
Keberlanjutan laut bukan sekadar wacana ilmiah, melainkan panggilan kolektif untuk bertindak. Pada Jumat, 17 Januari 2025, Social Investment Research Dialogue (SIRD) ke-72 sukses digelar dengan tema “Adapting Blue Economy Innovations to Local Contexts”. Acara yang diselenggarakan oleh Social Investment Indonesia ini menghadirkan diskusi mendalam seputar adaptasi inovasi ekonomi biru dalam konteks lokal, termasuk resensi buku terbaru berjudul “Exploring the Blue Bioeconomy: Marine Bioresources and Sustainable Applications” karya Dr. K.K. Asanka Sanjeewa. Buku ini menjadi sorotan utama karena menyajikan analisis komprehensif tentang pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global, khususnya di negara kepulauan seperti Indonesia. Jalal, selaku pemantik dialog, menekankan bahwa setiap inovasi dalam buku “Exploring the Blue Bioeconomy” harus dibaca sebagai surat cinta kepada generasi mendatang. “Laut kita adalah bank genetik terbesar di dunia. Jika kita gagal mengelolanya hari ini, kita bukan hanya kehilangan sumber daya, tetapi juga memutus mata rantai kehidupan,” ujarnya dengan nada menggelegar. Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi dan potensi industri, ada nyawa ekosistem yang bernapas, masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup, dan warisan budaya yang terancam punah.
Ketegangan antara Ekstraksi dan Konservasi: Kisah dari Pesisir Indonesia
Di sebuah desa di Kepulauan Kei, Maluku, nelayan tradisional telah menggunakan sistem sasi—kearifan lokal yang mengatur periode panen laut untuk memastikan regenerasi biota. Praktik ini selaras dengan prinsip ekonomi sirkular yang diusung Sanjeewa, di mana laut tidak dieksploitasi, tetapi “dipinjam” dengan syarat dikembalikan dalam kondisi lebih baik. Sayangnya, tekanan industri modern seringkali menggerus tradisi semacam ini. Tambang nikel laut di perairan Sulawesi, misalnya, meski menjanjikan devisa, meninggalkan jejak sedimentasi yang mematikan terumbu karang. Buku ini mengingatkan: tanpa integrasi antara kebijakan berbasis sains dan kearifan lokal, upaya menyeimbangkan ekstraksi dan konservasi hanya akan menjadi ilusi.
Menguak Kekayaan Laut melalui Lensa Bioekonomi Biru
Buku setebal 144 halaman ini membawa pembaca menyelami potensi tak terbatas dari ekosistem laut. Dr. Sanjeewa, yang memiliki latar belakang akademis di bidang pertanian dan ilmu kehidupan laut, menggali bagaimana bioteknologi kelautan dapat menjadi motor penggerak ekonomi sirkular. Ia mengklasifikasikan bioteknologi berdasarkan warna—merah (medis), hijau (pertanian), putih (industri), dan biru (laut)—untuk memetakan aplikasi sumber daya hayati laut di berbagai sektor. Misalnya, industri perikanan tidak hanya menjadi penyedia pangan, tetapi juga pencipta lapangan kerja dan pendorong ekonomi lokal. Sementara itu, bioprospeksi laut menawarkan senyawa bioaktif yang berguna untuk farmasi, kosmetik, dan makanan fungsional.
Bab-bab selanjutnya mengupas secara detail peran organisme laut seperti rumput laut, bakteri, jamur, mikroalga, dan nematoda. Rumput laut, misalnya, tidak hanya menjadi penjaga ekosistem pesisir, tetapi juga sumber polisakarida dan phlorotannin yang digunakan dalam industri kosmetik dan nutraseutikal. Namun, tantangan seperti pencemaran logam berat dan biaya produksi tinggi masih menjadi penghambat. Di sisi lain, bakteri laut dan sianobakteri menawarkan solusi bioremediasi untuk membersihkan lingkungan tercemar, sekaligus menjadi sumber senyawa antikanker dan antimikroba. Mikroalga bahkan diproyeksikan sebagai alternatif biofuel yang menjanjikan, meski teknik budidaya dan pemanenannya masih perlu dioptimalkan.
Dari Laboratorium ke Aplikasi Industri: Menghubungkan Sains dengan Praktik
Salah satu keunggulan buku ini adalah kemampuannya menjembatani riset akademis dengan aplikasi industri. Dr. Sanjeewa tidak hanya memaparkan temuan laboratorium, tetapi juga menyoroti langkah-langkah konkret untuk mengonversi sumber daya laut menjadi produk bernilai tambah. Misalnya, mikroalga melalui proses dewatering, pengeringan, dan ekstraksi dapat diolah menjadi makanan fungsional, kosmetik, atau bahan bakar terbarukan. Prinsip ekonomi sirkular juga ditekankan, seperti upaya daur ulang limbah laut menjadi produk baru atau pemanfaatan produk sampingan perikanan untuk produksi gelatin.
Bab tentang “Aplikasi Sumberdaya Hayati Laut” memperluas perspektif pembaca dengan contoh nyata. Pupuk berbasis tanaman laut mampu mengurangi stres salinitas tanah, sementara senyawa bioaktif dari organisme laut menjadi bahan dasar suplemen kesehatan dan produk kecantikan. Namun, Sanjeewa tidak mengabaikan tantangan lingkungan. Ia mengkritisi praktik pertambangan laut yang berisiko merusak ekosistem, sekaligus menawarkan solusi melalui pengelolaan limbah plastik dan rantai pasokan sirkular.
Bayangkan seorang ibu di pesisir Jawa Barat yang sebelumnya hanya menjual rumput laut mentah, kini mampu memproduksi masker wajah berbasis ekstrak Eucheuma cottonii berkat pelatihan bioteknologi sederhana. Atau nelayan di Lombok yang limbah ikannya diolah menjadi gelatin untuk kapsul obat, meningkatkan pendapatan hingga 300%. Kisah-kisah ini bukan utopia—melainkan potensi nyata yang bisa diwujudkan jika riset tentang senyawa bioaktif laut di buku Sanjeewa diterjemahkan menjadi program pemberdayaan. Namun, jalan menuju sana masih terhalang minimnya akses teknologi tepat guna dan pendampingan berkelanjutan. Di sinilah peran social investment menjadi krusial: mendanai inovasi yang tidak hanya high-tech, tetapi juga high-touch—menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Plastik dan Harapan: Bioremediasi sebagai Solusi yang Menanti Political Will
Setiap tahun, 600.000 ton sampah plastik Indonesia berakhir di laut. Gambaran buram ini dijawab buku Sanjeewa dengan bab tentang jamur laut yang mampu mendegradasi mikroplastik. Di laboratorium Universitas Padjadjaran, riset serupa telah membuahkan hasil: jamur Aspergillus flavus berhasil mengurangi 40% mikroplastik dalam sedimen laut selama 30 hari. Namun, temuan ini masih terkurung di jurnal akademis. Peserta SIRD #72 mendesak agar pemerintah memasukkan bioremediasi berbasis organisme laut ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). “Ini bukan lagi soal teknologi, tapi keberanian politik,” tegas Dina Kosasih dari Petair Lecturi.
Relevansi Bioekonomi Biru bagi Indonesia: Ketika Perempuan Pesisir Menjadi Agen Perubahan
Di Kabupaten Pandeglang, sekelompok perempuan pesisir membangun koperasi rumput laut yang mengintegrasikan budidaya berkelanjutan dengan ekowisata. Mereka tidak hanya menjual produk mentah, tetapi juga menyajikan cerita tentang bagaimana rumput laut menyelamatkan mangrove dari abrasi. Inisiatif seperti ini adalah contoh nyata ekonomi biru inklusif yang mengangkat martabat komunitas. Sayangnya, buku Sanjeewa belum menyentuh secara mendalam peran gender dalam pengelolaan laut. Padahal, di banyak wilayah pesisir Indonesia, perempuan adalah penjaga tradisi dan inovator lokal yang justru bisa menjadi ujung tombak transformasi ekonomi biru.
Sebagai negara maritim dengan 17.000 pulau, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam ekonomi biru global. Buku ini menegaskan bahwa sektor perikanan, pariwisata bahari, dan energi terbarukan laut bisa menjadi pilar pembangunan berkelanjutan. Misalnya, energi angin lepas pantai atau biomassa laut dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sementara ekowisata berbasis konservasi mamalia laut mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.
Namun, Sanjeewa juga mengingatkan bahwa potensi ini harus diimbangi dengan kebijakan inklusif. Masyarakat pesisir, sebagai garda terdepan pelestarian laut, perlu dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Sayangnya, buku ini dinilai masih kurang mengangkat tantangan spesifik negara berkembang seperti keterbatasan teknologi, pendanaan, dan regulasi. Padahal, isu-isu seperti ini krusial bagi Indonesia yang masih bergulat dengan praktik penangkapan ikan berlebihan dan alih fungsi kawasan pesisir.
Kritik dan Harapan untuk Edisi Mendatang
Meski komprehensif, buku ini mendapat catatan dari para pembahas dalam SIRD #72. Kekuatan utamanya terletak pada pendekatan multidisiplin yang menggabungkan sains, ekonomi, dan kebijakan. Analisis tentang prinsip ekonomi sirkular dan bioteknologi berkelanjutan menjadi panduan berharga bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan pelaku industri. Namun, aspek sosial-budaya masyarakat pesisir kurang mendapat porsi. Padahal, keberhasilan bioekonomi biru bergantung pada kearifan lokal dan partisipasi komunitas.
Selain itu, meski buku ini menyajikan roadmap ekonomi biru untuk Indonesia, adaptasi inovasi global ke konteks lokal masih terasa “top-down”. Misalnya, solusi bioremediasi jamur laut mungkin efektif di laboratorium Korea Selatan, tetapi belum tentu feasible di desa pesisir Indonesia yang minim infrastruktur. Para peserta SIRD #72 menyarankan agar edisi mendatang menyertakan studi kasus dari negara kepulauan serta strategi pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan lokal.
Penutup: Laut sebagai Masa Depan Berkelanjutan
Buku “Exploring the Blue Bioeconomy” layak menjadi referensi wajib bagi siapa pun yang tertarik menggali potensi laut secara bertanggung jawab. Melalui narasi yang padat data dan visioner, Dr. Sanjeewa mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat laut sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai ekosistem yang perlu dijaga keberlanjutannya. Bagi Indonesia, momentum ini harus dimanfaatkan untuk merancang kebijakan holistik yang mengintegrasikan sains, ekonomi, dan partisipasi masyarakat.
Bagi Indonesia, momentum ekonomi biru adalah kesempatan emas untuk beralih dari narasi “negara maritim yang terlupakan” menjadi pelopor global dalam pembangunan berkelanjutan. Namun, ini hanya mungkin tercapai jika kita berani menempatkan manusia dan ekosistem di jantung kebijakan. Seperti gema yang disampaikan Jalal di akhir SIRD #72: “Laut telah memberi kita segalanya. Kini, saatnya kita membalas dengan tindakan nyata.”











